
"Aku minta maaf." Tak henti-hentinya Panji mengatakan itu. Bahkan setelah pelukannya berakhir. Kini jemarinya mulai berani menyentuh aliran air mata di pipi Dhea. Panji ingin menghapusnya.
Dhea luluh tak menolak akan sentuhan Panji. Bayangan Rena tak pernah berhasil menggoyahkan scene hidup yang baru saja terjadi.
Pertahanan tangguh dan kepura-puraan bencinya pada Panji, luluh seketika hanya dengan permintaan maaf dan sebuah pelukan. Apa itu terlalu lemah?
"Aku nggak mau lihat kamu nangis." Panji sudah memastikan bahwa tak lagi ada air mata di wajah Dhea. Meskipun hisakannya masih beberapa kali terdengar.
Panji selalu seperti itu. Dia orang yang sangat baik. Dhea tahu itu. Namun, seperti ini juga kah sikap Panji ke istrinya, Rena?
Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata pun. Setelah semuanya tenang, Dhea dan Panji memutuskan untuk turun. Namun, entah sejak kapan mereka mulai bergandengan tangan? Di dalam lift pun tangan mereka tak terlepas. Sangat erat.
Lift terus turun. Dhea menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Panji saat pintu hampir terbuka di lantai lima, tujuan mereka.
Keduanya saling pandang. Sebuah tatapan yang saling mereka rindukan satu sama lain selama bertahun-tahun ini.
Benar, hubungan mereka belum selesai. Mereka masih menyimpannya dalam dan rapat. Tak ada yang berhasil menyentuh, menggeser, apalagi menggantinya. Keduanya berhasil bertahan, sekalipun Panji sudah milik wanita lain.
Bara cinta itu mungkin terlihat padam. Namun, sulutan api membuatnya kembali membara. Dan hanya orang yang mereka inginkanlah yang bisa melakukannya.
__ADS_1
Tatapan itu masih belum berhenti. "Aku ingin .... " Kalimat Panji terputus oleh pintu yang terbuka. Keduanya langsung saling menjauh.
"Dhea .... Eh Sus?" Di ambang pintu ada Luna yang sedari tadi mencoba menghubungi Dhea tapi tak bisa.
Dhea terkejut. Pikiran Dhea penuh gemuruh suara tak jelas. Dadanya seolah ditusuk-tusuk oleh detak jantung yang tak seperti biasanya. Sakit!
"Dokter Luna?" Dhea khawatir Luna curiga akan sesuatu. Ia takut ketahuan. 'Ah begini kah rasanya ketahuan punya something dengan suami orang?'
"Sini dulu." Luna mengajak Dhea ke sudut lorong untuk membicarakan sesuatu. Sementara Panji, ia berjalan ke lorong yang berlawanan untuk kembali ke kamar rawat istrinya.
Sesekali Panji menoleh ke arah Luna dan Dhea. Ia ingin mengetahui seserius apa obrolan antara dokter dan perawat itu. Masalah kerja atau masalah pribadi.
Panji juga menyimpan sedikit khawatir kalau-kalau Luna mengetahui hubungannya dengan Dhea. Loh, memang mereka punya hubungan apa?
"Iya udah," jawab Panji datar. Pikirannya masih ia tinggal di luar sana. Masih ada pada Dhea.
"Ya udah ayo. Mama sama Papa udah berangkat dari Jakarta tadi jam sepuluh. Nanti nginep di rumah kita ya. Kemungkinan cuma Mama soalnya Papa harus kerja besok. Aku mau ditemenin Mama sampai sembuh. Nggak mau ditinggal sendiri. Kamu 'kan kerja terus," ucap Rena panjang lebar yang tak mendapatkan jawaban apapun dari Panji.
Panji sibuk membereskan baju-baju miliknya dan beberapa milik Rena. Ia masukkan ke dalam tas tenteng yang tak terlalu besar.
__ADS_1
"Sudah kuat jalan sendiri ke basemen?"
"Nggak dong. Buat apa ada kursi roda kalau gitu?" Rena memang sudah tak marah pada Panji tapi sifatnya malah semakin manja dan menjengkelkan.
Lagi-lagi Panji hanya diam. Ia menggendong istrinya dari ranjang lalu ia dudukkan di kursi roda. Aneh sebenarnya. Ganti baju sendiri saja bisa tapi ke kursi roda minta digendong.
Panji sabar. Ia baik. Atau sebenarnya Panji hanya malas berdebat dengan istrinya yang tak pernah mau mengalah itu.
ššššš
Dhea kecewa bukan main mendapati kamar Rena sudah bersih dan rapi. Tak ada seorang pun di sana. Panji sudah pulang.
Percuma saja Dhea memberanikan diri untuk masuk ke kamar itu. Panji tak lagi ada di sana. Ia tak bisa bertemu Panji untuk terakhir kalinya, mungkin!
"Ahhh, secepat itu?" ucap Dhea pelan. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam pendek hampir menunjuk angka tiga.
Ia kehilangan Panji hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Tanpa sepatah kata pun. Tanpa bertanya mungkinkah keduanya saling menghubungi. Dhea baru menyesal telah membuang kartu nama Panji malam itu.
Dhea berbalik dan kembali ke ruangannya dengan napas berat. Langkahnya juga tak secepat saat ia menuju kamar Rena sebelumnya. Dhea diminta untuk mendampingi Dokter Luna melakukan operasi caesar.
__ADS_1
Panggilan dan obrolan serius itu ternyata tentang operasi caesar, bukan tentang Luna yang curiga akan hubungan Dhea dan Panji. Toh, sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, Luna tak tahu Panji yang mana.
BERSAMBUNG....