
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
Rena melempar satu bantalnya. Namun, kali ini ke arah Panji. Hampir saja mengenai kepalanya. Untung saja tidak.
Panji tak marah. Ia tak lagi ada energi untuk itu. Gairah hidupnya pun seolah telah dicabut oleh Tuhan sejak kecelakaan yang menimpa istrinya beberapa hari lalu.
Calon bayinya pun diambil begitu saja. Tuhan belum mempercayakan seorang anak padanya atau mungkin tidak akan pernah mempercayakannya lagi. Rena sudah tidak bisa hamil lagi.
Panji mengambil bantal yang tergeletak di depan kakinya. Ia lalu berdiri dari duduknya. Ia dekati ranjang tempat istrinya berada. Ingin rasanya menenangkan. Namun, Panji mendapat penolakan bahkan sebelum menyentuh istrinya. Panji lantas berhenti hanya sampai mengembalikan bantal itu ke posisinya semula.
"Aku bersumpah demi nyawaku sendiri. Kamu pasti hanya bisa bertahan denganku paling tidak satu tahun ke depan. Setelah itu, kamu akan menceraikanku dan mencari wanita lain yang bisa memberimu keturunan," teriak Rena sambil menunjuk-nunjuk muka suaminya.
"Diam!" Panji menggenggam jemari Rena. "Jangan main-main dengan sumpah."
__ADS_1
"Memang aku seberani itu untuk bermain-main dengan sumpah, dengan nyawaku sebagai taruhannya. Kamu baru tahu?" Rena sedikit mendangakkan dagunya. Ia menantang penuh percaya diri. Sentuhan Panji tak lagi mampu meluluhkan hatinya.
"Kalau aku mau mencari wanita lain dan menikah lagi, sudah mati-matian kuminta dokter untuk menyelamatkan anak kita. Bukan kamu!" Bibir Panji bergetar. Ia ingin berteriak tapi ditahan. Ingin menangis tapi malu dengan kodratnya sebagai lelaki, orang yang dikenal kuat. "Bicara begitu membuatku merasa seperti pembunuh sekarang."
"Keluar!" suruh Rena dengan suara berat.
Panji menuruti permintaan istrinya. Perlahan ia menuju pintu ke luar setelah membereskan barang-barang yang berserakan di kamar itu.
"Akan aku tanyakan ke dokter, kapan kamu bisa pulang," tutup Panji sembari menutup pintu dari luar.
Panji mengambil satu batang rokok di dalam saku celananya dengan tangan yang seolah tremor, gemetar. Ia menyulutkan api ke ujungnya. Ia hisap rokok itu dalam-dalam.
Panji biasanya akan berhenti setelah tiga hisapan tapi kali ini tidak. Batang rokok itu sisa setengah. Namun, Panji masih melanjutkannya.
__ADS_1
Mata Panji tak fokus. Entah pandangannya ke mana. Ia seperti sedang dilanda kecemasan yang hebat.
Panji memutuskan untuk duduk di anak tangga sejenak. Sambil menghabiskan rokok pikirnya. Namun, pintu itu terbuka. Wajah tak asing kembali muncul di hadapannya dengan telepon di telinganya.
"Reuni SMA? Minggu depan?" tanya Dhea datar pada lawan bicaranya di ujung telepon. Matanya tanpa ekspresi menatap Panji di hadapannya. Dhea tak terkejut atau memang tak menunjukkannya. "Memang berapa banyak temen yang di Bandung?"
"Sekitar tujuh orang. Termasuk kamu dan Panji jadi sembilan orang," Dara Dhea di ujung telepon. "Oh iya, kamu nggak apa-apa 'kan kalau Panji juga dateng? Aku belum hubungi dia sih."
"Nggak apa-apa, Ra. Mungkin juga Panji nggak bisa dateng." Dhea sedikit menaikkan volume suaranya. Ia berharap Panji mendengarnya.
Panggilan telepon itu berakhir. Namun, mata Dhea masih belum lepas dari Panji yang mulai membiarkan rokoknya mengebul oleh udara bebas.
"Teman SMA yang di Bandung mau reunian. Kamu mau datang?" tanya Dhea tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa?" Panji seolah tak percaya kalau Dhea mengajaknya bicara lebih dulu.
BERSAMBUNG....