
Aku masih menunggu kapan cinta ini akan lenyap dikunyah masa. Panji masih tiada hentinya membayangi. Lagi-lagi aku sendiri. Ditinggal pergi. Kesalahannya bertahun-tahun lalu, kini terulang kembali.
Dhea sudah memutuskan setelah berpikir semalaman. Dia tidak akan menempatkan dirinya menjadi orang yang berhak mendapatkan perasaan Panji kembali. Panji sudah beristri.
Namun, sebenarnya. Tanpa Dhea menjaga jarak pun Panji sudah pergi. Sudah beberapa hari setelah pertemuan terakhir mereka. Setelah peristiwa dramatis di rooftop rumah sakit. Setelah itu semua, keduanya benar-benar selesai. Panji tak ada tanda-tanda menghubunginya.
Haruskah Dhea kembali membangun dinding yang tinggi untuk Panji? Berhasilkah? Jangan-jangan satu pelukan Panji kembali berhasil merobohkannya seperti hari lalu?
'Sedang apa Panji sekarang? Sedang makan malam bersama istrinya? Atau bersiap melewati malam mendebarkan berdua?' tanya Dhea dalam hati.
"Eegghhhmm!" Luna berdehem mencoba menyadarkan Dhea dari lamunannya. Tak berhasil. "Dhe, mikir apa?"
"Panji." Dhea menjawab dengan tatapan kosong. Ia setengah sadar.
"Siapa?" tegas Luna seolah tak percaya. Bagaimana bisa Dhea yang sebelumnya yakin untuk menghindari Panji, sekarang kembali berakhir dengan memikirkannya?
"Eh .... apa, Kak?" Dhea yang tersadar menjadi gugup bukan main.
"Seatbelt-mu." Luna memberi petunjuk dengan tatapannya. Terlalu sibuk melamun sampai-sampai Dhea lupa memasang seatbelt-nya. Luna menginjak pedal gas mobilnya dan melaju meninggalkan basemen rumah sakit. "Dhea .... "
"Iya, Kak?" Dhea menoleh ke Luna yang masih fokus di balik kemudiannya.
"Kamu tahu keadaanku dengan Mas Fahri?"
"Hmmm .... " Dhea hanya bergumam karena sudah menduga akan kemana arah bicara Luna.
"Hapus Panji. Bagaimana pun dia sudah milik istrinya. Aku tahu dia dulu milikmu tapi tidak sekarang. Sekarang istrinya lebih berhak atas Panji. Kalau kamu menggoda milik orang .... "
"Milik?" potong Dhea.
__ADS_1
"Kamu nggak mau dengerin aku sampai selesai?" Luna sedikit kesal.
"Kak Luna menyamakan aku dengan wanita yang mendekati suamimu? Serendah itu?" Dhea langsung ke inti pembicaraan Luna sebelumnya.
"Iya!" jawab Luna tegas. Wanita itu memang anti basa-basi apalagi menutup-nutupi. Ia selalu bicara fakta alias apa adanya.
"Kak Luna .... "
"Kenapa? kamu nggak terima?" tantang Luna. "Dhea, orang-orang di luar sana tidak akan mempertimbangkan posisimu dan alasanmu. Mereka hanya akan melihat fakta bahwa kamu mendekati suami orang. Kamu menjadi orang ketiga." Luna mencoba menjelaskan.
"Iya .... "
"Dan istri Panji akan tetap menjadi korban di mata orang-orang."
"Apa aku nggak boleh cuma sekedar memikirkan lelaki itu?"
"Kami bukan hanya memikirkannya. Kamu merindukannya! Mau tahu kalau itu terus berlanjut?" Luna hampir meledakkan amarahnya di dalam mobil yang masih melaju.
"Lama-lama kamu akan menginginkannya. Setiap ada kesempatan, bisa saja kamu menggodanya .... "
"Kak Luna!" Dhea meninggikan suaranya.
"Jangan bentak Kakak." Intonasi suara Luna lebih tinggi dari Dhea.
Dhea dan Luna baru sekitar lima tahun saling kenal. Kedekatan mereka mulai terjalin tiga tahun belakangan. Semua terjadi begitu saja. Tanpa sengaja.
Flashback On
Setiap pasang mata yang ada di sekitar Luna dan Sintia memasang sorot penuh perhatian. Mungkin lebih mirip dengan istilah kepo. Untunglah mereka bukan artis atau pejabat yang terkenal. Mungkin saja besok pagi akan muncul berita terhangat dengan tagline yang menarik banyak pembaca.
__ADS_1
Luna seorang dokter muda sedang melabrak wanita yang merebut suaminya. Fahri, seorang pengusaha muda tertangkap basah tengah selingkuh. Yang paling hebat, Sintia model pendatang baru ternyata adalah orang ketiga di rumah tangga Luna dan Fahri.
"Semua tetap salah istri kalau sampai suami cari yang lain. Siapa suruh jadi dokter sok sibuk. Sampai nggak ada waktu buat suami." Sintia bicara santai dengan menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya.
"Tutup mulutmu!" sahut Luna dengan sorot mata tak biasa. Baginya, Sintia adalah wanita tidak tahu diri. Cuma dia yang terang-terangan menggoda suami orang dan berani berkata tak sopan pada istrinya.
"Kenapa? Tidak terima?" Sintia masih sempat meneguk orange juice pesanannya.
"Diam. Aku nggak ada waktu meladeni wanita murahan sepertimu. Jauhi Mas Fahri." Luna hendak bergegas meninggalkan tempat duduknya segera.
"Apa katamu?" Sintia menahan tangan kanan Luna lalu melayangkan sisa orange juice yang sebelumnya ia minum tepat mengenai wajah Luna. "Kamu yang harus tutup mulut!"
Luna kaget tak menyangka wajahnya akan dihujani dengan dinginnya orange juice di siang bolong seperti ini. Ia mematung, tak bereaksi. Apa yang harus dia lakukan?
Dari kejauhan. Secara kebetulan di meja paling pojok kafe, Dhea memperhatikan apa yang terjadi. Melihat Luna, kenalannya tak bereaksi membuatnya geram sendiri. Dhea benci orang ketiga. Terlebih, perusak hubungan orang yang ia kenal.
Dhea mengambil gelas minumannya yang masih belum berkurang. Ia mempercepat langkahnya sebelum Sintia menyadari kalau ada orang yang akan segera menyerangnya.
Dhea berlenggang melewati meja Luna. "Aku minta minumannya ya, Dok," ucap Dhea pada Luna yang masih membeku. Ia mengambil satu gelas minuman Luna. Kini tangannya sibuk dengan dua gelas yang penuh terisi minuman.
Sesampainya di depan pintu keluar kafe. Tanpa berpikir panjang, dua gelas minuman di tangan Dhea itu langsung membasahi semua rambut Sintia. Mengalir dari atas kepala hingga ke sekujur tubuhnya.
"Aku hanya membalas ketidak sopananmu!" ucap Dhea yang langsung berbalik untuk meletakkan gelas-gelas di tangannya ke atas meja kafe. Dhea lalu menarik tangan Luna. Keduanya langsung keluar dari kafe bersama. Mereka meninggalkan Sintia yang masih bengong seperti sapi ompong.
Flashback End
Dhea nyengir mengingat asal mula kedekatannya bersama Luna dulu. "Aku benci banget sama orang ketiga. Sekarang Kak Luna bicara ke aku seolah-olah aku udah jadi orang ketiga."
"Aku bicara untuk memperingatkanmu. Jangan sampai kamu jadi orang ketiga," timpal Luna.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....