
Gisela menata makanan yang telah hangat di depan Abram. Menyiapkan segalanya termasuk mengambilkan nasi untuk lelaki itu.
"Kamu mau makan sama apa, Mas?" Gisela menawari.
"Ayam saja."
Gisela pun mengambil sepotong ayam dan sambal lalu menaruhnya di depan Abram. "Kekasihmu tidak makan?"
"Tidak. Dia tidak pernah makan malam karena diet," sahut Abram.
"Oh ... baiklah kalau begitu silakan makan, Mas. Kalau butuh apa pun aku ada di dapur. Kamu panggil saja." Gisela tersenyum manis di depan Abram. Namun, jika ditelisik lebih jeli, senyum tersebut penuh dengan kegetiran. Wanita itu sungguh pintar menyembunyikan semuanya.
Ketika melihat Abram yang hanya diam saja, Gisela pun bergegas pergi menuju ke dapur. Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba saat Abram memanggilnya. Ia berbalik dan melihat Abram yang sudah bersiap untuk makan.
"Kamu tidak makan?" tanya Abram. Senyum Gisela pun kembali mengembang merasakan perhatian kecil suaminya. Akan tetapi, ia menggeleng setelahnya.
__ADS_1
"Aku sudah makan tadi, Mas," jawab Gisela.
Abram membulatkan bibir dan setelah itu Gisela berpamitan kembali ke dapur. Ia berbohong kepada suaminya. Sebenarnya, perut Gisela merasa sangat lapar karena hanya makan tadi siang, tetapi ia tidak ingin membuat Abram tidak nyaman. Ia lebih memilih makan di belakang atau sekadar minum saja.
Mengambil segelas air putih, Gisela pun menenggaknya sekali habis. Berharap mampu mengganjal perutnya yang mulai perih. Gisela menghempaskan bokong di kursi dan duduk dengan berpangku tangan di meja. Ia mengantuk, tetapi tidak akan kembali ke kamar jika Abram belum selesai makan. Khawatir lelaki itu membutuhkan sesuatu.
Saking ngantuknya, Gisela justru tertidur di dapur. Ia merebahkan kepala di meja dan benar-benar terlelap. Sampai tidak menyadari kedatangan Abram yang saat ini sudah berdiri di sampingnya. Rasanya Abram ingin sekali mengguyur satu ember air kepada Gisela. Merasa kesal karena wanita itu tidak mendengarkan perintahnya untuk mengambilkan air putih. Namun, saat melihat wajah teduh Gisela yang saat itu sedang terlelap, membuat Abram mengurungkan niatnya. Ia justru terpaku menatap wanita itu. Bahkan, Abram masih teringat jelas ketika melihat darah perawan Gisela saat pertama kali mereka bercinta. Berbeda dengan Stevani yang dulu sudah tidak perawan.
"Dia cantik juga kalau sedang tidur seperti ini," gumam Abram. Setelahnya, ia merutuki dirinya sendiri setelah mengucapkan kata itu. Tidak seharusnya ia terpikat pada Gisela. "Bangun!"
"Maaf aku ketiduran, Mas. Kamu sudah selesai makan?" tanya Gisela. Bangkit dari kursi dan berdiri sejajar di depan Abram
"Sudah. Tidurlah di kamar, jangan di sini." Abram berbicara ketus. Ia mendekati lemari pendingin dan mengambil sebotol air putih lalu menenggaknya. Setelah itu ia berbalik dan melihat istrinya yang masih berdiri di samping meja.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu meminum pil KB lagi karena aku tidak akan menjamahmu." Ucapan itu terlihat biasa, tetapi mampu meluluhlantakkan hati Gisela. Namun, sekali lagi yang bisa dilakukan wanita itu hanyalah menunduk dan menuruti perintah suaminya. "Kamu mengerti?"
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku paham."
"Satu hal lagi. Aku sebenarnya curiga padamu. Katakan yang sejujurnya, apakah kamu tidak memiliki rencana jahat untukku dan Stevani?" tukas Abram. Menatap Gisela dengan sorot mata yang menajam.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Aku sama sekali tidak berniat jahat pada kalian. Bahkan aku berani bersumpah." Gisela berbicara sangat yakin karena wanita itu memang tidak memiliki niatan jahat.
"Lalu kenapa kamu diam saja saat aku sedang bersama dengan Stevani? Bahkan, kamu menganggap dirimu pembantu di sini," ucap Abram begitu menuntut jawaban. Jujur, lelaki itu merasa begitu penasaran pada Gisela yang terus terlihat tenang, seolah tidak terbebani sama sekali.
"Bukankah aku sudah berjanji akan menerima apa pun perlakuanmu? Aku tidak akan membantah ataupun menolak. Yang penting bagiku aku bisa membalas jasamu," terang Gisela, tetapi Abram tidak percaya.
"Aku tidak percaya," bantah Abram.
"Kalau kamu tidak percaya juga tidak apa-apa, Mas. Sudah malam, lebih baik kamu istirahat saja, Mas. Aku tidak mau kekasihmu sampai melihat kita bermesraan di sini. Nanti dia cemburu." Gisela memberi penekanan di akhir ucapannya. Lalu bergegas pergi membereskan bekas makan Abram karena tidak ingin terbawa suasana. Ia tidak ingin menangis dan terlihat lemah di depan suaminya. Sementara itu, Abram pun segera ke kamar. Ia juga tidak ingin berlama-lama di dekat Gisela karena khawatir hatinya akan luluh.
"Semoga suatu saat aku bisa membuka pintu hatimu, Mas." Gisela menghirup napas dalam saat melihat punggung Abram yang perlahan lenyap dari pandangan.
__ADS_1