
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Panji memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka sudah keluar dari area rumah sakit.
"Jadi kenapa meneleponku?" tanya Panji tanpa melihat Dhea.
Dhea menengok. Ia terpaku menatapi sisi kanan wajah Panji. Panji tak berubah. Ia tetap menawan seperti dulu. Kening persegi, alis hitam lurus, mata tajam, hidung mancung, dan rahang kokoh. Ah memang tak ada seorang pun yang mampu menampik pesona lelaki ini.
"Dhea?" Panji kembali bersuara karena tak juga mendapatkan jawaban.
"Ah iya?" Dhea menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa malah jadi menggeleng gitu?"
"Tadi tanya apa?" Dhea berbalik, kembali menatap hamparan jalan di depannya.
"Kenapa meneleponku?" ulang Panji sabar.
"Kamu, kenapa mencariku ke rumah sakit?" Dhea menimpali pertanyaan Panji dengan pertanyaan lain.
Panji tak menjawab. Matanya pun masih fokus ke jalan raya. Namun, satu tangannya berpindah. Ia menggenggam tangan Dhea dan menguncinya. Seketika itu, Dhea dapat merasakan hangat tangan Panji mengaliri sekujur tubuhnya.
"Aku mau pamer kalau bisa mengemudi pakai satu tangan," ucap Panji bergurau.
"Kalau udah selesai pamernya, cepet lepasin tanganku."
"Aku bisa pamer seharian ke kamu. Titip dulu satu tanganku. Jangan kamu lepas." Panji sejenak menoleh dan tersenyum.
Oh tidak. Sejak kapan Panji seperti itu? Ia benar-benar kembali ke masa lalu. Masa di mana candaan dan rayuannya selalu menghujani Dhea.
"Hari ini aku inget kamu," ucap Dhea tiba-tiba.
__ADS_1
"Kemarin enggak?" todong Panji.
"Kemarin iya!"
Panji langsung menoleh. Rasanya ingin sekali menghentikan mobil itu untuk bisa memandangi wajah Dhea seharian ini. Ah sayang sekali mereka sedang di tengah jalan.
"Kenapa kemarin tidak meneleponku?" Panji penasaran dan penuh harap.
"Hari Minggu," jawab Dhea.
"Ada apa dengan Minggu?"
"Kamu di rumah .... bersama istrimu."
"Kamu cemburu?"
"Aku takut!" sergah Dhea jujur.
"Apa aku berhak?"
"Kalau nggak cemburu berarti kamu nggak punya perasaan." Panji mempererat genggaman tangannya. Itu genggaman tangan ke tiganya bersama Dhea.
Tiba-tiba Dhea menyerang punggung tangan Panji dengan santunan tangannya yang lain. Kini tangan kiri Panji berada dalam kuasa kedua tangan Dhea.
Panji menoleh, lagi-lagi tak bisa lama. "Kenapa?"
"Aku boleh cemburu?" tanya Dhea datar.
"Boleh!" Panji menjawabnya serius tanpa berpikir panjang.
"Boleh marah? boleh merajuk?"
__ADS_1
"Boleh!"
"Boleh menuntut waktumu?"
"Kamu bisa menuntut?" Panji tersenyum meragukan. "Boleh, Dhea." Namun, jawabannya tetap serius.
"Tapi aku nggak mau."
"Kenapa?"
"Aku nggak akan bikin pusing kamu. Apalagi nyusahin kamu dengan ulah-ulah seperti itu."
"Aku izinin kamu buat bikin aku pusing." Panji lagi-lagi tersenyum.
"Aku malu sama umur." Dhea tersenyum tawar.
"Kalau gitu aku anggap aja kamu umur belasan tahun. Biar nggak mau lagi."
"Jangan bikin aku tambah malu." Dhea melemparkan tangan Panji hingga genggaman mereka terlepas. "Kita udah tua," imbuhnya.
Panji terkejut lalu meledakkan tawa. Baru kali ini ia tertawa seperti itu. Selama ini .... Ah entahlah. Panji sempat lupa caranya tertawa.
"Jangan begitu," ucap Panji yang masih berusaha menahan tawanya. Ia kembali meraih tangan Dhea dan mengulangi genggamannya. Panji terus menggenggam tangan Dhea. Ia seolah takut kalau tangan Dhea ada yang mengambil darinya.
"Panji?"
"Hmmm?"
"Aku nggak akan ganggu waktu kamu bersama Rena. Tapi kamu bisa nemuin aku kapan pun kamu mau." Dhea menatap Panji dengan mata teduhnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1