AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Kamu Tak Pernah Tahu


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Mendengar suara seseorang, Dhea yang duduk kursi panjang di rooftop rumah sakit pun menoleh. Ah Juna.


Jangan-jangan mau berdebat lagi. Padahal satu Minggu ini, Dhea berhasil menghindar darinya. Atau malah Juna yang tak mau menampakkan batang hidungnya di hadapan Dhea?


"Jadi, kapan berangkat?" tanya Juna yang sepertinya sudah tahu kalau Dhea akan ke Bandung.


"Lusa," jawab Dhea malas.


"Harus kamu?" tanya Juna lagi.


"Iya,"


"Berapa lama?" Juna masih mencecar Dhea dengan rasa ingin tahunya.


"Satu minggu,"


"Harus berangkat?"


Wajah Dhea yang semula datar, sedatar suaranya kini berubah menjadi kesal. Ia menoleh ke arah Juna yang baru saja terhenyak duduk di sampingnya.


"Kamu harus duduk di tempat lain," ucap Dhea dengan sirat mata tajam.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku nggak mau deket-deket lelaki beristri." Dhea mencoba mengingatkan perdebatan mereka di lorong rumah sakit Minggu lalu.


"Kalau gitu kamu yang pergi 'kan kamu yang keberatan," jawab Juna menyebalkan.


Mendengar itu, darah Dhea mendidih sampai ke ubun-ubun. Hampir saja meledak. Itu bisa saja terjadi kalau ia tetap berdekatan dan ngobrol bersama Juna.


Dhea bangkit dari duduknya. Matanya mengedar mencoba menemukan tempat duduk lain. Kalau tidak ada, ia memilih pergi.


Tiba-tiba .... Juna menarik tangan Dhea hingga tubuhnya kembali duduk di tempat yang sama.


"Juna .... " Dhea mengibaskan tangannya agar tangan Juna segera terlepas. Dhea terkejut dan merasa tak nyaman.


"Kamu pikir aku sudah gila?"


"Kamu sudah gila. Itu alasannya aku pergi .... " Juna berhenti bicara. Sejenak ia menoleh dan menatap mata Dhea. Dahinya berkerut ingin menggambarkan keseriusannya. "Cuma aku nggak tahu, sekarang kamu sudah sembuh atau belum." Juna lalu melepaskan pandangannya dari Dhea. Matanya kembali menatap kejauhan.


"Kamu ngelihat aku masih seburuk dulu ternyata," ucap Dhea terluka.


"Aku tahu kamu kuat. Berusaha sangat kuat. Tapi .... bertemu dengan lelaki itu bisa saja membuatmu goyah lagi seperti dulu."


"Kamu pernah dimaki, dijambak, direndahkan, dipermalukan, ditampar, pernah disiram minuman di kepalamu, atau pernah ditawar harga dirimu?" tanya Dhea sejenak berhenti. Ia mencoba memberi waktu pada Juna untuk menjawabnya. Namun, Juna hanya terdiam. "Aku pernah merasakan semua itu dan asal kamu tahu itu .... "

__ADS_1


"Itu sakit. Itu berat," ucap Juna memotong kalimat Dhea. "Jadi jangan pernah kembali ke masa itu!"


"Kamu pikir aku mau kembali ke masa itu?" Sekarang giliran Dhea yang menoleh ke Juna. Ia mencoba menatap lelaki di sampingnya itu meski dengan mata nanarnya.


"Bagus kalau kamu nggak mau kembali. Semangat," ucap Juna yang diakhiri dengan hembusan napas berat.


Juna lalu berdiri dari duduknya. Ia rogoh saku jas kerjanya, "kayaknya kamu butuh yang manis-manis," ucap Juna sambil menjatuhkan susu kotak tepat di telapak tangan Dhea yang ia pangku.


Dhea mengernyitkan dahinya. Alisnya hampir bertemu. Susu kotak itu masih menjejal memenuhi penglihatannya. Namun, begitu Dhea mau mengembalikannya, Juna sudah berlalu di belakang punggungnya.


"Sejak kapan aku suka stroberi?" tanya Dhea setengah berteriak.


"Terima aja. Kasihan dia, dua kali ditolak kalau kamu juga nggak mau," jawab Juna tanpa menoleh.


"Siapa yang nolak?"


"Istriku!"


"Aku nggak nerima apapun dari lelaki beristri. Kamu lupa?" Dhea semakin meninggikan suaranya karena Juna semakin jauh.


"Kalau gitu anggap aja aku duda!"


"Gila kamu!" Kali ini suara Dhea mengecil.

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2