AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Si Penghancur


__ADS_3

Dhea kaget setengah mati. Matanya melotot tak berkedip. Jarak sekitar dua meter di hadapannya tengah berdiri seorang wanita paruh baya yang ia kenal. Seseorang yang muncul dari masa lalunya lagi.


Seorang wanita yang baru saja keluar dari mobil berwarna merah darah. Dandananya khas wanita kelas sosialita. Baju yang terlihat tak biasa. Tas dan jam mahal. Beberapa jari dihiasi cincin. Masih seperti dulu.


Tatapan Dhea mencoba berpaling. Ingin rasanya ia melanjutkan perjalanannya begitu saja. Berlagak lupa, tak lihat, atau tak kenal saja sekalian.


"Melihat reaksimu, sepertinya saya nggak salah orang. Kamu wanita itu 'kan?" Ya, begitulah tanya wanita paruh baya itu pada Dhea. Ia memang menyimpan banyak belati di mulutnya. Tak heran setiap kata-kata yang ia ucapkan selalu menyakitkan. Terutama pada Dhea.


"Ya, Tante. Saya permisi buru-buru." Dhea berniat segera pergi. Ia ingin menjauh sebelum hatinya semakin lara.


"Kamu ngapain di rumah sakit sebesar ini?" tanyanya ketus.


"Saya kerja, Tante."


"Kerja? Jaga parkir?" Ini bukan kali pertamanya wanita itu meremehkan dan merendahkan Dhea.


"Iya, Tante." Dhea tak mau ambil pusing.


"Heehhh," Wanita itu bersuara dan tersenyum sinis dengan ujung bibir kirinya yang sedikit naik.


"Yang penting saya tidak ngemis atau jual diri .... "


"Ah sudah. Saya nggak mau tahu. Saya juga buru-buru. Mau ketemu menantu," potongnya lalu ngeloyor pergi, mengabaikan Dhea.


"Tante Mia?" panggil Dhea merasa tak terima.


Mia menoleh dengan air muka sengak. Tak enak dipandang. "Kenapa lagi?" sahutnya.

__ADS_1


"Menantu kesayangan Tante ada di lantai lima. Keluar lift nanti belok kanan. Kamar kedua." Dhea pergi setelah menyelesaikan kalimat pamungkasnya untuk membuat Mia penasaran.


Dhea berhasil membalas. Dhea pergi di saat Mia ingin bicara. Entah apa yang ingin wanita itu sampaikan, mungkin juga rasa heran atau pertanyaan. Bagaimana bisa Dhea tahu tentang menantunya?


šŸšŸšŸšŸšŸ


"Mama ketemu wanita itu loh di tempat parkir." Mia membuka pembicaraannya dengan Panji setelah puas bercengkrama dengan menantunya, Rena.


"Siapa, Ma?" Respon Rena lebih cepat dari Panji. Ingin rasanya Panji menghentikan mamanya. Ia tak mau Rena tahu masalah Dhea. Lebih-lebih tahu kalau Dhea ada di rumah sakit ini.


"Itu .... Dia perempuan yang dulu ngejar-ngejar Panji," tukas Mia yang masih sibuk mengupas apel untuk Rena.


"Nggak gitu, Ma." Panji ikut ambil suara.


"Nggak perlu khawatir, Ren. Sekarang nggak akan berani." Mia mencoba menenangkan menantunya. "Tapi katanya kerja di sini loh. Tadi sih bilang jaga parkir." Mia menutup kalimatnya dengan terkekeh. "Asal-usul memang nggak bisa bohong," tutupnya.


"Iya. Malah tadi dia yang ngasih tahu kalau kamar rawat kamu di sini. Tapi masa tukang parkir tahu kamar VIP." Kali ini Mia menggeser posisinya agar bisa memberikan sepotong apel di garpu pada Rena.


"Kamu tahu, Mas? Atau kalian sudah ketemu?" todong Rena.


"Dia perawat yang meriksa kamu," jawab Panji datar.


"Oh perawat. Padahal Mama udah percaya dia jaga parkir."


"Yang mana? kok nggak kenalin ke aku?" cecar Rena. Ia penasaran dengan wanita yang dibela oleh suaminya itu.


"Yang malam-malam kamu dorong ke tembok itu."

__ADS_1


"Apa?" Mia dan Rena terkejut berbarengan dengan alasan berbeda.


"Kenapa? Ada apa Rena? Dia bikin kesalahan? Mama bisa tuntut. Oh biar Panji yang urus." Mia bereaksi berlebihan. Mia memang sayang sekali dengan menantu satu-satunya itu.


"Maaa .... " Panji mencoba menghentikan mulut Mamanya yang tak memiliki rem itu.


Rena terus memantau reaksi Panji yang terlihat gusar dan sedikit berlebihan setiap kali Mamanya berbicara. "Nggak, Ma. Rena hilang kontrol karena terlalu emosi setiap kali mikir gimana Rena kehilangan .... "


"Sabar, Rena. Nanti juga dikasih lagi. Kalian kan tinggal program lagi." Mia mengelus punggung Rena beberapa kali mencoba memberi kekuatan.


Mia tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa Rena. Panji dan Rena memang sudah sepakat untuk tidak memberitahu orangtua mereka kalau Rena tak bisa hamil lagi. Mereka hanya mengabarkan kalau Rena keguguran.


Orangtua Rena yang berada di luar kota pun demikian. Entah sampai kapan mereka akan menyembunyikan itu. Keputusan ada di Rena. Panji sempat menolak dan bersikeras menceritakan yang sebenarnya. Namun, lagi-lagi ia mengalah.


"Mas, nanti antar aku ketemu perawat itu ya. Aku mau minta maaf," ucap Rena pada Panji tiba-tiba. Entah permintaan maaf yang tulus atau hanya ingin melihat Dhea demi bisa membunuh rasa penasarannya.


"Aduh, ngapain? Nggak perlu, Ren!" larang Mia.


"Iya, nggak usah." Baru kali ini Panji setuju dengan apa yang mamanya ucapkan.


"Nggak apa-apa. Nggak enak soalnya perawat itu 'kan kenal Mas Panji," kilah Rena.


"Kalau gitu, kamu juga harus ketemu sama suster Lira dan dokter Sony. Mereka juga berhak nerima permintaan maaf dari kamu, Ren." Panji emosi tanpa sebab.


"Kamu ini!" Mia memukul pelan bahu Panji mencoba menyadarkan tentang apa yang anaknya katakan.


Sementara Rena sedikit tergagap memberikan respon setujunya pada Panji. Kalau memang berniat meminta maaf, harusnya sudah dia lakukan dari kemarin-kemarin. Namun, selama ini Rena selalu bergeming. Ia banyak diam dan masa bodoh. Di sini dia korban, orang-orang pasti mengerti. Begitu pikirnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2