AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Rasa Biru


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Istri kamu ya?" tanya Tio.


Panji mengangguk pelan. Semua langsung berjabat tangan saling berkenalan. Namun, entah mengapa mata Rena tertangkap basah oleh Juna tengah menatap Dhea untuk waktu yang cukup lama.


'Istri?' tanya Juna dalam hati.


"Yang, bikinin minum dulu." Nadia meminta tolong pada Satrio.


"Nggak usah repot-repot," tolak Panji.


"Udah, Sat. Biarin bikin sendiri. Anggep aja rumah sendiri, Ji. Nih kayak gue bikin sendiri." Tio tetap jadi yang paling banyak omong.


"Nadia biar diem aja dulu. Jangan gerak-gerak nanti jahitannya pecah," canda Tio.


"Pecah? lu kira gelas!" timpal Satrio. Tawa kembali pecah.


"Nggak usah repot-repot, Nad, Sat." Kali ini Rena yang menolak.

__ADS_1


Juna terus memperhatikan gerak-gerik pasangan suami istri ini. Entah kenapa keduanya sangat tertarik pada Dhea. Pasti ada sesuatu, pikir Juna.


"Aku ke toilet dulu, ya. Nad .... "


"Arah dapur, Dhe," jawab Nadia sudah menebak apa yang akan ditanyakan sahabatnya itu.


Mata elang Juna terus memperhatikan Panji dan Rena. Mata Panji masih terus mengikuti Dhea. Ia seolah lupa ada istrinya yang duduk di sana. Sementara Rena, matanya kini beralih ke Panji.


Hati Rena berdesir. Sebenarnya ia masih tak yakin akan hubungan Panji dan Dhea. Namun, melihat mata suaminya yang tak bisa lepas mencuri pandang ke Dhea membuat Rena menjadi geram dan yakin akan satu hal.


Dara beranjak dari duduknya. "Mau minum apa kalian?" tawarnya pada Panji dan Rena.


"Aku sendiri aja, Ra. Mau ngopi, takut pulang nanti ngantuk." Panji berdiri dengan sigap dan membuat Dara kembali terduduk.


"Rena, kamu sama Panji tinggal di mana?" tanya Nadia yang tak tahan melihat Rena hanya diam mematung.


"Nggak terlalu jauh kok dari sini."


"Sering-seringlah main ke sini. Ngumpul-ngumpul bareng temen Panji."

__ADS_1


"Iya," jawab Rena singkat. Matanya masih tak bisa lepas dari arah dapur. Ingin rasanya menyusul tapi ia selalu ditahan oleh pertanyaan teman-teman Panji.


"Huuaaammm," Juna menutup mulutnya yang sedang menguap. "Pamit ke dapur dulu ya. Ikut bikin kopi," ucap Juna Pada yang lain.


Juna memang baru pertama kali bertemu dengan teman-teman Dhea. Namun, sikap mereka yang welcome ditambah Juna yang easy going, membuat kedua belah pihak cepat menjadi akrab.


Juna cukup peka dengan kondisi di sekitarnya. Apalagi kalau menyangkut Dhea. Dhea tak juga kembali dari kamar mandi, membuatnya mencium sesuatu yang mencurigakan. Ya, hidungnya pun lebih tajam dari hidung Anjing pelacak.


Juna melangkah pasti ke arah dapur. Benar, Panji tak ada di sana. Lalu kemana?


Juna memutuskan mengetuk pintu kamar mandi pelan tapi tak ada jawaban. Akhirnya ia mundur dan diam menunggu. Juna bertingkah seolah-olah ia tak ada di sana.


Hingga beberapa menit kemudian pintu terbuka. Dhea terlihat keluar dari kamar mandi dengan air muka yang tak biasa. Dhea juga terkejut setengah mati menyadari Juna ada di depan pintu.


"Juna .... " Mata Dhea berakomodasi maksimal. Bibirnya kaku tak dapat bicara lagi.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Juna sigap menarik Dhea menjauh dari kamar mandi.


Juna memgambil sebuah tissue di atas meja dan langsung memberikannya pada Dhea dengan suara tawar, "Bersihkan bibirmu!"

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2