
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Dhea tersentak dan menarik tangannya yang masih terkunci di jabatan lelaki tua itu. Tubuhnya refleks melangkah mundur, mencoba menghindari sentuhan Danu lebih lama lagi.
Dhea harus segera menghindar sebelum rasa mual berlebih menyerangnya. Sebelum beberapa orang yang masih di sana memperhatikannya juga.
"Saya dengar kamu belum juga menikah. Bagaimana hubunganmu dengan lelaki itu? Memangnya masih berlanjut? Sampai-sampai kamu belum juga menikah." Lagi-lagi Danu memborbardir Dhea dengan kalimat yang tak bisa diterima oleh telinganya.
"Do'akan saja, Pak. Saya cepat melepas masa lajang," jawab Dhea sambil melempar senyum palsu.
"Tidak dengan lelaki itu, 'kan?"
__ADS_1
"Oh. Saya lebih memilih pria lajang, Pak."
"Jangan terlalu pemilih dengan usiamu yang tak muda lagi. Coba dulu dengan sa.... "
Kalimat Danu terputus karena respon Dhea yang menghindarinya. Sekali lagi, Dhea memundurkan posisinya lagi satu langkah saat menyadari Danu kembali mendekatinya dengan tangan terulur. Dhea tak mau pundaknya atau tangannya disentuh lelaki itu lagi.
Ponsel Dhea yang tiba-tiba bergetar akhirnya menyelamatkannya. Ada panggilan masuk. 'Bagus. Aku punya alasan untuk pergi dari sini,' ucap Dhea dalam hati.
"Maaf, Pak. Saya harus menerima telepon." Dhea menunjukkan notifikasi panggilan di layar ponselnya dan mengambil langkah mundur.
Dulu saat Dhea bertugas di Tangerang, Danu tahu tentang video perselingkuhannya dengan Panji yang sedang hangat-hangatnya. Danu lantas mencoba ikut mendekati Dhea dengan harapan Dhea mau menjadi simpanannya. Bukan usia dan kebugaran raga yang Danu tawarkan, melainkan uang yang ia miliki.
__ADS_1
'Biaya hidup dan keperluanmu tak perlu lagi dikhawatirkan. Kamu bahkan bisa tinggal di apartemen bagus dan membeli apapun yang kamu mau. Aasalkan mau datang kapanpun dan di manapun saat saya panggil.' Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Dhea.
Dhea bukan hanya merasa jijik dengan Danu, tapi juga dengan dirinya sendiri. Dhea sangat menyesal sudah membuat orang bebas menilai dan memandangnya rendah. Itu kesalahan yang sangat ia sesali seumur hidupnya. Andainya ia tak mengambil jalan keliru dengan kembali menjalin hubungannya bersama Panji. Ahh andaikan saja Dhea bisa memperbaiki masa lalu.
Sayangnya, bukan hanya Danu yang seperti itu pada Dhea. Ada banyak lelaki serupa yang menawarkan Dhea malam menggairahkan di hotel mewah. Mereka bergantian menawarkan uang, kepuasan, dan sentuhan pada Dhea.
Mereka pikir Dhea berselingkuh dengan Panji hanya karena butuh uang atau mengobati rasa kesepian. Tidak akan jauh-jauh dari kecukupan uang dan belaian kasih sayang seorang laki-laki. Wajar, Dhea belum juga menikah, pikir mereka.
Dan lagi, tak ada seorang pun yang bisa mengabaikan Dhea. Statusnya yang masih single dengan tubuh sedemikian sempurna membuat hampir semua lelaki tergoda. Banyak lelaki menginginkannya, mungkin juga hanya tubuhnya. Mulai dari sesama rekan kerja, dokter, bahkan sampai dengan pasiennya.
Meskipun tak semua seperti itu. Ada beberapa yang mungkin juga tulus memiliki perasaan pada Dhea. Dhea tetap menepisnya. Menganggap mereka sama saja atau menganggap dirinya sendiri terlalu rendah untuk orang itu. Dhea merasa tak pantas.
__ADS_1
Masa itu adalah masa tersulit bagi Dhea. Dhea menjalaninya dengan sesak di dada. Air matanya pun seolah ia habiskan di masa-masa itu. Berulang kali pikiran buntu mengantuinya. Bukan hanya pergi ke tempat terpencil yang tak seorang pun mengenalnya, Dhea bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS