
[Aku tunggu di rooftop rumah sakitmu. Sekarang.]
Dhea terpaku memandangi layar ponselnya. Panji mengirimkan pesan. Dhea tak berniat membalasnya. Hidupnya kian berantakan karena terus menunda mengakhiri hubungannya bersama Panji.
[Ini masalah Rena.]
Panji masih belum menyerah dan terus meneror Dhea dengan pesan-pesannya.
[Mari kita akhiri sampai di sini, Panji. Bersama denganmu lagi, kukira sebuah kebahagiaan. Ternyata hanya sebuah cinta masa lalu yang belum selesai. Aku dibutakan oleh cinta masa mudaku. Dan itu salah.]
[Ini yang terakhir, masalah Rena, masalah video kita.]
[Selesaikan masalah rumah tanggamu sendiri. Aku benar-benar tidak akan melibatkan diri lagi di kehidupan kalian. Video kita? Biarkan saja! Aku siap menanggungnya.]
Dhea menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Ya, ia sudah siap menerima segala balasan akan kesalahannya. Terlalu banyak kejutan-kejutan yang terjadi padanya belakangan ini. Jadi Dhea sudah bersiap akan segala kemungkinan.
[Aku akan menceraikannya.]
Entah apa yang dipikirkan Panji. Orang baik yang selalu menjaga perasaan semua orang itu mendadak menjadi egois. Ah tidak. Tidak ada orang baik yang bermain api. Dhea sudah merubah Panji.
[Kita sudah berakhir.] tegas Dhea.
[Kalau begitu, ini benar-benar akan menjadi yang terakhir. Sekali ini saja.]
Baik. Sekali ini saja. Dhea langsung bangkit dari duduknya. Ia mengambil langkah cepat menuju rooftop. Padahal sebenarnya, ia sudah tak ada lagi tenaga untuk memperpanjang masalahnya.
Dhea membuka pintu yang menghubungkan lorong lift dan rooftop terbuka. Seketika suara tepuk tangan lambat menyambutnya. Sial!
"Wow .... sedang merajuk atau benar-benar ingin mengakhiri semuanya?" Suara wanita yang ahli menjambak itu menyambut Dhea. Tepuk tangannya masih berlanjut sembari berjalan mendekati Dhea.
Langkah Dhea terhenti. Ia tak ingin lebih dekat. Rena ada di hadapannya dengan ponsel Panji di tangannya. Panji? Ia tertunduk tak berdaya di belakang istrinya.
"Kenapa diam? Kamu nggak mau bilang sesuatu?" tanya Rena sinis.
"Saya harus kembali bekerja." Dhea berbalik, berharap bisa segera pergi. Namun, tangan Rena gesit meraih pundaknya dan memaksa Dhea untuk kembali berbalik.
"Kamu nggak mau minta maaf? HAH?" bentak Rena.
"Aku sudah melakukannya malam itu. Aku minta maaf .... "
'Plak'
Satu tamparan mendarat di pipi Dhea. Sangat kencang sampai membuat wajahnya berpaling. Dhea pegangi pipinya yang terasa panas padam itu.
"Tidak tahu diri. Rendahan!" Rena kembali memaki. "Hidupmu ada di tanganku. Bagaimana kalau aku sebarkan video perselingkuhan kalian?"
__ADS_1
Amukan Rena semakin menjadi. Kemarahannya kian mendera. Ia mengalirkan rasa dengki dan berpusat pada telapak tangannya.
Tamparan itu berulang kali terjadi. Hingga Panji memeluk Rena dari belakang, demi bisa menghentikan sang istri. "Cukup, Rena," ucap Panji pelan.
”Dasar perempuan gatal,” bentaknya kemudian.
Dhea terkejut, belum siap. Rena masih saja mengatainya dan menamparnya seolah-olah Dhea penjahat yang belum tersentuh hukuman. Padahal ia sudah menerima tamparan berualang kali. Panji, juga sudah kembali pada Rena. Panji sedang memeluknya sekarang. Dhea tak membawa lari lelakinya.
Meski begitu, Dhea masih bersyukur. Setidaknya tidak ada orang di rooftop rumah sakit saat itu. Akan sangat memalukan bila ada orang atau rekan kerja yang melihatnya diperlakukan seperti itu.
Dhea sudah jengah. Ia tak ingin lagi terseret semakin dalam. Tak bisa kalau sampai semua melebar dan banyak orang menjadi tahu kelakuan bejatnya. Haruskah Dhea menyerah? Tapi bagaimana? Maaf Dhea saja tak bisa meluluhkan hati Rena?
"Aku harus bagaimana agar kamu mau memaafkanku?" suara Dhea pelan, tetapi terdengar sangat kuat.
"Lepas, Mas." Rena membebaskan dirinya dari pelukan Panji. "Bagaimana kalau kamu sujud sekarang. Mohon padaku," sahutnya pada Dhea.
Tanpa berpikir panjang Dhea langsung menolaknya. "Aku tidak akan bersujud pada manusia manapun. Sehebat apapun dia."
"Tinggi sekali harga dirimu. Benar, ternyata orang miskin hanya punya harga diri." Rena tersenyum sinis, merendahkan. "Kalau begitu, berikan rahimmu!"
Dhea tersentak. Ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa? Rahim? Omong kosong apa yang sudah Rena bicarakan?
"Apa?"
"Bayi tabung, kami akan melakukannya. Pinjamkan rahimmu untuk calon bayi kami." Rena bukan sedang memohon. Ia lebih terdengar seperti tengah menuntut. Ia sedang menuntut ganti rugi atas rasa sakit karena Dhea sudah menggoda suaminya belakangan ini.
"Kenapa tidak? Dia sangat mencintaimu, sudah pasti dia mau mengandung anakmu. Ahh maksudku, anak kita."
"Aku tidak akan melakukannya. Kalian bisa cari relawan lain," sahut Dhea tak terima. Bagaimana bisa ia mengandung anak Rena dan Panji? Itu hukuman, penyiksaan, sekaligus penghinaan untuknya.
"Bukan relawan biasa. Aku bisa bayar kamu dengan mahal," tawar Rena.
"Cari orang lain. Wanita yang sudah menikah dan pernah mengandung. Itu lebih baik. Aku tidak membutuhkan uang itu."
"Ahh kamu belum menikah. Aku lupa." Rena terus menjawab kata perkata dari apa yang Dhea ucapkan. "Kamu masih perawan?" tanya Rena yang membuat Dhea membelalakkan matanya. "Kalau gitu kamu bisa habiskan satu malam bersama Panji, suamiku." Gagal menawarkan uang, Rena berbalik menawarkan suaminya. Ya, ia seolah sedang menjual Panji.
"Rena!" bentak Panji.
"Kenapa? kamu mungkin juga menginginkannya. Satu malam yang hebat bersama wanita murahan ini."
Dhea berjalan mendekati Rena tanpa mengedipkan mata. Tatapan tajam itu ia harap bisa menusuk jantung wanita di hadapannya. Sebagaimana kata-kata Rena yang sudah mengulitinya sedari tadi.
"Lihat, Mas. Dia mendekat. Mungkin dia juga menginginkannya! Menginginkamu!" Rena tersenyum getir.
Dhea semakin dekat dengan Rena. Ia kemudian merebut ponsel yang sedari tadi ada dalam genggaman wanita itu. Ponsel Panji yang telah Rena gunakan untuk mengirim pesan pada Dhea.
__ADS_1
"Heh silakan. Videomu tak ada di sana. Itu milik Panji," ucap Rena.
Namun, Dhea seolah tak mendengarkannya. Ia tak Peduli. Ia tidak sedang mencari video yang Rena rekam. Dhea sedang mencari sesuatu yang lain.
Dhea tiba-tiba meletakkan layar ponsel itu ke samping telinganya. Butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya sebuah panggilan telepon diangkat
"Halo, Tante .... " Dhea menelpon Mia, mama Panji.
"Ini siapa?"
"Perempuan yang tidak jelas siapa ibunya. Perempuan yang ditinggal mati ayahnya karena kecelakaan. Perempuan yang hanya diwariskan hutang orangtuanya. Perempuan miskin, tidak tahu diri yang bahkan menjual tubuhnya saja tidak akan bisa membiayai hidupnya apalagi melunasi hutang orangtuanya .... " Dhea menarik napas dalam. Matanya bercucuran air mata yang tak lagi bisa ditahan. Perlawanan bertahun-tahun yang tak pernah ia keluarkan, kini sedang ia usahakan.
"Siapa kamu?" sahut Mia bingung di ujung telepon. "Kenapa bisa pakai nomor anak saya?"
"Wanita rendahan yang Tante sarankan menjadi ******* di masa lalu. Tante lupa? Saya sampai sekarang bahkan masih mengingat kata perkata yang Tante ucapkan dulu. Setiap tarikan napas yang sangat menyakitkan untuk wanita di awal dua puluhan. Bagaimana Tante bisa lupa dengan wanita itu?" Dhea setengah mati menahan hisakan tangisnya. Meski saat ini lehernya terasa amat tercekat.
"Siapa kamu? Mau apa?"
"******* ini sedang ditawar untuk mengandung benih Panji dan istrinya. Tante mau memiliki cucu yang keluar dari rahim wanita rendahan? Berapa harga yang bisa Tante tawarkan untuk saya?"
Kalimat Dhea terhenti. Panji sudah tersungkur, berlutut di hadapannya. Panji memohon agar Dhea menghentikan kata-kata menyakitkan itu. Kata-kata yang bertahun-tahun ini menancap tepat di hati terdalam Dhea. Bahkan di hati Panji, orang yang hanya mendengarkannya.
"Hentikan, kumohon!" Panji tertunduk dengan tangisnya di hadapan Dhea. Sementara Rena, ia masih terpaku mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.
Dhea menjatuhkan ponsel itu di hadapan Panji. "Ambil dan berdirilah. Aku tidak pernah membencimu hanya karena kata-kata dari mamamu. Aku tidak pernah membencimu meski kamu kembali ke istrimu. Aku tidak akan membencimu .... Wanita rendahan ini .... tak bisa membenci orang yang bisa menawarkan uang untuknya." Sesekali Dhea menghentikan kalimatnya. Ia membutuhkan oksigen yang lebih untuk bicara. Tenggorokannya pun kian tercekat, menyakitkan.
Tak ada orang yang berdiri untuknya, mendukungnya, terlebih memberinya kekuatan. Ia berdiri sendiri. Hidup sendiri. Berjuang sendiri. Mencari kebahagiaannya sendiri!
Dhea melangkah melewati Panji. Ia menuju ke samping Rena yang masih mematung. Rena tak bereaksi, menoleh pun tidak.
Dhea menjatuhkan tubuhnya. Seolah tengah meniru apa yang dilakukan Panji. Ia berlutut di samping kaki Rena. Dhea mungkin tak bisa bersujud, tapi ia mau berlutut.
"Aku minta maaf atas apa yang sudah kulakukan padamu, pada keluarga kecilmu. Benar aku menginginkan suamimu .... " Dhea seolah tak sanggup melanjutkan kalimatnya. "Tapi itu kesalahan. Kesalahanku karena gagal mengendalikan diri."
"Dhea hentikan!" Panji berteriak tanpa merubah posisinya sejengkal pun.
"Aku tidak akan menuntutmu meminta maaf padaku karena kamu dulu telah mengambil lelaki yang sudah bersamaku selama tujuh tahun untuk kau miliki. Aku hanya mohon maafkan aku, bebaskan aku, dan jangan lagi menganggu kehidupanku." Dhea tetap melanjutkan kalimatnya. Ia mengabaikan Panji.
Rena baru menggeser posisinya. Ia menghadap ke Dhea dan memundurkan langkahnya. Rena masih belum berkata-kata.
"Saat kalian bisa melakukan itu untukku. Akan kupastikan, aku akan menghilang dari hidup kalian seolah-olah aku sudah mati," tutup Dhea.
Dhea tak ingin menunggu lebih lama. Ia juga tak ingin berharap Rena mengatakan sesuatu. Dhea berdiri dan mencoba melangkah pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
Langkahnya yang tertatih dan sulit itu mengingatkannya pada masa lalu. Masa di mana ia ditinggalkan Panji. Masa di mana dia terusir olah ucapan keji Mia. Masa di mana ia hidup sendiri, berdiri di atas kakinya sendiri.bSemuanya sangat berat. Dhea hanya yakin, bila di masa lalu ia bisa melewatinya, mungkin hari ini juga.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....