AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Kilau di Matanya


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Aku sudah milikmu .... sejak dulu." Dhea memejamkan kedua matanya. Ia sudah tahu apa yang akan Panji lakukan padanya. Dhea tak menolak.


Bibir keduanya lembut menyatu. Mereka saling menyelami dan melepas rindu. Hasrat tertahan masa remaja, kini terlampiaskan. Keduanya saling bertukar romansa panas dalam dirinya.


Telapak tangan Panji hangat menyentuh ke pipi Dhea, sehangat bibirnya. Perlahan tangan itu menelusup ke sekitar telinga dan berlanjut di antara rambut-rambut wangi Dhea.


Semua masih berlanjut. Mereka sama-sama saling menikmati. Hingga bayang Rena muncul dalam penglihatan Dhea yang terpejam.


Dhea tersentak. Ia seketika membuka matanya dan menarik diri. "Ahh .... " Dhea memegangi bibirnya yang sedikit kesakitan.


"Dhea, kenapa?" tanya Panji tak kalah kaget. Kenapa tiba-tiba Dhea seperti itu? Padahal awalnya semua sangat .... nikmat dan indah.


Dhea tak menjawab. Ia langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Ia merasa frustasi dengan dirinya sendiri. Haruskah ia sejauh ini? Benar karena cinta. Namun, apa ini bisa dibenarkan? Tidak, ini salah!


Dhea menutup wajahnya yang merah padam dengan kedua telapak tangannya. Ia tertunduk dengan sesal menggelayut di hatinya. Ia ingin marah tapi entah pada siapa.


"Dhea, kenapa?" tanya Panji yang ikut keluar mengikuti Dhea.

__ADS_1


"Aku nggak bisa."


"Apa? Kenapa?" Panji ikut kacau melihat tingkah Dhea yang tiba-tiba berubah. "Dhea?"


"Rena melihatku .... ahh tidak. Aku melihat Rena." Dhea menghirup napas dalam. Ia penuhi setiap rongga paru-parunya lalu menghembuskannya perlahan. Wajahnya yang panas, ia bebaskan dari kedua telapak tangannya yang sedari tadi menutupi. Dhea membiarkan angin malam berhembus menembus pori-porinya tanpa henti.


"Lihat aku, Dhea." Panji mencengkram kedua pundak Dhea.


Dhea menggeleng. Pandangannya ia buang ke hamparan kerlip lampu Bandung di bawah sana.


"Aku mau pulang," pinta Dhea.


"Enggak! Aku harus tahu, kamu kenapa," tolak Panji.


"Dhea denger aku sekarang! Aku nggak bisa pulang dengan keadaanmu seperti ini."


Dhea mengibaskan kedua tangan Panji di pundaknya. Dhea berjalan pergi meninggalkan Panji. Tangannya sibuk menyeka air matanya.


Dhea terus membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan. Benaknya tak bisa berhenti. Semuanya seolah-olah akan segera terjadi. Rena dan orang-orang akan menghardik Dhea saat tahu hubungannya bersama Panji. Semua tangan akan menudingnya. Semua tak bisa dibenarkan, sekalipun cinta menjadi alasannya.

__ADS_1


Panji mengejar Dhea yang belum juga berhenti dari langkahnya. Panji tak sanggup melihat Dhea dari belakang dengan postur kesedihan seperti itu.


Panji tak bisa membiarkan Dhea kembali sibuk sendiri dengan perasaan sedihnya seperti dulu. Panji ingin menebus kesalahannya di masa lalu.


Panji melewati Dhea. Ia menghadang langkah Dhea. Dari depan Panji langsung memeluk Dhea tanpa kompromi.


"Aku antar pulang. Aku minta maaf," ucap Panji sambil mengusap-usap belakang kepala Dhea berharap bisa menenangkannya.


"Berhenti minta maaf, Panji. Aku sedang menghancurkan hidupmu."


"Aku nggak akan biarin kamu hancur sendirian, Dhea."


"Aku janji, ini terakhir kalinya kita ketemu. Aku nggak akan ganggu kamu lagi," ucap Dhea sembari melepaskan pelukan Panji.


"Dhea, jangan bercanda seperti itu."


"Aku tidak bercanda. Aku juga tidak sedang merajuk dan memintamu untuk menenangkanku. Aku serius .... "


"Dhea .... " Panji terdengar putus asa.

__ADS_1


"Aku juga nggak bisa biarin diriku hancur." Dhea menatap mata Panji dalam. Bendungan air yang runtuh itu sudah menjelaskan lebih dari kata-katanya.


Bersambung.....


__ADS_2