
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Begitu sampai kamar, Panji hanya diam dan itu membuat Rena terheran-heran. Ia tak menyangka. Panji hanya menuntunnya hingga terduduk di ranjang. Setelah itu, Panji berbalik berniat pergi.
"Mas, itu bukan aku. Aku nggak .... "
"Aku tahu. Aku sudah tahu hubungan kalian. Tidak perlu menutupi ataupun membukanya," ucap Panji pelan.
"Mas .... " wajah Rena pucat pasih. Bibirnya gemetar mengikuti tangannya.
"Kamu jangan keluar kamar dulu selama Papa masih marah. Aku berangkat kerja dulu." Panji mengambil tas jinjingnya dan berjalan menuju pintu.
Rena bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Panji. "Maafkan aku, Mas." Rena menjatuhkan lututnya di samping kaki Panji. Rena memohon.
Panji menoleh tanpa ekspresi. Ia tak marah apalagi sedih. Entah apa yang dirasakannya. Rena tak mampu membacanya.
"Berdiri, Rena. Jangan membuatku malu. Aku bahkan nggak pernah memohon agar kamu memaafkan perbuatanku bersama Dhea." Panji membungkuk. Ia pegangi kedua pundak Rena lalu ia bimbing berdiri.
"Kenapa kamu nggak marah?" Rena tertunduk, tak berani menatap mata suaminya.
__ADS_1
"Aku juga salah. Kalau aku bisa membahagiakan dan menyayangimu sepenuh hati, mungkin kamu nggak akan cari kebahagiaan bersama laki-laki lain di luar sana," jawab Panji entah sindiran atau benar-benar pengakuan.
"Jangan begitu, Mas. Sejak kapan kamu tahu?" Air mata Rena bercucuran. Ia menyesali perbuatannya di masa lalu. "Kenapa nggak bilang kalau kamu tahu?"
"Harga dirimu akan terluka kalau sampai aku bilang. Aku memilih untuk berusaha lebih mencintai dan memperhatikanmu. Membuatmu hamil adalah caraku untuk mencegah kamu menemui lelaki itu lagi." Panji mencengkram pundak Rena.
"Maafkan aku."
"Tapi kenapa saat hamil kamu masih menemuinya?" tanya Panji yang sejenak berhenti, "kecelakaan itu .... kamu selesai menemuinya 'kan?"
Telinga Rena mendadak diserang gemuruh entah dari mana. Ternyata Panji tahu semuanya. Panji tahu perselingkuhannya bersama Haris. Tapi kenapa Panji lebih memilih diam? Panji benar-benar menyalahkan dirinya sendiri atau memang karena ia tak peduli?
"Nggak, Mas. Itu benar-benar hanya sebatas ucapan selamat karena aku hamil."
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Kamu bukan mau lari ke Dhea 'kan?" Rena hilang kendali. Ia mengatakan apapun yang ada di kepalanya. Bahkan ada kalanya ia mengatakannya tanpa berpikir.
"Kenapa jadi Dhea? Sedikit pun kamu tidak merasa bersalah padanya?"
__ADS_1
"Kamu masih terus memikirkannya, Mas,"
"Aku memikirkan sedalam apa kata-katamu menancap di jantungnya. Sementara kamu belum juga sadar bahwa kamu tak jauh beda dengan apa yang kamu katakan pada Dhea. Kita bertiga sama-sama tidak punya harga diri dan rendahan, Re. Jangan terlalu membencinya."
"Tapi kamu membenciku, Mas."
"Kapan aku bilang membencimu? Yang ada, kamu terlalu memperlihatkan cintamu padaku. Kamu terlalu baik, terlalu pengertian, bahkan terlalu pemaaf padaku. Kenapa? Kamu takut aku berubah begitu tahu rahasiamu bersama Haris?"
"Aku tulus, Mas."
"Itu sebabnya aku tidak pernah membencimu. Hanya saja kalau kamu minta cinta dariku, tak bisa seinstan yang kamu harapkan."
"Kita sudah dua tahun mengenal, tiga tahun menikah. Itu bukan lagi instan. Butuh berapa lama lagi?" Rena mulai siap berdebat.
"Dari masa anak-anak aku mengenal Dhea, tujuh tahun kami pacaran, lima tahun kami berpisah. Perasan itu masih ada."
"Cuuukkkuuuppp!" teriak Rena seolah tak tahan mendengar apa yang dikatakan Panji. Baru kemarin Rena sedikit terharu karena Dhea mengirimkan seseorang yang mau membantu mengandung anaknya. Namun, sekarang kata-kata Panji membuat kebencian Rena kembali muncul ke permukaan.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
__ADS_1