AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Aku yang Akan Pergi


__ADS_3

Dhea sangat kerepotan saat keluar dari apartemennya. Tangannya sibuk menarik koper berukuran sedang, di kedua pundaknya bertengger satu tas ransel, dan satu falp bag di pundak kirinya. Dhea siap pergi.


Kaki jenjang berbalut celana jeans dan beralaskan sepatu kets itu melangkah dengan pasti. Dhea sudah berakhir di taksi yang siap membawanya siang ini.


Tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada ponselnya yang bergetar. Satu pesan Dhea terima.


[Aku ingin bertemu. Kumohon]


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Panji sudah menemukan meja yang dimaksud oleh Dhea. Namun, begitu pandangannya sedikit terangkat, Panji mendapati seorang wanita telah duduk di sana. Itu Rena bukan Dhea.


Mata suami istri itu bertemu dalam satu tatapan. Mereka sama terkejutnya. Panji dan Rena tidak tahu satu sama lain. Janji bertemu dengan Dhea malah mempertemukan keduanya.


Rena hanya tahu kalau Panji masih di tempat kerja. Sementara Panji, ia berpikir Rena masih mengurung diri di rumah. Seharian ini mereka sama sekali tidak berkomunikasi. Pertengkaran di rumah tadi pagi membuat semuanya semakin dingin.


Kepalang tanggung. Panji pun mendekat dan duduk di hadapan Rena.

__ADS_1


"Kita punya janji pada orang yang sama," ucap Rena pelan. Panji diam tak menanggapi.


Itu kalimat pertama dan terakhir hingga lima belas menit sejak keduanya bertemu. Tidak ada yang membuka suara lagi. Mereka sudah seperti orang asing.


Seorang pelayan datang membawa segelas affogato untuk Rena dan secangkir espresso untuk Panji.


"Kami belum pesan," ucap Rena pada pelayan.


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Panji lagi-lagi diam. Ia tak mengatakan apapun. Entah percaya atau tidak. Rena terus melanjutkan ucapannya, "sebenarnya .... kecelakaan itu karena aku melamun. Haris bilang ada yang mengancamnya dengan foto-foto kami. Orang itu mengancam akan menjatuhkan Haris dengan foto-foto itu mengikuti skandal pelecehan Haris bersama model .... "


"Aku tidak mau dengar."


"Aku takut kamu tahu, Mas. Aku sangat kacau saat itu." Tangis Rena mulai bersuara. Tak lagi bisa ditahan. "Kecelakaan itu .... "

__ADS_1


"Jadi aku dibohongi? Orang itu bilang sudah menyerahkan foto dan file-nya padaku. Dia bilang tak punya salinannya," tanya Panji saat menyadari dirinya sudah ditipu. Ternyata orang itu menggunakan foto yang sama untuk memeras Panji dan Haris. Parahnya, foto itu sekarang tersebar di televisi dan media online lainnya.


"Mas, sudah, Mas." Rena mencoba membuat Panji lebih tenang. Ia tak ingin melihat panas hati suaminya lebih membara. "Kita besok ada jadwal ke rumah sakit dengan Mba Nandin. Kita harus mulai cek untuk keperluan bayi tabung kita." Rena meraih tangan kiri suaminya di atas meja. Tangan kanan Panji masih saja sibuk di bibir cangkir espressonya.


Panji memberikan tatapan mata yang lebih tajam dan dalam. Meski Panji tak menarik tangannya dari genggaman Rena tapi ia tetap dingin. "Apa yang sudah kamu katakan pada Dhea?"


"Kenapa, Mas?" Rena merasa khawatir.


"Kamu hanya tinggal menjawabnya,"


"Aku minta tolong untuk mengembalikanmu padaku .... "


"Apa?" Panji terkejut dan menarik tangannya.


"Aku akan mengingat kebaikannya seumur hidupku kalau dia mau membantuku. Dhea memintaku bertemu dengannya di sini. Aku tidak tahu kamu yang akan datang."


'Dhea memintaku tetap bersama Rena,' pikir Panji dalam hati. 'Dhea sudah ada di pihak Rena. Itu sebabnya ia memberikan minuman pahit padaku, sementara untuk Rena .... "

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2