Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 52


__ADS_3

"Katanya, lebih baik menerima orang yang mencintai kita daripada mengejar orang yang kita cintai. Aku ingin sekali melakukan itu. Kembali membuka hatiku untuk cinta yang pernah singgah ketika aku menyadari perasaannya masih untukku. Namun, sebersit keraguan datang. Takut kisah lama akan kembali terulang. Aku sedikit ragu, tapi aku ingin sekali mencoba. Lantas apa yang harus aku lakukan ketika keinginan dan hati tidak sejalan.


Pasrah.


Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Pasrah dengan jalan yang sudah Tuhan gariskan untukku dan semoga kebahagiaan lekas datang kepadaku." 


...****************...


Secara perlahan Gisela sudah mulai bisa menerima Dirga. Ia belajar membuka kembali kesempatan untuk lelaki itu. Apalagi Dirga yang selalu memberi perhatian kepadanya. Membuat hati Gisela tanpa sadar perlahan luluh.


"Kamu yakin  tidak ingin sarapan?" tanya Gisela ketika Dirga baru saja selesai berganti pakaian. 


"Tidak. Aku sarapan nanti saja." Dirga tersenyum senang atas perhatian Gisela. Ia pun mengecup puncak kepala wanita itu sangat lama. "Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik." 


"Pasti." Gisela menjawab cepat. Wanita itu terdiam ketika Dirga mengecup puncak perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit. Bahkan, Dirga berbicara seolah sedang berpamitan dengan janin itu. 


Gisela hendak mengantar Dirga sampai ke pintu depan, tetapi Dirga justru melarang. Meminta wanita itu agar tetap di kamar karena tidak ingin membuatnya kelelahan. Tidak ada yang dilakukan Gisela selain menuruti perintah Dirga. 

__ADS_1


Akan tetapi, tidak untuk hari ini. Rasanya, Gisela begitu jenuh. Setiap hari hanya berada di sekitar rumahnya saja. Kamar, ruang tengah, dan halaman. Hanya ketiga tempat itu yang selalu ia sambangi dan yang paling sering adalah berada di kamar. Bermain ponsel atau sekadar rebahan. Ingin kembali bekerja dengan sang papa pun, Hendarto masih melarang. Meminta Gisela kembali bekerja ketika kandungannya sudah masuk trisemester kedua. 


"Ya ampun. Sepertinya aku butuh jalan-jalan." Gisela bergumam sendiri. Ia menatap jam di ponsel yang baru menunjukkan angka sepuluh. Gisela pun berganti pakaian dan bersiap untuk jalan-jalan. Sekadar menghidup udara segar sekaligus menghilangkan rasa suntuk. 


Kepergian Gisela tidaklah sendiri. Ia diantar oleh seorang sopir pribadi yang memang ditugaskan untuk mengantar Gisela ke mana pun wanita itu pergi. Sebenarnya Gisela sudah menolak dan tidak ingin diantar siapa pun karena ia ingin pergi dengan bebas. Namun, sang mama melarang pergi jika tidak bersama sopir itu. 


"Kita mau ke mana, Nona?" tanya sopir pribadi Gisela yang bernama Jeni. Seorang wanita bertubuh tinggi tegap yang lebih pantas menjadi seorang pengawal yang pandai berkelahi daripada menjadi sopir. 


"Jalan saja. Aku belum tahu tujuannya ke mana." Gisela menatap ke luar jendela. Mencari penjual-penjual makanan pinggir jalan yang sekiranya cocok untuk lidahnya. "Berhenti di sini saja."


Jeni mengerem mendadak. Satu tangannya dengan sigap terulur ke depan wajah Gisela agar kening  wanita hamil itu tidak membentur dashboard mobil. "Maafkan saya sudah mengerem mendadak, Nona." Kedua tangan Jeni tertangkup di depan dada. 


Jeni hanya mengangguk, lalu memarkirkan mobilnya di tempat yang aman. Setelahnya, ia membuka pintu mobil dan menyuruh Gisela untuk keluar dari sana. 


"Aku mau lihat sepatu dan baju di toko ini. Barangkali ada yang cocok." Gisela berjalan masuk dan diikuti Jeni di belakang. 


Ketika sedang sibuk memilih, perhatian Gisela teralihkan ke arah seorang lelaki yang sangat tidak asing untuknya. Kening wanita itu sampai mengerut dalam untuk memastikan penglihatannya tidaklah salah. 

__ADS_1


"Mas Abram," gumam Gisela lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Jeni yang akhirnya mengikuti arah pandang Gisela. 


"Dia siapa, Nona?" tanya Jeni penasaran dan seperti tidak asing dengan wajah lelaki itu. 


"Di-dia ...." Gisela menggantungkan ucapannya. 


Ia terkejut ketika Jeni tiba-tiba berdiri di depannya seolah sedang menghalangi dirinya. "Saya baru ingat kalau Tuan Hendarto dan Tuan Dirga pernah menunjukkan foto lelaki itu. Lebih baik kita keluar dari toko ini sekarang, Nona." 


Jeni menarik tangan Gisela agar segera pergi dari sana sebelum Abram menyadari keberadaan mereka. Jika sampai Abram tahu dan bahkan menemui Gisela, yang ada nantinya Jeni yang mendapat hukuman. Gisela yang tidak ingin lagi berhubungan dengan Abram pun memilih menuruti ajakan Jeni. 


Akan tetapi, gerakan mereka terhenti saat Gisela merasakan ada seseorang yang mencekal tangannya. ia pun berbalik dan langsung merasa gugup ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan Abram. Dengan segera Gisela menunduk dalam, sedangkan Jeni langsung menghempaskan tangan Abram dari bosnya. 


"Jangan sembarangan menyentuh tangan bos saya!" hardik Jeni. Melayangkan tatapan tajam hingga membuat Abram mengalihkan perhatian. 


"Kamu siapa?" tanya Abram terheran. Baru kali ini ia melihat wanita itu. 


"Tidak perlu tahu siapa saya. Lebih baik kamu menjauh dari bos saya atau saya tidak akan segan-segan memberi pelajaran untuk kamu." Jeni menunjuk wajah Abram dengan sengit. Lalu menyuruh Gisela untuk segera masuk. Setelahnya, Jeni pun melajukan mobil tersebut meninggalkan Abram yang masih terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Ketika sudah berada di dalam mobil, Gisela hanya bisa mendes*hkan napas ke udara secara kasar sembari duduk bersandar. Mata wanita itu tampak terpejam. Pertemuan dengan Abram sungguh sangat mengusik hatinya. 


Kenapa kita harus dipertemukan lagi kalau akhirnya aku seolah kembali merasakan luka. Seandainya kamu tahu ada benihmu yang tumbuh di rahimku, akankah kamu menerima atau justru memintaku menggugurkannya. Lebih baik aku tidak mengatakan padamu kalau aku sedang mengandung benihmu saat ini karena ada lelaki yang mau menerimaku dan anak ini dengan baik. 


__ADS_2