
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Juna, kamu kok bisa di sini?" Dhea bingung sekaligus terkejut. Ia bahkan berpikir mungkin saja salah janji atau salah menghubungi orang. Dhea langsung memeriksa pesan di telepon genggamnya.
"Bener kok. Harusnya memang bukan aku yang di sini. Orang itu nggak akan dateng." Juna menjelaskan dengan nada santai. "Bisa kita makan dulu? Kalau bisa, singkirkan juga muka heranmu itu. Mengganggu!" tegas Juna.
"Iya bener, aku heran. Kenapa?" tanya Dhea.
"Kamu nggak bisa senyum buatku hari ini aja?" Kata-kata Juna semakin aneh. Dhea tak mengerti.
Juna yang duduk langsung menghadap pintu ke luar mendapati Rena pergi dengan mencoba menutup-nutupi wajahnya. Juna tersenyum sinis. Entah senyum itu untuk siapa. Untuk Rena atau untuk Dhea yang masih bengong di depannya.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Dhea sejenak terdiam. Ia tertunduk sedih. "Aku .... "
__ADS_1
Panji merengkuh tubuh Dhea ke dalam pelukannya. Sangat tiba-tiba sampai Dhea terkejut.
"I love you." Panji mempererat pelukannya. Ia kecup ujung kepala Dhea dengan lembutnya. "Dua bulan ini adalah waktu terbaik selama lima tahun berpisah denganmu. Terima kasih sudah kembali."
Panji memejamkan matanya. Ia sangat berharap akan menghabiskan malam ini, bersama Dhea, seperti ini. Hanya berdua. Memeluknya.
'Deg'
Jantung Dhea seolah ingin melompat. Kenapa di saat-saat Dhea ingin mengucapkan perpisahan, Panji malah semanis ini?
Kenapa kata-kata itu begitu lembut membelai sensori telinga Dhea? Kalimat itu seketika menjadi candu baginya. Kalimat yang Dhea harap bisa ia dengarkan setiap hari, setiap menit, bahkan detik ia menghela napas.
Panji membuka matanya. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Tidak tahu diri! Tidak tahu malu." Rena menarik rambut Dhea berharap wanita dalam pelukan suaminya itu segera menjauh.
__ADS_1
"Rena, sebentar. Dengarkan aku dulu." Panji berusaha mengampiri istrinya yang kalap, buta dengan kemarahannya.
"Diem kamu, Mas. Aku udah rekam kelakuan kalian malam ini. Kamu mendekat satu langkah saja, aku sebar video ini biar satu Indonesia tahu." Rena mundur. Masih dengan menarik rambut Dhea. "Tidak, akan aku buat dunia tahu. Tidak ada tempat buat kalian lagi menyembunyikan muka hina kalian."
"Saya minta maaf," ucap Dhea yang kesakitan.
"Rena tenang dulu. Lepasin dulu Dhea."
"Berhenti kubilang!" teriak Rena saat menyadari langkah kaki Panji mencoba mendekatinya.
Dhea menggigit bibir bawahnya. Ia tengah menahan tangis dan rasa sakit. Bukan sakit di kepalanya yang tak seberapa itu, tetapi ia menyadari sakit di hatinya. Hidupnya di ambang kehancuran.
Ia mengingat mimpinya semalam. Semua sudah menjadi kenyataan di malam berikutnya. Harusnya juga, Dhea mendengarkan apa yang Juna katakan tadi siang. Ahh andai Juna bisa membantunya malam ini. Dhea mulai terhisak penuh sesal.
"Aku udah ngikutin si jalang ini dari pagi. Aku hampir nyerah begitu tahu yang dia temui di kafe tadi siang itu Juna bukan kamu, Mas. Tapi malam ini .... "
__ADS_1
"Apa?" Dhea terkejut mendengar ucapan Rena barusan. Ada sesuatu yang ia tak tahu tadi siang. Alasan kenapa Panji tak datang, alasan kenapa Juna tiba-tiba muncul. Semua terjawab malam ini. Dhea kecewa pada Panji dan merasa bersalah pada Juna. "Juna .... " ingin rasanya Dhea berteriak memanggil orang yang sudah menolongnya dua kali itu.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS