
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Dhea dan Panji sama-sama terkejut. Dhea terpaksa berdiri sementara Panji masih mematung dengan posisi yang sama.
"Kak Luna?" ucap Dhea tak percaya.
"Gila kamu. Bener-bener gila kalian," bentak Luna. Kali ini bukan hanya pada Dhea, tetapi juga pada Panji.
Fahri cepat-cepat turun dari mobilnya dan segera menyusul Luna. "Udah, Luna. Nanti dilihat orang," ucap Fahri mencoba meredam emosi Luna.
"Kalian nggak kapok dengan masa lalu? Mau aku video dan aku sebarkan. Hah?" ucap Luna lagi. "Pulang kamu." Luna menunjuk Panji dengan tegasnya.
"Dia sedikit mabuk, Kak," sahut Dhea pelan.
Luna merasa frustasi. Ia jambak pelan rambut di ujung kepalanya dengan gigi gemeretak. "Aku bener-bener nggak percaya sama apa yang kulihat hari ini."
"Udah, biar aku yang antar pulang. Kalian bisa pergi berdua," ucap Fahri sambil membantu Panji untuk berdiri.
Fahri memberikan kunci mobilnya pada Luna. Fahri memutuskan untuk mengantar Panji pulang dengan mobilnya.
"Masuk!" Luna membuka pintu mobil itu dengan kasarnya.
Dhea yang masih membisu, tak punya pilihan lain. Ia lekas masuk ke mobil sebelum Luna kembali meledakkan amarahnya.
__ADS_1
'Brakkk'
Luna menutup pintu dengan sangat kerasnya begitu memasuki mobil. Kini ia sudah duduk di balik kemudi. Luna menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Setelah sedikit tenang, Luna baru sadar kalau ponselnya terus berdering tanda panggilan masuk. Luna mencari-cari letak ponselnya karena lupa tadi ia lempar ke mana.
Dhea yang sedikit aneh merasakan ada sesuatu di tepatnya duduk langsung sedikit menggeser posisinya. Ponsel itu ada di belakang Dhea.
"Ini, Kak." Dhea menyodorkan ponsel Luna dengan sangat hati-hati. Dhea menyimpan sedikit ketakutan. Walaupun ia sangat ingin segera menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
Panggilan itu berhenti saat Luna baru memegang ponselnya. "Lihat, sebelas panggilan tak terjawab dari Juna." Luna menunjukkan notifikasi panggilan itu pada Dhea.
"Kenapa Juna .... "
"Panji di sana?" tanya Juna langsung dengan suara gelisah.
"Iya," jawab Luna singkat dengan tatapan yang menusuk mata Dhea.
"Sama Dhea?" tanya Juna lagi.
"Iya .... "
"Tidak sengaja," ucap Dhea mencoba sedikit membela diri.
__ADS_1
"Aku sudah membawanya .... " ucapan Luna terhenti begitu menyadari Juna memutus panggilannya. "Kamu lihat, Juna marah sampai nggak bilang apa-apa lagi."
"Kenapa?" tanya Dhea tak mengerti.
"Jadi kamu nggak tahu?"
"Nggak!" jawab Dhea jujur.
"Kamu nggak tahu perasaan Juna selama ini? Jangan pura-pura bodoh, Dhea."
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Bodoh kamu kalau percaya itu," tegas Luna seolah membongkar status Juna sebenarnya. Juna belum menikah.
"Tapi kenapa .... " Dhea lemas seketika. Ia seolah merasa seluruh tulang yang menopang tubuhnya selama ini dicabut paksa.
Dhea menjatuhkan punggungnya hingga tersandar di kursi mobil. Ia menghela napas dalam karena merasa tertipu. Tapi kenapa ....
"Aku nggak akan menjelaskan apapun. Melihatmu dengan Panji barusan membuatku sayang melepas Juna untukmu,"
"Aku ingin menjelaskan semuanya tapi sudah tak punya tenaga," sesal Dhea.
Dhea yang sebelumnya sangat ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya, entah mengapa pikirannya berubah. Dhea tak ingin terkesan tengah membela diri demi bisa mendapatkan restu dari Luna.
__ADS_1
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS