
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Harusnya Kak Fahri langsung pergi saja. Pura-pura nggak lihat," ujar Dhea sambil tersenyum getir.
Dhea sebelumnya mendapat siraman minuman segar dari orang tak dikenal. Ia sudah malu di hadapan Nandin dan Ayahnya. Sekarang ditambah kenyataan bahwa Fahri sedang berada di kafe yang sama dan juga melihatnya.
"Aku sudah lihat vid.... "
"Ya, mungkin semua orang sudah lihat," ucap Dhea memotong pembicaraan. "Aku terkenal sekarang," sahutnya lagi-lagi dengan senyum getir.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Aku akan baik-baik aja. Ini baru permulaan .... sepertinya." Dhea mengambil tissue dari Fahri dan menyeka sudut matanya. "Kak Fahri jangan sampai .... "
"Tidak. Hubunganku sudah lama berakhir," sergah Fahri sebelum Dhea bicara lebih jauh.
"Syukurlah," ucap Dhea sembari menghela napas lega.
"Dan aku berniat kembali pada Luna."
Dhea tak kaget sama sekali. Ia sudah menduga kalau sebenarnya Fahri masih mencintai Luna. Bagitupun sebaliknya. Luna masih mencintai Fahri.
Fahri meninggalkan Luna karena gelap mata sesaat. Luna selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ditambah pekerjaan dan penghasilannya sebagai seorang istri jauh mengalahkan suami. Di situ Fahri merasa harga dirinya sedikit terluka sebagai seorang lelaki. Pikirannya yang kacau membuatnya mencari hiburan di luar.
__ADS_1
"Tidak ada wanita seperti Kak Luna, benarkan?"
"Iya," jawab Fahri jujur.
"Kenapa?"
"Hmmm .... "Fahri sejenak berpikir.
"Dia tangguh, mandiri, dan tidak merepotkan .... "
"Kurang lebih seperti itu," jawab Panji membenarkan.
"Tapi, Kak Fahri .... sekuat dan setangguh apapun, dia juga wanita. Dia menangis kalau sedih, butuh sandaran saat ada masalah, dan butuh perhatian," ucap Dhea. Fahri yang mendengar itu langsung menyesali perbuatannya.
"Itu sebabnya aku ingin memperbaiki kesalahanku. Menurutmu aku harus mulai dari mana?"
"Kamu orang terdekatnya sekarang,"
"Aku tidak tahu banyak. Kak Luna jarang bercerita tentang masalahnya."
"Pasti kamu tahu aku harus bagaimana," ucap Fahri yang lebih terdengar seperti sebuah paksaan.
Dhea sejenak berpikir karena tak banyak yang bisa ia katakan. "Mungkin yang pertama harus dilakukan .... "
__ADS_1
"Apa?" potong Fahri tak sabar.
"Mendapatkan kepercayaannya lagi. Tunjukan cinta dan ketulusan Kak Fahri," Dhea mencoba bijak padahal ia tidak seperti itu. Buktinya, hidupnya hancur karena ulahnya sendiri.
"Bagaimana?" tanya Fahri tak mengerti.
"Itu Kak Fahri cari tahu sendiri. Intinya jangan berhenti kalau hanya tertolak sekali, dua kali. Jangan cepat menyerah. Lakukan sama seperti saat pertama kali Kak Fahri mengejarnya. Lakukan dan korbankan semua," ucap Dhea sedikit bercanda pada kalimat terakhirnya. Ia tersenyum.
"Aku bahkan rela mengorbankan vapapun yang kupunya untuk Luna. Aku benar-benar ingin menebus kesalahanku."
"Itu ide bagus." Dhea tersenyum walaupun perasaannya tak demikian. Ia sangat pusing dengan hidupnya sendiri sampai tak bisa tersenyum dengan tulus.
"Harta maksudmu?" Fahri mencari kepastian.
"Lupakan itu. Menurutku wanita lebih menyukai sesuatu yang bersifat perasaan."
"Contohnya?"
"Bawa surat perjanjian kalau Kak Fahri tidak akan pernah berselingkuh lagi .... "
"Akan kulakukan," potong Fahri.
"Di atas materai. Katakan kalau sampai melanggar, Kak Fahri siap melajang seumur hidup .... dituntut .... atau semacamnya." Dhea tersenyum saat menyadari respon Fahri yang sangat serius mendengarkan saran konyol darinya.
__ADS_1
Hingga minggu berikutnya, Fahri benar-benar menemui Luna. Luna yang awalnya tak peduli dan masih bertahan dengan sikap dinginnya. Perlahan luluh setelah perjuangan Fahri selama berbulan-bulan.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS