
Pagi hari. Mentari sedang hangat-hangatnya mengisi energi Dhea di rooftop rumah sakit. Udara masih sejuk kalau hanya untuk menyegarkan hidung dan memenuhi paru-paru Dhea yang sedari semalam sedikit sesak.
Ini kebiasaan Dhea sebelum pulang, setelah jaga shift malam. Menyempatkan diri ke rooftop demi bisa menikmati suasana pagi yang cukup langka.
Dhea memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam. Bibirnya mencoba tersenyum. Perasaannya jadi sedikit damai dan lega.
Hingga pada akhirnya suara langkah kaki terdengar mendekat. Dhea menoleh karena tak biasanya ada orang ke sini di jam-jam sibuk seperti ini. Waktu menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit.
Dhea menoleh. Ia mendapati seorang pria berjalan menunduk. Satu tangannya memegangi rambut bagian atas kepalanya. Lebih terlihat sedikit menjambak. Tangannya yang lain sibuk mengusap-usap setiap sudut matanya.
Dhea tahu siapa itu. Orang itu Panji. Kenapa Panji? Sepertinya dia tidak sedang baik-baik saja. Dia punya masalah apa? Sepertinya cukup berat. Pertanyaan itu sejenak menghampiri pikiran Dhea.
"Oh iya. Pasti masalah istrinya." Dhea berdesis lirih sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah pergi. Dhea tak ingin Panji menyadari keberadaannya.
Dhea mengambil jalan yang sedikit berseberangan, berharap Panji tak melihatnya. Namun, di tempat yang cukup luas itu hanya ada mereka. Tak mungkin Panji tidak tertarik untuk menoleh, seburuk apapun keadaannya.
Mata Panji berakomodasi maksimal. "Dhea?" panggilnya sembari mengambil langkah panjang agar cepat sampai di tempat Dhea berdiri.
Dhea tak menoleh. Ia mengabaikan Panji. Hingga tangan Panji menahannya. "Kenapa pergi? Kenapa menghindar?" Suara Panji terdengar putus asa.
"Aku harus segera kembali bekerja," jawab Dhea tanpa menoleh.
"Bohong! Aku tahu jam kerjamu sudah selesai. Kamu sudah berganti pakaian, bukan lagi baju perawat."
"Lepas!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Panji, lepas!" Dhea bersuara pelan tapi penuh penekanan. Kedua alisnya berkerut tanda penolakan.
"Kenapa menghindariku? Jawab!" Bentak Panji tiba-tiba. "Kenapa tak mau melihat wajahku? Apa aku semenjijikan itu di matamu?" Panji memperlihatkan kedua matanya yang semakin memerah.
Bentakan itu membuat Dhea terkejut. Ia menoleh dan memandangi wajah pria itu. Dhea mendapati wajah Panji yang memerah, matanya pun tak kalah merah dengan lapisan bening yang seolah mengintip, menunggu waktu akan runtuh.
"Panji, kamu kenapa?" Sisi perhatian Dhea luluh melihat itu. Pertahanannya hancur. Penolakannya berubah menjadi rasa khawatir
Panji tak menjawab. Ia menarik tangan Dhea dan membuatnya jatuh ke dalam pelukannya. Tanpa kompromi. Ini lancang. Panji tak meminta izin terlebih dahulu.
Dhea diam mematung dalam pelukan Panji. Ia tak punya kesadaran untuk membalas ataupun menolak. Dhea tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Panji kenapa? Bagaimana Panji bisa melakukan itu padanya? Nyatakah semua yang terjadi pagi ini?
"Apa cuma aku yang merindukanmu?" Panji berbisik sembari memeluk Dhea lebih erat. "Kenapa kamu terus mengabaikanku?"
"Hidupku sangat berat, Dhea. Kumohon kali ini saja aku ingin bersandar padaku seperti dulu lagi." Panji berbisik di telinga Dhea. "Ada kabar buruk yang baru saja .... "
Dhea seketika mendorong Panji kuat-kuat. Otak Dhea tak henti-hentinya menyebut nama istri Panji. "Ini salah. Kamu nggak seharusnya kayak gini?"
Dhea berlari sekuat tenaga menjauh dari Panji. Ia membuka pintu dengan kasar dan berlari menuruni anak tangga darurat rumah sakit.
Dhea mencoba menenangkan diri. Tidak masalah, tidak ada yang tahu. Itu yang ingin Dhea pikirkan. Namun, nuraninya tetap menolak. Dhea tetap merasa salah karena sudah memeluk suami orang. Apalagi ada sebuah perasaan terlarang yang tersalurkan dalam pelukan itu.
Benaknya berkecamuk. Kata rindu muncul dari bibir Panji, orang yang sudah beristri.
Sampai di lantai dasar. Dhea dikagetkan dengan tepukan pundak oleh seseorang. Dhea menoleh dengan terkejut.
__ADS_1
"Pagi-pagi jangan ngelamun,"
"Eh ..., Dokter Luna." Dhea sedikit menganggukkan kepalanya dan membuat lengkung senyum di bibirnya.
"Kenapa kaget gitu? Mikirin apa?" tanya Luna saat menyadari keanehan rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
"Enggak ada apa-apa." Dhea menggelengkan kepalanya seolah menampik kecurigaan Luna.
Namun, mata Dhea tak lepas dari mata Luna. Sebenarnya ada yang ingin Dhea tumpahkan pada sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai kakak itu.
"Yakin?" Luna masih mencecar Dhea. Tak biasanya Dhea seperti itu. Pasti ada sesuatu terjadi.
"Yakin .... " Dhea tersenyum palsu.
"Ok." Luna mencoba percaya dengan jawaban Dhea. "Nanti masuk apa?"
"Siang, Dok."
Luna menepuk pundak Dhea, "ya udah cepet balik terus tidur. Semalem belum tidur 'kan?"
Dhea menyeringai. "Iya, Dok. Saya permisi dulu ya," pamit Dhea.
"Dhea, nanti kalau bisa dateng lebih awal, kita makan siang bareng, ya?"
"Siap, Kak! Bye." Dhea melambaikan tangan pada Luna. Ia memang sering memanggil Luna dengan panggilan kak. Namun, hanya saat di luar jam kerja saja. Meraka memang sangat dekat, bukan hanya sebagai Dokter dan perawat, tapi juga sebagai sahabat, dan kadangkala sebagai saudara.
BERSAMBUNG....
__ADS_1