
Suasana hati Abram kian memburuk. Ia bahkan memasang raut wajah tidak bersahabat ketika sedang berada di rumah. Membuat Stevani merasa heran dengan sikap suaminya.
"Apa kamu ada masalah?" tanya Stevani. Mendudukkan bokongnya di samping Abram.
Lelaki itu menoleh sekilas lalu mendes*h kasar setelahnya. "Tidak ada," sahutnya ketus.
Wajah Stevani pun mendadak sendu. "Kenapa kamu sekarang jutek seperti ini padaku? Apa aku ada salah? Atau karena aku tidak lagi hamil, jadi kamu—"
"Diamlah." Abram menghentikan ucapan Stevani. Ia tidak ingin wanita itu berbicara ngawur. "Aku sedang lelah sekarang. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," dalihnya.
"Kalau begitu, maafkan aku. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja." Stevani bangkit berdiri dan meninggalkan Abram sendirian di kamar.
Setelah pintu kamar tertutup rapat, Abram pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berkali-kali ia mengembuskan napas kasar untuk sekadar mengurangi beban pikiran. Abram tidak tahu kenapa sekarang perasaannya seperti terombang-ambing.
Baru saja hendak terlelap, Abram terkejut mendengar suara pintu yang terbuka. Ia pun mengalihkan pandangan ke sana dan mengerutkan kening ketika melihat Stevani masuk dengan dandanan yang sudah terlihat rapi.
"Kamu mau ke mana?" tanya Abram. Ia beranjak duduk, sedangkan Stevani menunjukkan senyum lebarnya.
"Aku ada acara sama temen-temenku, Mas. Seperti biasa," ucap Stevani sangat santai.
__ADS_1
Abram pun mendengkus kasar. "Ini sudah malam, Stev."
"Justru itu, Mas. Kalau siang mereka sibuk." Stevani mencium pipi Abram lalu hendak beranjak pergi dari sana. Namun, langkahnya tertahan ketika Abram sudah mencekal lengannya.
"Jangan pergi! Aku belum memberikanmu izin." Abram terlihat ketus dan mulai menajamkan tatapan matanya. Namun, hal itu justru membuat Stevani memutar bola mata malas.
"Untuk apa? Bukankah aku sudah terbiasa seperti ini? Tidak perlu izin darimu!" Suara Stevani mulai meninggi.
"Itu dulu. Tapi sekarang aku adalah suami kamu. Jadi, ke mana pun kamu pergi, harus ada izin dariku." Abram tanpa sadar mencengkeram lengan Stevani hingga wanita itu sedikit meringis. Menyadari ia telah kasar, Abram pun dengan segera melepaskan cekalan tangan tersebut.
"Mas, aku menjadi istrimu bukan untuk diatur. Sudahlah. Aku tidak mau bertengkar. Temanku sudah menunggu."
Merasa sedikit curiga dengan apa yang dilakukan istrinya, Abram pun meminta anak buahnya untuk memata-matai apa yang dilakukan oleh Stevani. Setelah memberi perintah, Abram hendak menaruh ponselnya kembali. Namun, gerakan tersebut urung ketika ponsel itu justru berdering. Keningnya mengerut dalam ketika melihat nomor asing yang sedang menghubungi.
"Hallo. Ini siapa?" tanya Abram.
"Selamat siang. Apakah benar ini dengan Tuan Abram?" tanya balik seorang lelaki dari seberang telepon.
"Ya."
__ADS_1
"Begini, Tuan. Ibu Anda sekarang sedang di rumah sakit karena mengalami kecelakaan."
"Apa!" Abram begitu terkejut. "Kalau begitu aku ke rumah sakit sekarang."
Tanpa menunggu lama, Abram pun mematikan panggilan tersebut lalu bergegas pergi menuju ke rumah sakit. Ia merasa sangat cemas kepada sang mama.
Hanya butuh waktu sepuluh menit Abram sudah sampai di rumah sakit. Ia mengebut. Abram pun berlari ke ruang IGD dan melihat mamanya yang sedang terbaring di atas brankar. Abram sedikit menghela napas lega ketika melihat mamanya tidak terluka parah.
"Bagaimana mama bisa kecelakaan?" tanya Abram. Duduk di tepi brankar dan menatap sang mama.
"Mama ditabrak oleh entahlah. Orangnya kabur."
"Ditabrak?" tanya Abram sampai mengerutkan keningnya.
Farah mengangguk cepat. "Ya, sepertinya dia suruhan seseorang. Apakah mungkin mantan istrimu yang melakukan ini?" .
Abram pun terdiam dan hati kecilnya berusaha untuk membenarkan ucapan sang mama.
Awas kamu, Gis. Sepertinya kamu ingin bermain denganku.
__ADS_1