AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Penolakan


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Dhea sadar dari lamunannya. Ia spontan mengarah ke Juna yang baru saja bersuara. Oh .... ini bukan kali pertama Dhea melihat Juna dari samping. Mungkin sudah puluhan kali. Namun, kenapa kali ini berbeda?


"Kenapa? Aku makin ganteng?" Juna mulai kembali ke masa lalu, banyak bercanda dengan tampangnya yang rupawan dan paripurna itu.


"Hah?"


"Kamu nggak boleh mandangin orang kayak gitu."


'Deg'


Dhea mulai sadar akan satu hal. Ia mengalihkan pandangannya ke jari-jari Juna di atas stir.


'Benar, ada cincin di sana.'


Dhea lagi-lagi sadar akan tamparan masa lalu. Apa ini? Ia sudah melanggar prinsipnya untuk tidak dekat-dekat dengan pria beristri?


Lalu sekarang apa? Dhea bahkan satu mobil bersama Juna tanpa orang lain bersama mereka.


"Habis belok kanan terus ke mana?" tanya Juna.

__ADS_1


"Ada yang salah," jawab Dhea tiba-tiba membuat Juna menepikan mobilnya setelah berbelok.


"Salah belok?" tanya Juna terkejut.


Bukan mobil yang salah belok. Prinsip hidup Dhea sudah berbelok ke arah yang salah. Harusnya ia tak dekat-dekat dengan Juna. Ah kilau cincin putih itu menyilaukan mata Dhea. Sangat menusuk.


"Nggak, aku mau ngomong sesuatu." Dhea membuka pembicaraan yang semula hanya ada dalam hati dan pikirannya. Entah maaf atau terima kasih, Dhea harus memulainya. Baru nanti, ia bisa menjaga jarak dengan Juna.


"Tiba-tiba?"


"Sebenarnya sudah lama .... " Dhea menghentikan kalimatnya. Ia bingung harus mulai dari mana. Harus memakai penjelasan atau langsung saja.


"Emm .... a-aku sebenernya m-mau .... " Dhea ragu. Bicaranya gagap. Kalimatnya terputus.


"Aku tolak!" serobot Juna.


"Apa?" tanya Dhea penuh penekanan.


"Aku tolak. Kurang jelas?" ulang Juna.


"Memangnya kamu tahu aku mau ngomong apa?" Dhea sedikit kesal. Tidak, ia benar-benar kesal.


"Apapun itu." Juna menoleh pada Dhea. "A-ku to-lak," ucap Juna sengaja diputus-putus untuk membuatnya terdengar lebih jelas dan tegas.

__ADS_1


"Kamu pikir aku mau bilang suka ke kamu? Ngajak kamu kencan, begitu? Aku tahu kamu udah nikah." Nada suara Dhea meninggi. Selain karena marah, ia juga ingin mengalahkan suara hujan di luar sana.


"Kenapa nggak? Kamu pernah kayak gitu!" Juna menarik napasnya dalam. "Kencan sama suami orang." Ia akhiri kalimatnya dengan senyum getir di sudut bibir.


"Oouuuhhhh .... " Dhea menghela napas dalam. Ia palingkan wajahnya dari Juna. Dhea lebih baik menghadap ke depan, melihat hujan. Dhea marah. "Kalau saja itu salah, tanganku udah pasti melayang ke mukamu. Tetapi karena itu benar, aku pernah berbuat seperti itu. Aku hanya akan diam." Dhea sangat kesal. Juna mengungkit sesuatu yang ingin ia pendam. Bahkan ingin sekali ia hapus.


"Kamu menyesal 'kan?" tanya Juna dengan nada bicara lebih rendah. "Harusnya kamu tahu dari awal akan merasakan hal ini."


"Nggak perlu dilanjutkan,"


"Entah mau bilang terima kasih, maaf, atau cinta sekalipun, aku tolak." Juna mengulangi kalimatnya lagi. "Kenapa kamu melakukan sesuatu yang harus membuatmu meminta maaf pada akhirnya," ucap Juna. Itu bukan pertanyaan, tetapi nasihat dari Juna.


"Ya, benar. Aku melakukan kesalahan sampai-sampai harus minta maaf."


"Kenapa kamu .... " tanya Juna.


"Ya aku tahu, seharusnya tidak berhutang budi pada siapapun." Jawaban Dhea terdengar datar dan pasrah.


"Terus, kenapa harus mencintai .... "


"Ya aku tahu kamu sudah beristri," potong Dhea.


"Aku membicarakan lelaki itu, bukan aku. Kenapa masih mencintai pria beristri."

__ADS_1


"Aku mau turun,"


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2