
"Stevani! Stevani!"
Suara Abram menggema di ruang tamu. Lelaki itu menghempaskan jas secara sembarang dan terus memanggil nama istrinya. Namun, yang datang bukanlah Stevani melainkan seorang pelayan yang berlari dengan tergopoh-gopoh.
Dengkusan kasar terdengar keluar dari mulut Abram saat ia meyakini satu hal kalau sekarang istrinya sudah bisa dipastikan sedang tidak ada di rumah. Hal yang sudah sangat sering dilakukan Stevani padahal ia sudah sering sekali menasehati istrinya. Namun, Stevani hanya mengiyakan ketika diberi nasehat, setelahnya lupa begitu saja.
"Anda sudah pulang, Tuan?" tanya pelayan tersebut dengan gugup. Ia merasa takut ketika melihat sorot mata Abram yang sangat tajam. Tampak kilatan amarah yang terlihat jelas di sana.
"Di mana Stevani?" Tanpa menjawab pertanyaan si pelayan, Abram justru bertanya balik dengan nada tinggi. Makin membuat pelayan tersebut ketakutan.
"Nyonya muda sedang keluar, Tuan."
"Sejak kapan?" potong Abram tidak sabar.
"Sejak tiga jam yang lalu," sahut pelayan itu sembari menunduk dalam untuk menghindari tatapan Abram yang menakutkan itu.
Abram pun lantas menyuruh pelayan tersebut agar kembali ke belakang. Lalu ia mengambil ponsel dan segera menghubungi istrinya. Dengan penuh ketidaksabaran, Abram terus memanggil meskipun panggilan tersebut tidak diangkat sama sekali. Sampai akhirnya panggilan kelima barulah Stevani menerimanya.
__ADS_1
"Hallo, Mas."
Kening Abram mengerut dalam ketika mendengar suara Stevani bercampur dengan dentuman musik yang sangat keras. Seperti akan memecahkan gendang telinganya. Bahkan, suara Stevani terdengar sangat tidak jelas.
"Di mana kamu?" tanya Abram kesal.
"Aku sedang bersama teman-temanku. Nanti aku hubungi kamu lagi."
Abram menggeram saat Stevani dengan berani mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Bahkan, ketika Abram mencoba untuk menghubungi lagi, nomor wanita itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Abram pun tak kehabisan akal, ia meminta anak buahnya untuk melacak di mana istrinya berada saat ini.
Tanpa masuk ke kamar terlebih dahulu, Abram pun bergegas pergi untuk menyusul istrinya dan mungkin saja akan menyeretnya pulang. Ia sudah cukup bersabar selama ini.
Di bawah lampu remang-remang dan dentuman musik yang sangat keras, Abram mencari di mana istrinya berada. Bahkan, ia harus menyingkirkan beberapa wanita yang hendak menggoda. Namun, hampir setiap sudut tidak luput dari penglihatan Abram, ia sama sekali tidak melihat keberadaan istrinya. Membuat Abram menggeram dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sial! Di mana dia," gumam Abram penuh amarah. Sungguh, ia hampir saja putus asa.
"Mungkin nona muda sudah masuk ke kamar, Tuan," cetus salah seorang anak buah Abram. Makin menambah kekesalan lelaki itu.
__ADS_1
Abram pun mendekati salah seorang pelayan yang bertugas menjaga kamar lalu menanyakan tentang Stevani bahkan Abram sampai menunjukkan foto Stevani, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mau menjawab sejujurnya. Hanya mengatakan jika tidak ada nama Stevani yang memesan kamar di sana.
"Argh! Aku yakin kalau Stevani belum keluar dari sini," kata Abram. Makin tidak sabar ingin segera bertemu dengan wanita itu. Lalu memberi pelajaran untuknya.
Salah seorang anak buah Abram yang sejak tadi sibuk dengan ponsel juga membenarkan ucapan itu. "Lokasi nona muda memang masih di sini, Tuan," ucapnya.
"Lalu di mana dia?" Abram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ingin sekali ia mendobrak seluruh kamar yang ada di sana. Hati Abram pun mendadak curiga kepada istrinya.
Namun, Abram hanya diam ketika melihat salah seorang anak buahnya mendekati pelayan tadi sembari menodongkan senjata api hingga membuat tubuh pelayan tersebut bergetar hebat. Bahkan, hal itu memicu perhatian beberapa orang yang berada di sekitar.
"Katakan pada kami, atas nama Charles memesan kamar nomor berapa. Kalau kalian tidak menjawab maka kami akan membakar klub ini dan akan menghancurkan sampai rata dengan tanah," ancam salah seorang anak buah Abram.
"Ya. Lelaki itu sudah menculik istri bos kami!" imbuh yang satunya. Makin meyakinkan agar sang pelayan mau memberi tahu.
Takut pada ancaman tersebut, pelayan tadi segera memberi tahu di mana lelaki yang bernama Charles memesan kamar. Dengan tidak sabar, Abram pun bergegas ke sana dengan langkah yang sangat tergesa. Dalam hati kecilnya berharap semoga itu hanyalah prasangkanya saja.
Tiga kali ia menekan tombol dan tidak ada sahutan, Abram pun segera meminta kunci cadangan, dan alangkah terkejutnya ia ketika berhasil membuka pintu kamar itu, ia melihat Stevani sedang tertidur di bawah selimut tanpa busana bersama dengan lelaki yang tidak dikenal oleh Abram
__ADS_1
"Stevani!!"