AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Arjuna


__ADS_3

23:17 Malam.


Dhea dengan cepatnya turun dari mobil yang dikendarai Panji. Tidak ada niat sedikit pun bagi Dhea untuk berlama-lama.


Sepanjang perjalanan pulang, Dhea terus menghusap sudut mata indahnya yang sebentar-sebentar mulai tergenang air. Tidak satu tetes pun dia biarkan mengalir melewati pipinya.


“Tunggu, Dhe,” tahan Panji.


“Makasih udah nganter aku balik. Udah malem, kamu sebaiknya cepet pulang." Suaranya jelas terdengar gemetar di telinga Panji. Dhea menutup pintu mobil.


Panji masih berusaha mengejar. Ia tahan tangan Dhea. Panji belum bisa membiarkan Dhea masuk ke gedung apartemennya begitu saja.


"Stop, Panji." Dhea sedikit berteriak.


"Aku bakal pulang setelah kamu janji bakal ngubungin aku lagi," ucap Panji setengah memohon. "Minimal kamu mau angkat teleponku." Panji mengerutkan dahinya. Dhea bisa saja memandangnya seperti seorang pengemis tapi Panji tak peduli.


"Lepas!" Bibir Dhea bergetar. Giginya gemeretak. Ia marah tapi juga sedih. Ia tak ingin Panji pergi. Namun, menahan Panji bukanlah sesuatu yang tepat.


"Jangan menangis." Panji tak berdaya.


"Dhea .... " suara seseorang memanggil Dhea dari kejauhan.


Seorang Pria setengah berlari menghampiri Dhea dan Panji. Pria itu melepas tangan Panji yang masih erat memegangi tangan Dhea. Ia menghadang Panji, seolah siap menjadi tameng pelindung bagi Dhea.


"Siapa?" tanya Panji pada pria di hadapannya. Perawakan tinggi, berkulit putih bersih dengan hidung mancung dan mata sipit itu, Panji sama sekali tak mengenalnya.

__ADS_1


"Juna, ngapain kamu di sini?" tanya Dhea sembari menarik baju belakang Juna agar segera mundur.


"Aku baru pulang langsung dateng ke sini buat ketemu kamu. Ngapain lagi .... " Juna menoleh Dhea tanpa bergeser sedikit pun dari posisi berdirinya saat ini.


"Siapa?" Panji kembali bertanya karena tak juga mendapatkan jawaban. Pria ini tak mungkin saudara Dhea. Dhea anak tunggal. Lalu siapa? Teman? Apa teman bersikap berlebihan seperti ini?


"Kamu yang siapa? Jam segini ribut sama perempuan."


"Juna .... " Dhe kembali menarik Juna mundur, ke sampingnya. "Panji, sebaiknya kamu pulang," lanjut Dhea pada Panji.


"Angkat teleponku. Ok!" Sekali lagi Panji ingin meyakinkan sekaligus memastikan.


"Pulang, katanya! Anda sebaiknya pulang sekarang!" Juna kembali berkata dengan nada sinis.


Dhea hanya mengangguk pada Panji. Ya, Dhea akan mengangkat telepon Panji. Mungkin! Karena mungkin juga Panji tak akan segera menghubunginya. Ia tak mungkin nekat di depan istrinya, Rena.


"Temen baru." Suara Dhea lemas tak bergairah.


"Sebaru apa?"


"Sebaru bajumu ini." Dhea menarik pelan baju Juna yang baru pertama kali ia lihat itu.


"Ini baju lama. Baju pertama yang aku beli di Sydney tahun lalu." Juna sedikit merapikan kemeja berwarna coklat susu itu. "Jadi kamu langsung ketemu dia, begitu aku pergi?"


"Kak Luna udah tahu kamu balik ke Indonesia?" timpal Dhea, mengabaikan pertanyaan Juna.

__ADS_1


"Belum," jawab Juna santai.


"Terus ngapai ke sini?"


"Dibilang mau ketemu kamu. Setiap aku telepon kenapa nggak pernah di angkat?"


"Kapan?"


"Udah lupain aja. Kamu dari mana?" Juna mulai penasaran. Tak biasanya Dhea baru pulang jam segini.


"Keluar sebentar, cari angin." Dhea menghindari kontak mata dengan Juna.


"Sama laki-laki tadi?"


"Iya."


"Berdua?"


"Iya!"


"Pacar?" cecar Juna tiada hentinya.


"Pulang, gih," perintah Dhea sembari memukul ringan lengan Juna. "Aku mau istirahat," lanjutnya.


"Hapus dulu bekas air mata kamu itu. Ingus kamu juga sekalian." Juna mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam saku celananya. Ia berikan pada Dhea.

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2