
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Dia meminta maaf sampai berlutut. Aku nggak bisa hanya diam saja. Aku tahu rasanya berlutut pada seseorang. Itu menyakitkan, memalukan, meruntuhkan harga diri yang seumur hidup ingin kujaga," timpal Dhea.
"Oh minta maaf?" sahut Luna dengan nada mengejek sinis.
"Kak Luna nggak tanya, dia minta maaf untuk apa?" Dhea sudah siap memulai penjelasannya.
Keadaannya sudah lebih baik. Dhea sedikit lebih tenang menata kalimatnya. Luna juga sudah mulai banyak diam. Jadi ia bisa lebih mendengarkan penjelasan Dhea, meskipun masih sangat marah.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Luna membanting stirnya ke kiri. Ia mulai menepikan mobilnya dan berhenti. "Baik, jelaskan. Biar aku dengarkan!" Luna melempar tatapannya ke arah Dhea.
Belum juga Dhea membuka mulutnya untuk memulai penjelasan, ponsel Luna berdering. Panggilan telepon dari Fahri.
"Yaa?" jawab Luna.
"Iya .... kamu bisa pulang lebih dulu. Aku kayaknya harus ngobrol bersama Panji," sahut Fahri di ujung telepon.
"Untuk apa? Kalian mau saling berbagi pengalaman?" Luna sedikit meninggikan nada bicaranya.
__ADS_1
"Kurang lebih begitu," sahut Fahri santai.
"Mas .... nggak masalah kalau Panji sadar dan ngikutin jejakmu sekarang." Luna menarik napasnya dalam-dalam dan melanjutkan kalimatnya, "tapi kalau sampai kamu yang jadi terpengaruh oleh Panji dan balik seperti dulu .... "
"Dia lagi cari jalan untuk kembali ke keluarganya .... kamu belum marah-marah ke Dhea, 'kan?"
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Ya itu salah." Dhea langsung mengakui kesalahannya. Memang tak seharusnya ia menghapus wajah Panji. Dhea tak seharusnya menyentuh suami orang. "Tapi aku benar-benar tak bisa membiarkan seseorang menangis karena merasa bersalah padaku. Aku bahkan akan melakukan hal yang sama kalau itu Juna," lanjutnya.
"Kamu akan melakukan itu ke semua lelaki yang menangis untukmu?" todong Luna kesal begitu mendengar nama Juna disebut.
"Lalu apa bedanya Panji dengan Juna dan Juna dengan lelaki lain?"
"Panji harus pergi dengan tenang .... "
"Mati maksudmu?" potong Luna.
"Juna orang yang ada di kehidupanku saat ini. Aku harus memperlakukannya dengan baik. Lelaki lain? Aku tak melakukannya."
"Kamu tidak memperlakukan Juna dengan baik, Dhea. Bertahun-tahun kamu mengabaikannya."
__ADS_1
"Biarkan aku selesai dulu dengan Panji. Dan hari ini adalah yang terakhir. Semua sudah selesai. Dia akan kembali ke keluargaannya. Dia akan mencintai istri dan anaknya. Aku baru bisa tenang memulai hidupku kembali,"
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Kamu nggak apa-apa? Kamu terima?" tanya Luna terdengar tanpa simpati.
"Aku lega biarpun ngerasa lagi-lagi aku yang ditinggalkan dan dicampakan. Tidak apa-apa. Lagipula ini yang kumau sejak awal." Dhea menoreh senyum tawar di bibirnya. Namun, matanya hampir saja meruntuhkan bendungannya.
"Harusnya kamu nggak akan ngerasa sedih kalau memang sudah nggak punya perasaan padanya," ucap Luna karena merasa penasaran akan perasaan Dhea yang sebenarnya kini.
"Bohong kalau aku bilang nggak punya perasaan lagi ke Panji," jawab Dhea datar.
"Jadi kamu masih mencintainya? Lalu apa yang akan kamu lakukan ke Juna?"
"Aku nggak tahu ini rasa cinta yang sedikit tersisa atau hanya sekedar rasa peduli. Lalu Juna .... " Dhea menghentikan kalimatnya.
"Juna?" tanya Luna mencoba mengingatkan Dhea agar segera melanjutkan kalimatnya yang terputus.
"Aku pikir aku membutuhkannya." Dhea hanya tersenyum simpul.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
__ADS_1