
'Plak!'
Sebelum Dhea menyelesaikan bicaranya untuk menjelaskan hubungannya bersama Panji,
Rena sudah lebih dulu menamparnya. Sangat keras hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Ungkapan kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang membuatnya terlihat semakin jelas.
”Kamu .... berani-beraninya menginginkan apa yang sudah menjadi miliku. Dasar
murahan,” bentak Rena bercampur dengan tangis yang sekuat tenaga ia tahan sebelumnya.
"Jangan sebut aku murahan." Dhea mencoba membuat suaranya terlihat tangguh. Padahal ia sekarang benar-benar sedang gemetar ketakutan.
"Kalau bukan wanita murahan kenapa menggoda suami orang?" Rena mengertakkan gerahamnya. Ia tarik rambut panjang Dhea hingga mau tak mau Dhea mendekat pada Rena.
"Lepas!" Dhea berteriak.
__ADS_1
"Jangan berteriak padaku. Kamu harusnya minta maaf sambil sujud bukan malah nggak tahu diri seperti ini."
Rena belum juga melepaskan Dhea. Rena terus menjambak Dhea. Ia tarik rambut Dhea sambil mengajaknya mengelilingi lobi rumah sakit.
"Kenali wajah wanita ini, jangan sampai suami kalian direbut olehnya. Jangan sampai kalian bernasib sama sepertiku." Suara Rena menggema memenuhi lobi rumah sakit. Setiap pasang mata yang ada di sana melihat ke arah mereka.
"Lepas .... " Dhea memberontak. Ia melepas paksa dirinya dari cengkraman Rena. Hingga tangan Rena dipenuhi helaian rambut Dhea yang tertinggal. Dhea kesakitan memegangi kepalanya.
"Jangan membentakku. Kamu cuma pel*cur yang derajatnya jauh lebih rendah di bawahku." Rena mendorong Dhea hingga jatuh tersungkur ke lantai.
Mulai dari atasan, rekan kerja, sampai orang asing di rumah sakit itu terus memandanginya. Mungkin Dhea lebih memilih membunuh dirinya dibandingkan harus kembali bekerja di sana. Ia sudah tak punya muka lagi.
Dari puluhan bahkan mungkin ratusan mata di sana tak ada yang mau membantunya. Mereka menatap Dhea dengan tatapan kebencian. Bahkan sebagian seolah berkata bahwa Dhea memang pantas diperlakukan seperti itu.
”Tampar aku, permalukan aku. Aku pantas menerimanya,” suara Panji muncul dari balik kerumunan orang-orang yang melihat Dhea dan Rena. Panji memutar tubuh Rena agar segera berpaling dari Dhea dan berbalik menatapnya.
__ADS_1
"Aku nggak akan nampar kamu, Mas. Aku akan membunuhmu?" Rena menangis sejadinya. Kini air mata membanjiri pipinya yang putih terawat itu. "Kamu bisa-bisanya masih membela wanita ini," bentak Rena.
"Aku yang berhak menerima luapan kemarahanmu!"
Rena masih dengan hisakannya. Tubuhnya berpindah mendekati Panji. Ia memukul-mukulkan kepalan tangannya ke dada Panji berulang kali. "Sebenci-bencinya kamu ke aku, harusnya kamu nggak sejauh ini nyakitin aku, Mas."
Panji memegangi pergelangan tangan Rena. Ia pegang erat dan menarik Rena hingga berakhir dalam pelukannya. Panji memeluk Rena, mencoba meredakan kemarahan dan kesedihan istrinya itu. "Aku minta maaf."
Dhea yang masih terduduk di lantai semakin pedih menatap Panji yang membiarkannya begitu saja. Panji hanya bisa melihat Dhea sambil terus memeluk Rena. Ya, bagaimanapun istri tetap nomor satu. Jangan bermimpi, Dhea!
Sekarang, Dhea dikelilingi orang-orang dengan tatapan merendahkannya. Sangat menakutkan. Dhea sampai tak bisa mengangkat pandangannya. Ia terhisak sendiri. Tak ada yang menyelamatkannya. Tak ada yang menolongnya.
Hanya Dhea yang bisa menolong dirinya sendiri. Ia masih menyembunyikan wajah dan tangisnya. Ia biarkan rambut panjangnya terurai menutupi wajah. Dhea mencoba bangkit, berdiri. Ia berharap bisa pergi secepatnya, menyembunyikan diri atau mati saja.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
__ADS_1