AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Anda Kenal Saya?


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"ICU di lantai dua," ucap Hesti, seorang manager perawat mencoba membawa Dhea ke lantai dua rumah sakit bertingkat empat itu.


Dhea akan menjadi salah satu perawat di ICU. Hari ini hanya sebatas setor muka. Hari kerjanya baru efektif mulai besok.


Pertempuran masih akan di mulai besok. ICU atau Intensive Care Unit adalah ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan penyakit atau cedera serius.


Pasien yang ada di ICU adalah orang yang memerlukan perawatan intensif dan observasi berkelanjutan. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang berada di fase antara hidup dan mati.


Sembari berjalan, Dhea menyimak apa yang di jelaskan oleh kepala perawat di sampingnya. Dhea harus mengingat tata letak bagian dan ruangan-ruangan di rumah sakit itu.


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS

__ADS_1


"Emm .... kami menemukan beberapa kendala penyembuhan pada anak Ibu." Juna sejenak menghentikan kalimatnya. Ia tarik napas dalam untuk melanjutkan penjelasan panjangnya.


"Apa sakitnya serius, Dok?" tanya wanita muda di hadapan Juna. Seorang Ibu dari anak berusia lima tahun yang terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena epilepsi.


"Untuk memastikannya kembali mengapa kejang terus berkelanjutan malah diikuti penurunan kesadaran, demam, dan sesak napas padahal sudah diberikan terapi obat lini satu dan dua .... "


"Separah itu, Dok?" tanya wanita itu terus memotong kalimat Juna.


"Setelah melalui pemeriksaan fisik dan laboratorium kami menemukan adanya gejala infeksi yang mengenai sistem saraf pusatnya," ucap Juna pada ibu pasien dengan pilihan kata yang semudah mungkin untuk bisa dimengerti. "Semakin lama durasi kejang, maka akan semakin memburuk dan berbahaya karena menjadi lebih tidak responsif terhadap terapi yang sudah diupayakan, Bu. Jadi kami usahakan secepat mungkin menanganinya,"


"Tidak, Bu. Pengobatan masih berupa terapi obat .... "


"Dari kemarin juga terapi obat, Dok. Buktinya sampai sekarang masih kejang-kejang anak saya,"

__ADS_1


"Iya, kali ini levelnya berbeda. Obatnya pun berbeda. Emm .... lebih mudahnya kemarin itu level satu dan dua sementara sekarang level tiga. Kita lihat kondisinya sampai dua atau tiga hari ke depan ya, Bu." Juna masih dengan sabar memberi pengertian pada orangtua pasiennya itu.


Wanita itu berakhir dengan kata, "baik, Dok." Ia memutuskan kembali ke ruang rawat anaknya. Juna mengantar hingga di depan pintu.


"Terima kasih, Dok. Saya permisi dulu," pamit wanita itu. Namun, kemudian berbalik dan kembali bertanya, "apa tanda-tanda kalau anak saya sudah sembuh dan bisa pulang, Dok?"


Juna mengangkat pandangannya yang sempat tertunduk ke lantai. "Nanti saat anak ibu tidak kejang lagi dalam waktu dua puluh empat jam. Setelah itu kami akan menurunkan dosis obatnya. Bila keadaannya membaik tanpa kejang, maka anak ibu boleh pulang," jawab Juna sambil memutar-mutar cincin di jari manisnya.


"Baik, Dok."


Juna menghela napas lega setelah wanita itu pergi dalam keadaan yang lebih mengerti tentang kondisi anaknya. Juna hendak masuk ke ruangannya kembali. Ia harus melepas jas putihnya untuk makan siang ke luar.


Saat tubuhnya hendak berbalik, pandangan Juna melihat ke sisi kanannya. Seorang wanita berdiri terpaku di sana. Mata itu tak berkedip memandangi wajah Juna saat tidak sengaja menangkap adanya cincin di jari manis Juna yang masih Juna putar-putar tanpa sadar.

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2