
Ezza dan keluarga Icha baru saja pulang makan malam. Anehnya, sebelum turun dari mobil Icha terlihat tak tenang.
"Ada apa, Cha?" tanya Ezza yang sadar dengan sikap Icha yang tak biasa.
"Ada curut cemen gak mau angkat telepon."
"Ya ampun."
Melly, Mama Icha mengetuk kaca mobil tempat anaknya duduk. "Kamar Zahra jadinya yang mana?" tanya Melly begitu Icha membuka pintu mobil.
"Pojok, Mah. Dia sukanya yang di pojok ujung yang gak terjamah orang." Icha menunjuk kamar Zahra yang tepat berada di seberang tempat parkir.
"Ya ampun kamu ini,"
"Kayaknya belum pulang, Mah. Kamarnya masih gelap. Icha coba telepon dari tadi juga nggak bisa."
Ezza mengernyit melihat Icha yang masih bertahan di dalam mobil. Tangannya masih sibuk dengan HP dan terus berjuang menelepon 'Si Curut'.bEzza sedikit penasaran sekaligus ingin membuktikan kalau yang Icha sebut 'curut' itu benar Zahra atau bukan.
Lumayan lama hingga Ezza memutuskan untuk segera turun dari mobil tapi gerakannya tertahan. Tiba-tiba Icha mengomel dengan seseorang di ujung telepon.
"Halo, Hito? Kamu kalau mau pergi ya tinggal pergi, mau nikah ya udah nikah aja. Ngapain nyari-nyari Zahra lagi? Kamu sendiri yang bilang dia barbar. Aku yakin itu kalimat terburuk kamu selama delapan tahun pacaran sama Zahra. Kamu pikir Zahra nggak cari cara buat sembuh? Harusnya kamu...," Icha mengambil napas sekaligus memastikan sesuatu dengan melihat layar telepon genggamnya, "halo? Halo? Dimatiin? Dasar curut!"
"Icha ...," ucap Ezza yang sedari tadi tahan napas mendengarkan kata-kata Icha.
"Amit-amit," sahut Icha masih dengan mata yang belum lepas dari layar telepon genggamnya.
"Kamu yang amit-amit." Ezza keluar mobil sambil geleng-geleng kepala. Sepupunya yang dikenal sebagai wanita pendiam itu ternyata lebih garang dari dugaannya.
Satu hal mengusik Ezza. Si curut bukanlah Zahra. Si Curut dan Zahra delapan tahun? Zahra mencoba sembuh? Siapa si curut ini sebenarnya. Ezza menggelengkan kepala. Ia mencoba berhenti memikirkan itu. Sejak kapan ia mulai tertarik dengan hidup orang lain.
Icha dan Ezza meninggalkan tempat parkir, menuju ke depan rumah. Dua pasang mata itu menangkap sosok yang baru saja dipikirkan oleh Icha maupun Ezza. Zahra berdiri di depan pintu rumah Icha.
"Zahra...," setengah berlari Icha langsung memeluk Zahra. Sudah dua tahun mereka tak bertemu.
Zahra yang sadar ada Ezza di sana langsung sedikit mengangguk sambil tersenyum, tanda menyapa.
"Kamu dari mana aja?" tanya Icha dengan nada khawatir.
"Ada apa ini tanya Melly yang muncul dari balik pintu. " Loh siapa ini? Zahra?"
"Apa kabar, Tante?" Zahra mencium punggung tangan Melly dan menyambut pelukan hangatnya.
"Alhamdulillah, baik. Aduh sudah lama gak ketemu. Terakhir ketemu waktu kalian masih kuliah di Jogja."
"Waktu wisuda, Tante."
__ADS_1
"Oh iya. Zahra kurusan ya? Baik 'kan kabarnya?"
"Alhamdulillah baik, Tante," jawab Zahra yang entah kenapa membuat Ezza berhenti dari jalannya hanya untuk mendengar jawaban itu. "Oh iya, ini ada sedikit ...," Zahra menyodorkan sebuah box kue di tangan kanannya pada Melly.
"Aduh repot-repot," seru Melly.
"Enggak kok, Tante. Oh iya Cha, tolong ini ya buat rumah Ezza. Gak enak semalem ngrepotin."
"Buat Ezza apa buat rumahnya?" Icha tertawa meledek.
"Isshh." Zahra mencubit pelan sahabatnya itu. "Buat keluarga Ezza."
"Lah dia tinggal sendiri kok."
****
Jam dua dini hari. Ezza terbangun karena haus. Ezza berjalan menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Dapur selalu terletak di ruang belakang, dimana ada jendela yang langsung menghadap ke arah kamar-kamar indekos.
Sambil meneguk segelas air putih, mata Ezza menangkap satu hal tak biasa melalui celah gorden yang sedikit tersibak. Ezza mencoba untuk memastikan sesuatu. Ia keluar melalui pintu belakang. Benar, satu pintu kamar terbuka. Itu kamar Zahra.
Ezza memutuskan untuk mendekat, memastikan situasi yang tengah terjadi. Hampir mendekati ambang pintu Ezza terjingkat melihat Zahra keluar dari kamar.
"Oh Ezza." Zahra kaget bukan main. Tatapan Zahra bingung mendapati sosok Ezza di sana.
Zahra keluar kamar dengan tangan kiri mendekap laptop dan memegang satu kaleng minuman bersoda. Tangan kanan Zahra hati-hati menutup pintu.
"Saya kira pintu lupa ditutup atau ada sesuatu terjadi," ucap Ezza mencoba menjelaskan. Ia khawatir Zahra salah paham.
"Ahh... Saya gak bisa tidur jadi masuk ambil...," Zahra melirik ke laptopnya. "Di dalam Icha lagi tidur. Saya takut ganggu."
"Kalau seperti ini malah Icha yang sebenarnya mengganggu."
Zahra tersenyum. Keduanya berjalan mendekat ke gazebo. Sebenarnya Ezza yang mengikuti Zahra, tanpa sadar. "Apa saya salah ingat? Bukanya ini hari minggu?" gumam Ezza saat melihat beberapa kertas tercecer di gazebo.
"Saya yang lupa ini hari apa." Zahra tersenyum simpul sembari meletakkan laptopnya dan membereskan beberapa kertasnya.
"Workaholic?"
"Apa itu sejenis pujian? Mungkin kata lain dari rajin?"
"Saya tidak terlalu yakin kalau ada pujian semacam itu," timpal Ezza sambil tersenyum. "Kalau begitu saya permisi." Menanggapi hal itu, Zahra hanya mengangguk. "Oh iya, terimakasih kuenya."
"Sama-sama."
****
__ADS_1
Siang hari selesai pergi dengan Ezza dan mamanya, Icha menghampiri Zahra. Beberapa kali, ia ketuk kamar Zahra tidak ada respon. Icha yang curiga mencoba membuka kamar Zahra dengan kunci cadangan.
"Jangan diganggu dulu, mungkin sedang istirahat," ucap Ezza mencoba menahan Icha.
"Zahra tidur dari jam enam pagi sampai sekarang hampir jam tiga, belum juga bangun. Apa wajar?"
"Semalem dia nggak tidur."
"Hah, kok aku nggak tau?"
"Kamu tidur."
"Aku harus tetep buka." Icha membuka kamar Zahra dan menerobos masuk. Diikuti dengan Melly. Semetara Ezza hanya berdiri di ambang pintu.
"Zahra, ayo bangun!" Icha sedikit menggoyang-goyangkan kedua pundak Zahra. Zahra tetap bergeming, sekali pun itu terulang beberapa kali.
"Emm.. aku harus tidur, Cha," respon Zahra tanpa membuka mata.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan?"
"Aku nggak mau jadi barbar. Aku harus tidur." Zahra menjawab dengan nada pelan dan lambat. Ia sekarang tidak benar-benar sadar dengan apa yang diucapkan.
"Nggak. Kamu nggak barbar. Siapa yang bilang? Hito?"
"Cutter, silet, pisau, gunting, sampai garpu sudah kubuang... tapi aku berakhir dengan mecahin gelas. Aku harus tidur biar nggak ngapa-ngapain."
Ezza yang tidak sengaja melihat tempat sampah di luar, menyadari semua yang disebutkan Zahra sebelumnya memang benar ada.
Icha curiga Zahra meminum obat tidur. Ini sudah terulang beberapa kali. Dan Icha tahu itu. "Kamu minum obat tidur lagi? Berapa banyak?"
"Dua atau tiga, mungkin juga empat. Aku buru-buru, tak menghitungnya. Aku mau tidur."
Icha menemukan obat tidur Zahra dan segera membuangnya. Semua yang ada di sana, Ezza dan Melly kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Ezza lebih bingung dan kaget dibanding siapa pun.
Ezza baru saja menyadari kalau Zahra yang selama ini banyak tersenyum ternyata menyimpan rahasia yang menyedihkan. Zahra yang terlihat tangguh dan menyenangkan, sebenarnya adalah wanita lemah. Zahra yang disayangi dan diperhatikan oleh Icha dan Melly ternyata masih berusaha untuk menyayangi dirinya sendiri.
Icha menutup pintu dari luar dan menguncinya seperti semula. Ia membuat seolah-olah tidak terjadi apapun selama Zahra tidur.
"Mama, Ezza, tolong pura-pura nggak tahu masalah ini ya. Icha takut kalau Zahra tahu nanti dia malah jadi nggak nyaman di sini." Sisi dewasa Icha tiba-tiba muncul ke permukaan. "Mama punya kenalan psikiater nggak?"
"Apa Zahra..,"
"Self harm, Ma," sahut Icha. "Zahra cenderung melukai dirinya sendiri di situasi tertentu. Diam-diam."
"Oh baiklah, nanti Mama tanya-tanya lagi. Zahra belum pernah ke psikiater?" Melly bertanya pada Icha dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Udah, Ma tapi dia nyerah, nggak lanjutin."
BERSAMBUNG