AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Skandal 2


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Luna memilih keluar. Ia khawatir emosinya meledak di tempat dan membangunkan Dhea serta pasien yang dirawat di ruang yang sama.


Namun, saat Luna membuka pintu di sana sudah berdiri Panji dan Rena. Luna terkejut bukan melihat Panji, tapi melihat Rena. Rena ikut bersama Panji itu artinya Rena tahu semuanya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Luna pura-pura bodoh.


"Mama saya sudah sadar dan menceritakan semuanya. Saya mau minta maaf kepada Dhea mewakili mama saya," jawab Panji.


"Kenapa mamamu melakukan itu?" tanya Luna tegas.


"Itu tidak sengaja. Terjadi begitu saja," tutur Panji dengan suara menyesalnya. Padahal bisa jadi Mia tak semenyesal Panji.


"Dhea masih belum sadar. Pelipis Dhea baru saja dijahit empat," ucap Luna yang langsung pergi meninggalkan Panji dan Rena.


"Dokter .... " Rena mengejar. "Apa masalah ini akan diperpanjang?" tanya Rena karena tahu Luna dan Dhea berhubungan sangat dekat.


"Tidak. Kalau kalian berhenti muncul di hidup Dhea, terutama suamimu," tunjuk Luna.


"Jadi dokter tahu kalau .... " kalimat Rena terhenti.


"Mendengar pertanyaanmu berarti kamu sudah tahu ini?" Luna menunjukkan video yang ia temukan tadi. Video yang memperlihatkan Panji dan Dhea makan bersama, Panji mengantar Dhea pulang, hingga mereka berpelukan.


"Video itu .... "

__ADS_1


"Kamu tidak tahu?" tanya Luna.


"Kenapa bisa sampai tersebar?" tanya Rena. Panji yang sudah merasa tak enak akhirnya ikut mendekat.


"Oh berarti kamu sudah tahu," tegas Luna. "Dhea bagaimana? Sudah minta maaf? Sudah berakhir?" tanya Luna mencoba mencari tahu sejauh apa kesalahan Dhea.


"Seharusnya sudah berakhir. Dia sudah berlutut meminta maaf," jawab Rena datar yang membuat Luna terkejut. Luna terkejut mendengar Dhea yang sampai harus berlutut.


"Video itu jadi kamu sebarkan?" tanya Panji sembari melihat Rena.


"Aku nggak tahu." Rena seolah tak peduli.


"Dimana handphone-mu?"


"Di rumah," jawab Rena cepat.


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Yang nabrak suster Dhea itu mamanya si jaksa. Sekarang di ruang rawat kelas I sana. Nggak mungkin kebetulan 'kan. Fix ini suster Dhea."


"Ya ampun beneran?"


Suara itu semakin memudar. Mereka pergi. Sementara Dhea mulai menyusun kronologi kejadian dari apa yang dua orang itu bicarakan. Hingga ingatannya kembali muncul dan tertata.


'Jadi sekarang aku di rumah sakit. Aku ditabrak Tante Mia setelah perdebatan itu? Tapi video .... ' Batin Dhea berhenti. Ia takut melanjutkan hipotesisnya. Video apa yang dimaksud itu.

__ADS_1


Perasaan Dhea gugup tak tenang. Mau sampai kapan ia terbujur kaku tanpa bisa membuka mata dan menggerakkan tubuhnya?


Semua berlangsung hingga lima belas menit kemudian. Dhea sudah mulai bisa membuka matanya dan menggerakkan tangannya, meskipun masih lemah.


Dhea mencoba mengambil ponselnya yang kebetulan ada di dalam tas di atas meja sebelah ranjangnya. Begitu membuka akun media sosialnya mata Dhea nanar membaca tulisan-tulisan di sana. Sudut matanya mulai mengalirkan air mata.


[Itu jaksa lumayan juga sih tampangnya makanya gampang main serong]


[Pelakor semakin di depan]


[Pelakor hits lagi gaes. Hati-hati!]


[Apa gunanya cantik kalau jadi pelakor]


[Kasihan istri sahnya]


[Mudah-mudahan istri sah cepet tahu ini]


[Viralkan si hidung belang dan si pelakor]


[Pelakor lebih serem daripada setan si valak]


[Tandain mukanya jangan sampai deket-deket sama suami kalian]


Tubuhnya masih terbaring lemah. Kepalanya masih amat sakit. Namun, ini semua tak lebih berat dibandingkan harus menghadapi komentar orang-orang di luar sana yang menilai dirinya seperti itu.

__ADS_1


Tak perlu berusaha keras mencari video yang dimaksud. Sangat mudah menemukannya. Benar-benar viral. Bahkan kolom komentar akun miliknya sudah dipenuhi komentar-komentar ujaran kebencian. Semudah itu mereka menemukan akun Dhea.


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2