AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Takdir


__ADS_3

"Tidak perlu ikut campur urusan keluarga pasien. Kamu itu cuma perawat. Saya sibuk kerja agar ayah saya bisa tetap di kamar VIP. Layani dia dengan baik biar tidak mengharap jengukan dari anaknya."


Mendengar itu Dhea langsung mengelus dada. Tak sampai hati menyampaikan kata-kata anaknya itu pada sang Kakek. Itu sebabnya Dhea hanya bisa pura-pura tak tahu dan akan segera mencoba menghubungi anaknya.


Mungkin sebenarnya kakek itu akan lebih memilih kamar rawat kelas dua atau kelas tiga. Biar tak semewah kelas VIP tapi setidaknya sang kakek tak merasa kesepian karena ada teman mengobrol.


Perih hati Dhea. Matanya pun demikian. Ia sudah tak punya Ayah. Andai saja sang ayah masih hidup, sudah pasti ia akan dengan senang hati menemaninya, merawatnya, dan seharian ngobrol tanpa jeda. Ah anak kakek itu hanya belum tahu rasanya ditinggal pergi oleh ayah untuk selamanya.


Ah sial! Memikirkan sang ayah membuat air mata Dhea menetes tanpa permisi. Tangannya merogoh saku seragam serba putihnya demi mendapatkan tissue untuk menyeka air matanya. Namun, Dhea mendapati hal lain. Sebuah kertas kecil berbentuk persegi panjang yang meruncing di setiap ujungnya.


Kartu nama Panji. Ya, Panji memberinya untuk keduakali saat pertemuan reuni Minggu lalu. Itu karena Dhea bersikeras tak ingin memberikan nomornya pada Panji. "Hubungi aku waktu kamu mengingatku," begitu ucap Panji."

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Panji berbalik dan mendekatkan wajahnya ke Rena. Ia tunjuk wajah wanita yang sudah tiga tahun lebih ini hidup bersamanya. "Itu urusanmu dengan Haris. Yang pasti, aku tidak akan pernah mengurangi tuntutan penjara padanya," tegas Panji. "Tidak berhasil menyuap saksi dan hakim, sekarang berusaha menggoyahkan aku? Lewat kamu? hah .... "


"Kenapa? Kamu nggak mau dengerin aku sekali ini aja?" Rena ikut latah meninggikan nada bicaranya.


"Nggak. Kamu tidur saja sama tas mahal itu." Panji keluar dari kamar dan hampir saja membanting pintu. Namun, ia berhasil menahannya.


Haris Tanjung seorang anak konglomerat sedang terkena skandal kasus pelecehan seksual. Ia melakukan segala cara agar bisa terbebas dari segala tuduhan termasuk menyuap saksi dan hakim. Namun, usahanya gagal.


Haris kembali berusaha dengan menyuap Panji sebagai seorang jaksa penuntut umum dengan harapan dapat meringankan tuduhannya. Panji yang sulit didekati membuatnya lari ke Rena. Ia jadikan sebuah tas super mahal agar Rena mau membujuk suaminya.

__ADS_1


Entah apa yang ada dalam pikiran Panji. Jiwanya yang ingin meledakkan emosi itu batal ke kantor. Panji malah membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit Patmasari. Bukan untuk berobat. Ia ingin bertemu Dhea. Tentu saja karena Panji merasa ia butuh perawat .... untuk merawat hati dan perasaannya kini. Ya, Dhea melintas begitu saja dalam benaknya.


"Saya ingin bertemu Suster Dhea." Begitu ucap Panji pada bagian front office.


"Dhea siapa ya, Pak."


"Dhea Wiska Maulana," ucap Panji memburu.


Sebuah kebetulan. Resepsionis itu sedikit terkejut. Ia menunjuk ke arah belakang punggung Panji. Panji menoleh. Apa yang ia lihat?


Panji mendapati Dhea Wiska Maulana sedang terpaku menatapnya. Menatap seorang pria yang baru saja mencarinya dengan nada tergesa. Menatap seorang pria yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Dan, menatap seorang pria yang baru saja nomornya ia tekan di handphone-nya.

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2