
"Mama tenang saja, setelah ini aku akan memberi pelajaran untuk orang itu." Tangan Abram terkepal erat. Bahkan giginya sampai bergemerutuk.
"Sudahlah, Bram. Biarkan saja dulu." Farah ingin meredam emosi putranya. "Kenapa kamu datang sendiri? Di mana istrimu?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Meskipun ia tidak menyukai kehadiran Stevani dalam hidup putranya seperti Gisela, tetapi Farah juga tidak mungkin diam saja tanpa menanyakan keberadaan anak menantunya.
"Dia sedang pergi, Ma." Abram menjawab malas.
"Pergi? Ke mana? Untuk apa seorang wanita yang sudah bersuami pergi semalam ini tanpa suaminya pula." Farah menaruh curiga.
"Biasalah, Ma. Kumpul dengan teman-teman dia. Aku juga tidak mau mengekangnya." Abram mulai merasa tidak nyaman saat mengobrol soal itu.
"Mama tidak suka dengan wanita seperti itu. Dia terlalu liar untukmu." Farah mengeluh.
"Lalu yang Mama mau seperti apa? Semua Mama tidak suka. Stevani terlalu liar, Gisela terlalu lugu. Lalu yang Mama mau seperti apa?" Abram berusaha meredam emosi. Tidak mungkin ia marah kepada sang mama di tempat itu. Namun, baginya sang mama sudah keterlaluan. Abram bukanlah boneka yang bisa diatur semaunya.
__ADS_1
***
Hari terus berlalu dan Gisela mulai menikmati pekerjaannya. Pikiran tentang Abram dan segala masa lalu yang menyakitkan mulai perlahan terlupakan. Bahkan, Gisela hampir tidak mengingat Abram sama sekali. Setiap kali bayangan Abram hendak datang mengusik, Gisela selalu mengalihkan dengan hal lain.
Nyaman. Tentu saja Gisela lebih merasa nyaman dengan kehidupannya yang sekarang meskipun ia terkadang tidak bisa bernapas lega. Bukan tanpa sebab, tetapi Hendarto yang mulai sering membahas tentang Dirga dan Gisela tidak terlalu suka akan hal itu.
"Hallo, Gis."
Gisela mendongak. Mengalihkan perhatian dari layar ponsel dan mendengkus kasar setelahnya ketika melihat Dirga sedang berdiri sembari tersenyum kepadanya.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain selain mengikutiku?" Gisela berusaha untuk kembali fokus pada layar ponsel dan berusaha untuk tidak acuh kepada lelaki itu.
"Aku tidak mengikutimu. Kebetulan sekali aku melihat kamu di sini." Tanpa diperintah, Dirga duduk di depan Gisela.
__ADS_1
"Cih! Kalau begitu. Silakan menikmati makananmu karena aku harus pergi sekarang juga." Gisela hendak bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana, tetapi Dirga langsung menahan lengan wanita itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dirga. Tatapannya sangat lekat ke arah Gisela.
"Bukan urusanmu aku akan pergi ke mana." Gisela menggoyangkan lengannya cukup kasar hingga cekalan tangan Dirga terlepas.
Tanpa berbicara apa pun, Gisela berlalu pergi begitu saja meninggalkan Dirga yang masih duduk di tempatnya. Pandangan Dirga sama sekali tidak terlepas dari punggung Gisela yang perlahan menjauh.
"Kapan kamu bisa membuka hati untukku lagi, Gis. Aku masih menyimpan perasaan ini untukmu," gumam Dirga.
Ketika ia hendak menyantap makanan miliknya, ponsel Dirga berdering dan dengan segera lelaki itu menerima panggilan tersebut.
"Kamu sakit?" Suara Dirga sedikit meninggi. "Baiklah. Aku ke apartemen sekarang. Jangan pernah turun dari ranjang sebelum aku datang." Dirga mematikan panggilan tersebut secara sepihak lalu pergi dari restoran dengan terburu.
__ADS_1
Bahkan, Dirga sampai tidak menyadari kalau Gisela masih berada di depan restoran dan baru saja hendak masuk ke mobil. Melihat Dirga yang sangat tergesa, Gisela pun hanya menatap heran. Ia penasaran, tetapi hati kecilnya mengatakan untuk apa ikut campur urusan lelaki itu.
"Lebih baik sekarang aku pulang. Sudah waktunya aku istirahat dan besok harus bekerja lagi," ucap Gisela bergumam. Lalu masuk ke mobil dan melajukannya ke rumah.