
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Semua bertumpu pada kemarahan Dhea.
Kini Juna memegangi kepalan tangannya yang sedikit gemetar karena rasa sakit. Tangannya berubah menjadi kebiruan dengan beberapa gurat merah hampir berdarah.
"Dokter Juna?" panggil seseorang dari balik punggung Juna. Suara perempuan yang datang melalui tangga darurat, menemukan Juna.
Juna yang terkejut langsung memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jas putihnya. Baru akhirnya ia menoleh dengan mengendalikan ekspresi wajahnya seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Iya Suster .... Putri?" sahut Juna yang sejenak tertahan karena mencoba mengenali wajah itu.
"Lihat Suster Dhea? Tadi katanya mau ke ruangan Dokter Juna," tanya Putri tak merasa ada yang aneh dengan Juna.
"Oh .... emmm .... sepertinya sudah kembali ke ruangannya," jawab Juna sedikit kaku.
"Oh. Ya sudah. Mari, Dok." Putri pamit meninggalkan Juna melalui pintu di lantai itu.
__ADS_1
Juna kembali mengeluarkan tangannya dari dalam saku. Ia sedikit mengerang merasa kesakitan. Namun, saat matanya masih sibuk memandangi memar di tangannya, tiba-tiba Putri kembali membuka pintu.
"Dok, pasien atas nama .... " Putri menghentikan kalimatnya. Entah mengapa, matanya langsung tertuju pada kepalan tangan Juna yang terluka. "Kenapa, Dok?" tanyanya lagi.
"Tidak apa-apa," jawab Juna dengan langsung memasukkan kembali tangan kanannya ke dalam saku. "Ada apa tadi? Pasien atas nama siapa?" tanya Juna pada Putri sengaja mengalihkan perhatiannya.
"Pak Raha, Dok." Putri sebenarnya ingin tetap menanyakan tangan Juna. Namun, ia tahan. Takut tidak sopan dan dikira lancang. 'Sepertinya masalah pribadi. Luka karena disengaja,' desis Putri dalam hati.
"Oh iya. Saya lihat ke sana sekarang," ucap Juna yang langsung berjalan beriringan dengan Putri menuju ruang ICU.
Juna tak bisa menundanya lagi. Kalau itu ia lakukan, nantinya malah akan membuat Putri semakin curiga padanya.
Begitu memasuki ruang ICU, Juna dan Putri menyadari bahwa Dhea tak ada di tempatnya. Di ruang rawat Pak Raha pun juga tak ada.
"Emmm lihat hari ini dulu ya, Pak. Kalau hari ini sudah stabil, kemungkinan besok sudah bisa pindah ke ruang rawat biasa," ucap Juna begitu selesai melihat hasil pemeriksaan dari Pak Raha.
Putri terus memperhatikan punggung tangan Juna saat digunakan untuk membuka data-data medis Pak Raha. Namun, begitu semua selesai Juna kembali memasukkan tangannya ke dalam saku.
__ADS_1
"Dok, sudah di obati?" tanya Putri begitu keduanya keluar dari ruangan Pak Raha.
"Nggak apa-apa kok," jawab Juna santai. Tangannya memang sudah tak sesakit sebelumnya.
"Sini dulu, Dok." Putri sedikit memaksa Juna untuk duduk di tempat jaga perawat. Juna menurutinya meskipun ragu.
Putri lantas mengeluarkan sebotol alkohol dan kapas steril untuk Juna. "Maaf ya, Dok," ucap Putri yang tiba-tiba duduk di hadapan Juna dan memegang tangannya.
"Kayaknya nggak perlu deh. Biar nanti saya sendiri aja." Juna menarik pelan tangannya.
"Susah kalau sendiri," tahan Putri yang tidak juga melepaskan tangan Juna.
"Nggak apa-apa, Sus." Juna kembali menarik tangannya.
"Putri?" ulang Dhea seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Sudah sedekat itukah Juna dengan Suster Putri sampai memanggil namanya seperti itu?
"Suster Putri," ulang Juna membenarkan panggilannya.
__ADS_1
"Aku tidak salah paham," sahut Dhea datar. Juna menghela napas lega. "Dalam pikiranku kamu sengaja melukai tanganmu biar bisa mendapat perhatian dari Suster Putri." Dhea menaikkan sudut bibirnya.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS