AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Aku Masih Kekasihmu


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Cinta mereka bukan lagi cinta monyet ala anak remaja. Mereka sudah di ambang tiga puluhan. Cinta mereka harusnya dipenuhi logika. Tapi apa iya cinta bisa dilogika? Cinta bukan matematika!


Dhea masih sibuk dengan pikirannya saat Panji memasangkan seatbelt untuk Dhea. “Kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Panji santai seolah tengah melakukan sesuatu yang wajar.


Dhea yang tersadar langsung menahan napas dan menyandarkan posisi duduknya demi menjauh dari Panji, “ini sudah cukup untuk membuatku merasa canggung,” jawab Dhea menanggapi.


“Nggak perlu canggung. Kamu lagi sama aku, bukan orang lain." Panji kembali ke duduknya. Begitu selesai dengan seatbelt-nya sendiri, Panji pun langsung menginjak pedal gas.


"Kamu belum tahu alamatku. Ini mau kemana?" Dhea mulai menegakkan duduknya.


"Bilang kamu tinggal dimana." Panji santai. Ia tak peduli dengan arah yang salah. Itu hanya akan membuatnya lebih lama bersama Dhea. Itu yang ia inginkan.


"Putar balik," pinta Dhea.


"Simpan nomormu di HP-ku, Dhe. Aku mau menghubungimu."

__ADS_1


Dhea langsung tersadar kalau handphone Panji masih belum berpindah tangan. Dhea masih menggenggamnya erat-erat.


"Jangan, Panji."


"Kenapa?"


"Aku harus berhenti sekarang sebelum semuanya semakin rumit."


Panji melambatkan laju mobilnya. ia menepi dan berhenti. Panji menatap wanita di sampingnya. Sangat dalam hingga mampu menerka sekalut apa isi pikirannya.


"Dhea .... " Panggil Panji lirih.


"Aku tadi menjatuhkan Hp-mu saat Rena menelepon. Aku takut. Tanganku gemetar. Ada yang salah?"


"Kita baru saja bertemu, setelah sekian lama. Aku memang selalu gagal menahan diri kalau bersamamu. Maaf."


"Aku nggak bisa bayangin perasaan Rena kalau tahu suaminya seperti ini." Wajah Dhea menoleh ke Panji. Kedua pasang mata itu bertemu.

__ADS_1


Mata nanar Dhea menusuk dalam ke jantung hati Panji. Ia merasa perih. Hitungan tahun ia meninggalkan Dhea, entah sudah berapa kali ia membuat mata wanita itu menangis. Atau malah memang tak pernah mengering.


"Apa dia dulu peduli perasaanmu? Dia yang mengambil aku darimu, Dhea. Sekarang kamu masih memikirkannya?"


"Dia istrimu, Panji."


"Aku masih kekasihmu, Dhea. Selama kamu belum memilih laki-laki lain. Kamu tetap milikku."


"Sejak kapan kamu jadi seegois ini?" Satu titik air mata pecah jatuh ke pipi merah muda Dhea. Wanita tangguh itu lagi-lagi menunjukan kerapuhannya.


"Aku sedang dihukum. Melihatmu menangis sekarang adalah hukumanku karena sudah meninggalkanmu dulu." Keduakalinya. Ini keduakalinya Panji menyentuh pipi Dhea demi bisa menghapus air matanya.


"Jangan egois. Kamu bukan orang seperti itu. Kalau kamu menjauh dariku, aku pun akan lebih mudah melupakanmu." Dhea menepis tangan Panji. Ia tak bisa membiarkan sentuhan lelaki itu lebih lama lagi menjelajah wajahnya.


"Berhari-hari aku memikirkanmu tanpa bisa menemuimu. Hari ini aku datang ke kafe seperti orang gila. Kalau aku beruntung, aku bisa bertemu denganmu. Aku sengaja meninggalkan HP-ku di sana. Berharap .... "


"Istrimu menelepon." Dhea memberikan handphone itu ke Panji.

__ADS_1


Ingin rasanya Dhea keluar dan membanting pintu mobil saat menutupnya. Namun, ia tak sanggup melakukannya. Dhea hanya berakhir dengan memalingkan muka, menatapi beberapa kendaraan yang masih berlalu-lalang di jalanan malam saat itu.


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2