AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Temu Kangen


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Reuni sudah dilakukan sekitar tiga kali tapi ini baru pertama kali Dhea ikut. Dulu Dhea menghilang, tak bisa dihubungi. Dara baru tahu nomor Dhea beberapa bulan lalu.


"Baik."


"Alhamdulillah, baik."


"Baik dong."


Tia, Dara, Tio, Dika, Rian, dan Dimas menjawab bergantian. Sebenarnya ada satu lagi, Nadia tapi ia tak datang karena anaknya yang baru berumur beberapa hari. Belum boleh dibawa ke luar apalagi malam-malam.


"Kapan-kapan barengan yuk ke rumah Nadia," ajak Dimas.


"Perasaan lo deh yang paling sibuk," timpal Dika.


"Kalian kok pada dateng sendiri sih? kirain bakal bawa .... "


"Suami?" serobot Tia.


"Istri?" Rian tak mau kalah.

__ADS_1


"Kita mah menjaga perasaan orang yang masih jomblo aja sih," sindir Tio yang diakhiri gelak tawa.


"Udah, Dhe. Nggak usah di dengerin." Kali ini Dara bersuara. Padahal mata dan tangannya masih sibuk di buku menu.


"Single bukan jomblo. Tolong diingat!" Dhea membela diri.


"Mau jomblo mau single sama aja. Sama-sama nggak punya gandengan. Truk aja gandengan masa kamu enggak .... " Dika berhasil membuat teman-temannya kembali tertawa.


"Sial!" kesal Dhea.


"Ini serius, Dhe. Kamu harus cepet-cepet. Kita udah hampir dua lapan tahun loh. Mau sampai kapan kamu sendiri." Dimas menggerakkan telunjuknya tanda menyuruh Dhea mendekatkan diri.


"Kenapa?" tanya Dhea sedikit kesal karena terus di ledek teman-temannya.


"Dujir ada nggak?" timpal Tia.


"Apaan tuh?" Dimas gagal mengerti.


"Ssstttt! Panji dateng." Rian memperingatkan teman-temannya untuk segera diam.


Panji datang dengan menjinjing satu kursi. Matanya mengedar. Tak ada space tersisa kecuali .... di dekat Dhea. Mau tak mau Panji meletakkan kursinya di sana.

__ADS_1


"Eegghhhmm .... Eegghhhmm." Tia sedikit tersedak dan buru-buru menenggak air mineral di hadapannya.


"Pelan pelan buset. Siapa juga yang mau ngambil makanan lo." Dika berusaha keras untuk mencairkan suasana.


"Udah kelaparan dari rumah dia," cletuk Dimas.


Semua kembali tersenyum dan sesekali tertawa renyah. Mereka tak canggung lagi. Panji dan Dhea juga terlihat santai meski duduk bersebelahan. Keduanya ikut ngobrol dan tertawa bersama. Itu membuat siapapun yang melihat merasa tenang. Mereka seolah percaya kalau sudah tidak ada apa-apa lagi.


"Intinya sekarang gini. Kalau ada kenalan cowok yang memenuhi spesifikasi buat Dhea, cepet kenalin. Biar tahun depan kita reunian bisa bawa pasangan sama anak." Dika kembali dengan candaan konyolnya.


"Kok jadi bahas nikah lagi? Apa tadi? Spesifikasi?" Dhea mengeluh dengan senyum tawarnya.


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Jantung Dhea seolah berhenti. Satu sentuhan tangan hangat tepat mengenai tangan kirinya. Padahal tangan itu sedari tadi Dhea sembunyikan di atas lututnya, di bawah meja.


Dhea tak perlu mencari tahu itu tangan siapa. Dhea sudah menduganya. Itu tangan Panji. Orang yang duduk di sisi kirinya. Meskipun tatapan Panji sekarang sedang mengarah pada Dika dan Tia yang tak henti-hentinya bicara.


Sentuhan itu perlahan berubah menjadi genggaman yang semakin erat. Genggaman itu serupa sengatan aliran listrik.


Sengatan yang membuatnya terdiam mematung. Sengatan yang menimbulkan debaran-debaran menyenangkan di hatinya. Sudah sangat lama Dhea tak merasakan hal seperti ini.

__ADS_1


Ah kenapa rasanya seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta? Di umur segini?


__ADS_2