
Dhea memalingkan wajah. Ia menghindari tatapan mata Luna. Luna tengah mencecar kejujuran Dhea mengenai hubungannya bersama Panji.
"Sudah berakhir, Kak." Dhea berusaha membuat Luna mempercayai kata-katanya, meskipun itu sulit.
"Aneh. Baru kali ini aku nggak percaya sama kamu." Suara Luna ketus menjawab Dhea.
"Sudah berakhir. Sudah kuakhiri. Aku nggak sanggup hidup dalam teror bayang Rena." Dhea tertunduk. Tubuhnya tersandar di tembok dan perlahan luruh hingga terduduk di lantai.
Bulan lalu, Dhea berkata sudah menghindar dari Panji tapi malah berakhir di pelukannya. Dhea ingin menjauhi pria itu tapi beberapa hari lalu malah Dhea diam saja saat Panji berbisik di bibirnya. Mereka pulang hampir tengah malam. Dhea membuat suami orang pulang telat ke rumah.
"Aku ini di depan kamu. Di hadapan kamu, Dhea. Aku bukti nyata dari rumah tangga yang hancur karena orang ketiga." Suara Luna belum juga melunak. Ia terdengar seperti seorang kakak yang tengah memarahi adiknya yang membandel. "Berdiri, kamu nggak selemah itu!"
"Ini sulit. Ini lebih sulit dibandingkan waktu Panji pergi dulu."
"Bohong. Berdiri!" Luna mencengkram pundak Dhea dan membuatnya berdiri. "Ayahmu meninggal, orang-orang mendatangimu menuntut pembayaran hutang, mama Panji menghinamu, Panji pergi untuk wanita lain. Itu semua terjadi sekaligus padamu. Itu lebih sulit," tukas Luna mencoba menyadarkan Dhea. "Jauhi dan lupakan. Cari pengganti Panji."
__ADS_1
"Kalau mudah, sudah kulakukan bertahun-tahun lalu."
Ya, itu memang sulit untuk Dhea. Dhea masih sendiri sampai detik ini bukan karena tidak ada pria yang mengantre untuknya. Namun, Dhea benar-benar tak bisa membuka hatinya untuk pria lain.
"Kosongkan hatimu. Isi dengan orang lain. Masih banyak pria yang lebih baik dari Panji yang tentu saja masih sendiri."
"Panji masih terus menghubungiku. Dia nggak gampang nyerah, Kak. Aku udah usaha keras buat mengabaikannya." Dhea marah pada dirinya sendiri yang menjadi lemah saat menyangkut perasaannya pada Panji.
"Suruh Juna menghubungimu. Dia bakal mau biarpun kamu memintanya setiap satu jam sekali. Tidak, mengobrol denganmu 24 jam selama 7 hari pun dia nggak akan keberatan."
"Kak Luna rela jadiin dia tumbal?" tanya Dhea tak enak hati pada Luna, terlebih pada adiknya Juna.
"Kosongkan dulu hatimu. Itu yang paling penting." Luna menepuk bagian luar lengan Dhea. "Cepat ganti baju terus turun. Juna menjemputmu," tutup Luna yang harus melanjutkan pekerjaannya. Sementara Dhea, ia baru selesai dengan shift kerjanya.
šššš
__ADS_1
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Nggak perlu kecuali kamu mau ngasih aku sekalian sama taman-tamannya."
"Kalau gitu aku harus kerja lebih keras lagi biar bisa beli taman bunga buat kamu." Juna tertawa renyah.
Saat semua wanita menyukai hal-hal berbau romantis, Dhea justru menolak dengan sangat tegas. Sebenarnya ada apa dengan wanita ini?
"Kamu libur atau menyerah, keluar? tanya Dhea masih dengan posisi yang sama.
"Kamu mau yang mana?"
"Kamu nggak mau satu rumah sakit sama Kak Luna?"
"Dokter residen di luar negeri dapat gaji," sahut Juna.
__ADS_1
"Di Indonesia?" tanya Dhea yang benar-benar tidak tahu.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS