AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Jauhi Dia


__ADS_3

Dhea masih melamun di ruang kerja Luna. Dhea baru sadar setelah Luna memetikkan jari di depan matanya.


"Cepet Dhea. Sebentar lagi aku mau pulang. Sudah sore." Luna melepas jas putihnya dan menggantungnya di sisi ruangan.


"Panji ada di rumah sakit ini." Tatapan mata Dhea kosong. Raut wajahnya datar.


"Apa?" Luna langsung menghenyakkan duduknya di hadapan Dhea. Keduanya beradu pandang.


"Iya. Nggak tahu bagaimana ceritanya. Kenapa harus di kota ini dari sekian banyak kota di pulau Jawa? Kenapa harus di rumah sakit ini di antara sekian banyak rumah sakit di Bandung?" keluh Dhea yang mulai memasrahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Dia sakit apa? Di kamar mana?" cecar Luna. Luna belum pernah bertemu Panji. Namun, cerita dari Dhea di masa lalu membuatnya penasaran setengah mati tentang bagaimana sosok Panji sebenarnya.


"Istrinya .... Istrinya keguguran."


"Oh. Bukan berita baik ternyata." Luna bukan sedang berbelasungkawa tapi ia tengah mencoba menghentikan percakapan mengenai istri Panji.


"Ada yang datang ke rumah sakit bawa berita baik, Kak?"


"Bener juga." Luna menyunggingkan senyum terpaksa. Ia ingin menganggapnya kesalahan yang lucu tapi tak bisa.


"Aku nggak salah 'kan kalau menghindar?"


"Nggak, Dhe." Luna menatap mata Dhea lebih lekat, "tapi mungkin lebih bagus lagi kalau kamu bersikap biasa aja. Jangan menghindar!" tutup Luna.


"Kenapa?"


"Kalau kamu menghindar, dia bakalan tahu kalau kamu masih menyimpan something padanya."


"Kadang Dhea pengen buat dia ngerasa menyesal," tukas Dhea.


"Nggak perlu ...." Luna memegang tangan Dhea. "Dia sudah menyesal dari dulu, kalau memang benar-benar mencintaimu."


"Hmm ...." Dhea hanya bergumam.


"Lupakan masalah cinta. Kalau memang dia orang baik yang punya hati nurani ...."


"Dia memelukku!"


"Apa?" pekik Luna seolah tak percaya.


"Dia juga menangis."

__ADS_1


"Jauhi dia Dhe ...."


"Sudah kubilang, aku menghindarinya."


"Bagus!" Luna menepuk-nepuk pundak Dhea. Dhea tersenyum simpul. "Kamu masih bisa senyum?"


"Lucu aja. Tadi Kak Luna bilang tak perlu menghindar, cukup bersikap biasa aja tapi ...."


"Keadaannya beda, Dhe. Dia berani menyentuhmu, memelukmu .... begitu saja? Kamu cuma diam?"


"Haruskah Dhea dorong? Pukul? Tampar?" Dhea terkekeh meski tak lepas.


"Iya. Harusnya gitu. Cuma Putri Tidur yang nggak marah dicium sama orang asing."


"Orang asing itu pangeran yang menyelamatkannya, Kak."


"Terus, Panji? Apa dia juga pangeran? Menyelamatkanmu?" Luna sedikit membelalakkan matanya tanda menentang. "Inget kalau Panji udah punya istri, Dhe. Mereka sedang berduka dan kalau kamu masuk ke dalam hubungan mereka ...."


"Jadi kalau mereka tidak sedang berduka, aku boleh melakukannya?" potong Dhea.


"Gila kamu!" sergah Luna.


"Jangan membuatku kecewa." Luna mengerutkan kedua alisnya yang hampir membentuk satu garis lurus. Tanda ia benar-benar serius.


šŸšŸšŸšŸšŸ


Rena tak membiarkan kaca ruangannya ditutup oleh Panji, suaminya. Entah karena apa. Wajahnya berpaling. Tatapan matanya kosong menembus dunia luar. Sedetik pun ia masih enggan melihat suaminya.


Emosi Rena masih labil. Kadang ia sangat sedih sampai-sampai membutuhkan suaminya sebagai sandaran. Namun, terkadang ia sangat marah, sampai melihat Panji pun ia tak mau.


Rena marah. Keputusan Panji untuk menggugurkan anak mereka demi menyelamatkan Rena, dinilai salah. Rena tak terima meski harus kehilangan nyawanya.


'Tok tok tok.' Suara pintu di ketuk dari luar. Dhea masuk dengan segelas air putih dan beberapa butir pil dalam piring kecil.


"Selamat malam Ibu Rena. Waktunya minum obat." Dhea tersenyum meski Rena masih bergeming. Dhea diabaikan.


Panji berdiri dari duduknya dan sedikit menjauh. Wajahnya masih muram seperti istrinya. Dhea dapat membacanya. Ada kehilangan, kesedihan, dan pertengkaran di antara mereka. Kenapa mereka tak saling memeluk dan menghibur saja?


"Bu Rena ...." Keduakalinya Dhea memanggil karena yang sebelumnya diabaikan.


"Taruh di meja aja, Sus. Saya lagi nggak mau diganggu. Tolong ke luar."

__ADS_1


Dhea sabar meski terdengar seperti tengah di usir. Kalau bukan karena pekerjaannya, kalimat seperti itu haruslah dibalas dengan yang lebih pedas.


"Minta tolong pastikan Bu Rena meminumnya ya, Pak."


"I-iya, S-sus." Panji sedikit tergagap.


"Saya permisi."


Dhea meninggalkan ruangan itu. Ia benci hal semacam ini. Ia tak tahu apa-apa tapi sikap Rena padanya benar-benar membuat Dhea merasa tak dihargai. Ah haruskah Dhea memakluminya mengingat apa yang baru saja menimpa mereka? Memakluminya? Lagi?


Suara langkah setengah berlari Panji tertangkap oleh telinga Dhea. "Dhe, tolong hubungi aku. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu." Panji menyelipkan kartu nama di sela jari Dhea lalu kembali ke ruang rawat istrinya.


"Hubungi?" desis Dhea. Tangannya membolak-balik kartu nama itu. "Ehmm Jaksa. Cita-citamu sudah tercapai Panji."


"Jauhi dia," kata-kata Luna tiba-tiba menusuk benak Dhea. Ia tersadar dan berakhir meremas kartu nama itu, lalu melemparnya ke tempat sampah terdekat.


Di lorong rumah sakit yang sepi itu. Dhea berteriak sekencangnya meski hanya bisa di dalam hati. Ia bertekad melupakan Panji. Mengabaikan Panji. Kalau perlu, meninggalkan Panji seperti yang dulu pernah Panji lakukan padanya.


"Ouhh, haruskah balas dendam?" Dhea bertanya pada dirinya sendiri. "Nggak, dendamku bukan pada Panji tapi pada ...."


"Suster Dhea?" panggil Tiwi pelan dari arah depan Dhea.


"Iya, Sus?"


"Tadi ruangan Bu Rena udah?" tanya Tiwi begitu mendekat.


"Udah, kok."


"Aku cari lembar datanya nggak ketemu-ketemu."


"Ada di mejaku." Dhea tersenyum sambil mengajak Tiwi kembali ke ruang jaga, "tapi, Sus, besok bisa gantian?"


"Gantian?"


"Iya, Suster Tiwi ya yang ke kamar Bu Rena? Mau?"


"Oh iya nggak apa-apa, Sus tapi kenapa memang? Masih suka marah, teriak-teriak ya?" tanya Tiwi sedikit khawatir.


"Nggak, kok. Gantian aja," jelas Dhea singkat.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2