
"Kamu tahu Juna sudah menikah?" Hesti melanjutkan pertanyaannya.
"Kalau itu .... "
'Tok Tok Tok' Suara pintu di ketuk dari luar.
"Masuk," sahut Hesti membuat kalimat Dhea ikut berhenti.
Dhea tetap diam di posisinya. Bahkan ia tak ingin mencari tahu siapa yang datang. Dhea takut menyesal karena saat ia menoleh, nantinya yang didapati hanya tatapan aneh dari orang itu.
'Oh itu Dhea selingkuhannya Dokter Juna.' Pasti begitu pikir Dhea dalam hati.
"Duduk," ucap Hesti pelan sambil mengulurkan tangan untuk memberi tanda ke kursi kosong di samping Dhea.
Mau tidak mau Dhea melihat orang tersebut. Siapa? Ya benar orang itu adalah Juna. Untuk apa Juna datang?
"Maaf saya terlambat," ucap Juna sambil duduk di kursi samping Dhea.
"Maaf ya Dhea. Tadi saya juga menghubungi Dokter Juna. Saya tanya mau bicara secara personal dengan saya atau langsung bertiga denganmu .... " Kalimat Hesti berjeda saat menyadari ketidaknyamanan Dhea saat itu. "Dokter Juna bilang lebih baik bertiga," jelasnya.
__ADS_1
Dhea tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan tanda menerima. Ya walaupun seperti dugaan Hesti, memang perasaan Dhea sedikit tak nyaman.
"Saya tidak tahu separah apa gosip yang beredar di rumah sakit ini. Walaupun mereka bebas berpikir dan bersuara. Tetapi, saya rasa tetap harus ikut ambil tanggung jawab atas masalah ini," ucap Juna Pada Hesti.
"Iya, Dok. Soalnya ini juga menyangkut nama baik anak saya," ucap Hesti sambil sejenak melempar pandangan ke arah Dhea. "Jadi bagaimana?"
"Hhmmm .... " Dhea masih memikirkan akan apa yang ingin ia sampaikan. Sejak Juna datang, Dhea belum juga menemukan pembukaan yang tepat untuk kalimat penjelasannya.
"Benar kami ada hubungan, Bu Hesti .... " sahut Juna saat melihat Dhea kebingungan dengan jawabannya. "Tapi belum sejauh yang mereka pikirkan. Dan lagi .... saya belum menikah."
"Apa?" Hesti benar-benar terkejut. Kenapa? Ya karena setahu Hesti, Juna sudah memiliki istri. Juna selalu hilang seperti itu.
"Tapi kamu sendiri yang bilang kalau cincin yang Dokter pakai itu cincin .... "
"Cincin pernikahan .... itupun kalau Suster Dhea mau memakai cincin pasangannya yang masih saya simpan," serobot Juna terdengar percaya diri.
Padahal dalam hatinya, Juna sangat gemetar penuh rasa khawatir. Ia menjelaskan semua itu di saat hubungannya dengan Dhea tidak sedang baik-baik saja.
Hesti hampir saja menyemburkan tawa. Namun, sedikit tertahan karena suasana yang sedang serius. "Jadi sekarang Dokter Juna sedang melamar Suster Dhea secara tidak langsung?" tanya Hesti.
__ADS_1
"Belum secara resmi. Hubungan kami sedang merenggang,"
Dhea diam tak merespon. Pikirannya kosong entah hilang bertebaran ke mana isi-isinya. Dhea hanya bisa merasakan betapa panas dan merah padam pipinya saat ini. Ya semoga Hesti dan Juna tak menyadari itu. Jantungnya pun juga seolah memberontak, ingin dikekuarkan.
"Aduh .... sepertinya saya harus cepat-cepat menghilang ini," ucap Hesti mencoba mengalihkan kecanggungan di antara mereka bertiga.
"Saya sudah lama menunggu Suster Dhea pindah ke Jogja, Bu .... " Juna masih belum berhenti dengan kalimat-kalimat penjelasannya.
"Suster Dhea .... masih sadar 'kan?" ucap Hesti mencoba menyadarkan Dhea. Kasihan Juna dari tadi bicara sendiri. "Kalian sepertinya butuh bicara berdua bukan bertiga," lanjut Hesti.
"Dhea .... mau aku lanjutkan di sini atau kita bisa pergi sekarang .... berdua?" ucap Juna menawarkan pilihan.
Dhea masih bertahan dengan tatapan hampa. Bukan ia tak dengar tapi pikirannya tengah menimbang. Harus bagaimana ia bertindak di situasi seperti ini?
"Saya ke luar ya. Kalian bisa bicara di sini?" ucap Hesti menawarkan ruangannya sebagai tempat menyelesaikan permasalahan antara Juna dan Dhea.
"Tidak, Bu. Kami akan bicara di luar," sahut Dhea yang tiba-tiba langsung berdiri dari duduknya. "Saya permisi, Bu." Dhea langsung pergi meninggalkan ruangan Hesti yang lalu diikuti oleh Juna.
BERSAMBUNG....
__ADS_1