AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Pemberian Terakhir


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Rena, meski kamu tetap menyebarkan video itu. Aku tetap akan minta maaf padamu. Maaf Rena. Maafkan kebodohan dan kesalahanku.


Aku tidak bisa meminjamkan rahimku. Namun, kalau keinginan kalian tulus ingin memiliki anak. Kalian bisa mulai berunding dengan wanita baik di hadapan kalian saat ini. Tawarkan sesuai kesepakatan yang pernah kalian tawarkan padaku dulu.


Sekali lagi maaf, Rena.


-Dhea Wiska Maulana


Rena terkejut tak menyangka. Jadi Dhea benar-benar pergi sesuai janjinya? Dhea juga mengirimkan seseorang yang mau mengandung anak Panji dan Rena. Namun, sebagai gantinya mereka juga harus membiayai Nandin dan suaminya melakukan program yang sama untuk memiliki anak mereka sendiri.


Panji merasa gusar. Ia kembali berpisah dengan Dhea. Semuanya sudah tertutup. Dhea benar-benar pergi tanpa menyebut nama Panji di suratnya. Tak sudi kah? Ah mungkin juga Dhea kecewa dan marah pada Panji. Sayangnya kemarahan ini sepertinya akan berlangsung selamanya. Bukan seperti kemarin yang Dhea masih bersedia kembali.


Flashback On


Berhari-hari sudah Dhea mengurung diri di apartemennya. Jangankan keluar, membuka pintu atau gorden saja tidak. Dhea juga sudah berpesan pada scurity di bawah agar mengatakan Dhea sudah berhari-hari pergi dari apartemen bila ada yang mencarinya.

__ADS_1


Banyak yang menghubunginya. Mulai dari Luna, rumah sakit, Dara, hingga Panji. Semua Dhea abaikan. Namun, sore ini ada seseorang yang membuatnya harus keluar apartemen.


Seorang kakek yang pernah diabaikan anaknya di ruang VIP rumah sakit kala itu tiba-tiba menghubungi Dhea. Keduanya memang cukup dekat. Dhea adalah satu-satunya orang yang menemani dan mendengarkan cerita-cerita kakek itu saat di rumah sakit. Dhea juga yang menghubungi anak terakhir kakek untuk datang.


"Ayah benar-benar khawatir sama, Mba Dhea," ucap Nandin, anak terakhir kakek itu.


"Panggil Dhea saja, Mba," pinta Dhea yang merasa tak enak dipanggil Mba oleh orang yang lebih tua. Nandin hanya tersenyum mengiyakan.


"Kakek tidak tahu apa-apa tapi Nandin bilang kalau videomu ada di mana-mana. Mungkin saja kamu sedang ada masalah," ucap kakek tersebut yang duduk di hadapan Dhea.


"Dhea baik-baik sa .... " kalimat Dhea terhenti. Ia menyadari sesuatu yang dingin tengah mengalir membasahi ujung kepalanya.


"Jangan malakor makanya, Mba." Seorang anak baru gede terbahak setelah menumpahkan satu gelas minuman dingin ke kepala Dhea.


"Pelakor bukan malakor," ucap gadis yang lain mencoba membenarkan.


"Malakor. Malak laki orang!" keduanya kembali terbahak dan berlalu pergi tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Ya ampun," ucap Nandin bergidik merasa heran dengan keberanian anak-anak jaman sekarang.


"Nggak apa-apa, Mba." Dhea mengambil tissue dari tangan Nandin dan mengeringkan rambut serta bajunya sendiri.


"Jangan sampai saya punya anak seperti mereka," ucap Nandin.


"Jangan hanya diam kalau diperlakukan seperti itu nanti pada ngelunjak," sahut sang kakek.


"Saya juga salah, Kek. Apa yang mereka katakan itu benar." Mata Dhea mulai nanar, berkaca-kaca. "Ngomong-ngomong Mba Nandin jadi program kehamilan?" Dhea lanjut bertanya pada Nandin.


"Gagal, Dhea. Ini lagi siapin mental sekaligus kumpul-kumpulin uang lagi. Tahu sendiri itu nggak murah," keluh Nandin.


Dhea sejenak termangu. Ia memikirkan sesuatu yang mungkin saja membantu tapi bisa jadi juga membuat Nandin tersinggung.


"Mba, bagaimana kalau .... "


Flashback End

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2