
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Ada apa ini?" tanya Dhea begitu sampai.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku tadi?" tanya Juna yang masih sibuk mengatur napasnya.
"Pertanyaan yang mana?" Dhea melemparkan tusukan menyakitkan itu melalui tatapan matanya.
"Kamu tidak mau?"
"Oh itu benar tawaran .... aku pikir caramu merendahkan," jawab Dhea geram. Ya, ia marah. Sangat marah!
"Jadi tidak mau?" Juna masih memburu jawaban dari Dhea.
"Tidak!" tegas Dhea.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Panji saja tidak memperlakukanku seperti itu dulu. Dia tidak pernah merendahkanku seperti yang selalu kamu lakukan." Dhea memegang gagang pintu untuk bisa segera keluar dari sana.
Dhea bukan sedang memprovokasi Juna dengan menyebut nama Panji. Namun, Dhea hanya ingin menyadarkan Juna bahwa kalimat-kalimatnya selama ini sangat menyakitkan bagi Dhea.
"Benar, dia tidak pernah merendahkamu .... tapi dia yang sudah membuatmu menjadi rendah di hadapan semua orang." Juna sigap menahan tangan Dhea agar tidak pergi.
"Iya benar tapi di saat semua orang merendahkanku, cuma dia yang tetap memperlakukanku seperti biasa. Lepaskan aku!" Dhea berusaha melepaskan tangannya.
"Kamu tinggal jawab! Menolakku karena masih mencintai lelaki itu atau .... "
Juna mendorong tubuh Dhea hingga tersudut ke tembok. Ia mendekatkan wajahnya pada Dhea dengan penuh paksaan. Kedua tangan Juna berhasil mengunci Dhea yang sudah siaga memberontak.
Namun, semua percuma. Kini Juna sudah berhasil menyerang Dhea dengan ciumannya. Juna sedang berbisik liar di bibir Dhea. Juna gelap mata. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Sudah bertahun-tahun Juna tahan, tetapi kali ini tak bisa lagi.
Dhea memberontak. Ia kerahkan seluruh tenaganya demi bisa lolos dari terkaman Juna. Hingga pada akhirnya Dhea menemukan sebuah celah.
Dhea menginjak ujung sepatu Juna dengan bagian panjang belakang sepatunya. Ia injak dengan kencangnya. Hingga Juna terkejut dan sedikit kesakitan.
__ADS_1
Juna melepaskan ciumannya. Ia juga melonggarkan tangannya. Dan saat itu, Dhea langsung mengibaskan tangan Juna dari tangannya.
Dhea mendorong Juna agar menjauh darinya. Dhea tak berkata-kata lagi dalam kemarahannya. Ia langsung meninggalkan Juna setelah berhasil mendaratkan satu tamparan ke pipi lelaki itu.
Di sepanjang lorong yang sepi itu, Dhea berjalan dengan terus memukul-mukul dadanya. Ia berharap bisa terbebas dari rasa sesak dan mengembalikan napas normalnya. Pikirannya berjubel membuncahkan emosi. Kali ini Juna bukan hanya merendahkannya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan.
Seumur hidupnya, Dhea tak pernah membayangkan Juna akan bertindak sejauh itu. Dhea menemukan sisi lain dalam diri Juna. Ya, bagaimanapun Juna adalah lelaki normal dan sudah sangat matang. Tetapi apa semua orang dewasa juga seperti itu? Menyerang tanpa pertimbangan?
Sementara Dhea sibuk dengan pikiran dan kemarahannya. Juna kini terduduk tanpa tenaga di salah satu anak tangga. Kepalanya tertunduk lesu. Pikirannya kosong seolah tak berotak. Ia masih tak bisa berpikir.
Juna tak menemukan apapun dalam dirinya. Entah harus diam atau meminta maaf. Mungkin juga harus menyesal atau malah merasa lega. Juna tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Namun, Juna tahu satu hal. Dhea sangat marah padanya. Bahkan lebih marah dibandingkan saat Dhea menerima ocehan kalimat mengintimidasi dan sedikit merendahkan darinya.
Seumur hidup Juna, ia tak pernah membayangkan kalau Dhea bisa menampar orang. Apalagi orang itu adalah dirinya.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
__ADS_1