AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Permintaan Maaf


__ADS_3

Pagi ini mood Dhea seketika berantakan. Biasanya kerja shift pagi adalah favoritnya. Namun, tidak hari ini. Suasana hatinya menjadi terganggu setelah ia melihat Rena yang duduk di atas kursi roda masuk ke ruang jaga perawat untuk menemuinya. Terlebih, Panji terlihat serasi dan setia mendorong kursi roda istrinya itu.


'Apa ini? cemburu? ciiihhhh, nggak mungkin.' Dhea bergumam dalam hati sambil menatapi sepasang suami istri di hadapannya.


"Saya mau minta maaf, Sus atas kejadian malam itu. Saya benar-benar lepas kendali." Rena buka suara. Suaranya parau, lemah, dan terdengar sakit.


"Tidak apa-apa, Bu Rena," jawab Dhea bohong. 'Dia kemarin terlihat sehat. Suaranya cukup kuat buat nyuruh aku keluar ruangan. Kakinya bisa berjalan untuk mengejarku. Tangannya kuat mendorongku tapi sekarang?' lanjut Dhea dalam hati.


"Maaf pagi-pagi mengganggu. Hari ini saya sudah boleh pulang. Cepat kesini karena takut nggak bisa bertemu suster lagi." Tatapan Rena belum juga terlepas dari Dhea.


'Lumayan!' desis Rena dalam hati saat memperhatikan setiap detail wajah Dhea. Alis hitam tipis terbentuk, mata bulan sabit berwarna coklat, hidung mancung, dan bibir sedikit menggoda. 'Jadi ini tipe wanita Mas Panji? Tapi kenapa mama nggak suka?'


"Maaf, Bu Rena. Saya harus .... "


"Oh iya .... " Rena terpaksa membuyarkan imajinasinya dan berpamit pergi bersama Panji untuk kembali ke kamarnya.


Panji memutar balik kursi roda istrinya dan ke luar ruangan. Selama di sana, tak sedetik pun mata Panji fokus melihat Dhea. Ia menghindari pandangan Dhea dan lebih sering menunduk. Entah malu karena perbuatan istrinya atau merasa tak enak hati pada Dhea.


Bagaimanapun Panji terlihat seperti orang jahat di sana. Mengantarkan istrinya untuk bertemu mantan terbaiknya. Bertemu orang yang pernah terluka karena mereka berdua.


šŸšŸšŸšŸšŸ


Hari menjelang siang. Panji masih mondar-mandir mengurus administrasi dan obat-obatan Rena di lantai satu. Ternyata keluar dari rumah sakit tak sesimpel dalam pikirannya.


'Ttiiiinnngggg,' suara lift terbuka.

__ADS_1


Panji masuk dan menekan tombol lima. Namun, lift kembali berhenti di lantai dua. Saat pintu terbuka, ada Dhea di sana.


"Hhuuuhhh!" Dhea menghela napas panjang melihat siapa yang sudah ada di dalam lift itu. Ada Panji. Sendiri!


Panji menyadari helaan berat napas Dhea. Ia mengernyit tak mengerti. Lift terus naik. Dari lantai dua hingga ke lantai empat. Sebentar lagi lantai lima. Dhea bersiap untuk ke luar.


Panji tiba-tiba membatalkan tombol lima dan menekan tombol tujuh. Itu rooftop. Sadar akan hal itu, Dhea bingung dan mencoba meraih tombol lima. Namun, tangan Panji terus menghalanginya.


"Kamu mau apa?" bentak Dhea pada Panji.


Panji hanya diam. Ia masih memandangi angka yang terus berubah di bagian atas lift. "Tujuh. Sampai." Panji lantas menarik tangan Dhea ke luar lift sedikit kasar.


"Lepas!" pekik Dhea mencoba menyelamatkan diri. Ia tak tahu apa yang sedang Panji pikirkan sampai berani-beraninya berlaku demikian padanya. Bisa saja Dhea dicekik atau di lempar dari gedung enam lantai itu.


Panji terus menarik Dhea untuk mengimbangi kecepatan dan tujuan langkahnya. Hingga sampai di salah satu sudut rooftop, Panji baru melepaskan tangan wanita itu.


"Aku capek. Aku udah tenang di kota ini. Aku senang kerja di rumah sakit ini tapi tiba-tiba kamu muncul." Lantang suara Dhea menjawab Panji. "Kenapa kamu muncul lagi? Kenapa harus memperkenalkan istrimu padaku?"


"Kamu nggak suka?"


"Nggak!" bentak Dhea lagi-lagi. Emosinya yang tertahan sejak beberapa hari lalu sedikit terluapkan. Ah mungkin juga itu adalah bagian emosinya dari bertahun-tahun lalu.


"Segitu bencinya?" cecar Panji.


"Iya!" Jawaban Dhea masih setegas sebelumnya.

__ADS_1


Tiba-tiba angin berhembus kencang seolah menampar pipi Panji. Ia tersadar. Panji tertunduk lesu. Ia cengkram kedua pundak Dhea. Panji mendorongnya hingga tersudut ke tembok.


"Kenapa?" tanya Panji dengan suara lembut. Ia berubah drastis dari sebelumnya. "Kamu masih marah karena masa lalu kita dulu?"


"Iya!" jawab Dhea tak mengelak dari dugaan Panji. Dhea memalingkan wajahnya.


"Kenapa?" Panji terus mengulangi pertanyaan yang sama.


"Kamu salah urutan Panji." Dhea menarik napas panjang-panjang untuk melanjutkan kalimatnya.


"Apa?"


"Bertemu denganku bukankah harusnya kamu minta maaf lebih dulu?" Suara Dhea bergetar menahan tangis yang tiba-tiba mengintip. "Kamu sibuk tanya aku apa kabar? bagaimana keadaanku? bagaimana perasaanku? kenapa aku seperti ini padamu .... " Dhea menghentikan kalimatnya. Ia terhisak menangis.


"Dhea .... ?" Panji seolah tak percaya.


"Kamu pernah berpikir sedalam apa lukaku? Sudah mengering atau masih berdarah? Meninggalkan bekas atau sembuh sempurna, seperti semula? KAMU LUPA!" teriak Dhea sejadinya.


Lagi. Panji menarik Dhea ke dalam pelukannya. Ia dekap erat wanita yang masih terhisak hebat karena perilakunya di masa lalu itu.


"Kamu pikir ini mudah buatku. Kenapa aku harus melihatmu bersama wanita lain? Kenapa kamu datang bersama istrimu?" Suara Dhea tak jelas bukan karena ia dalam dekapan Panji. Namun, karena hisakannya semakin menjadi. Kedua tangan Dhea mengepal. Ia memukul-mukul punggung Panji sekenanya.


"Maaf. Aku minta maaf. Aku pergi tanpa tahu keadaanmu. Aku pergi tanpa menyembuhkan lukamu. Aku minta maaf." Panji mempererat pelukannya. Ia ikut menangis meski tertahan.


Panji memang menyesali perbuatannya, sudah sejak lama. Ia tahu kalau Dhea terluka. Namun, bodohnya Panji tak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu. Panji pikir dengan segera menghilang bisa membuat luka Dhea lebih ringan. Namun, ternyata tidak. Sekuat apapun Dhea, ia tetap terluka.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2