Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 28


__ADS_3

Setelah melewati berbagai drama, Gisela akhirnya bisa sampai di rumah dengan selamat. Kedatangan wanita itu sangat disambut oleh kedua orang tuanya. Mereka saling berpelukan erat untuk melepaskan segala rasa rindu yang begitu menggebu. Lalu mengobrol banyak hal sampai akhirnya Gisela memilih berpamitan ke kamar untuk beristirahat. Meninggalkan Dirga di ruang tamu bersama dengan Hendarto dan Vera. 


Senyum Hendarto terlihat mengembang ketika melihat Dirga yang sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari punggung Gisela yang perlahan lenyap dari pandangan. Ia merasa yakin kalau lelaki di depannya ini masih menaruh rasa kepada putrinya. Ia pun sengaja berdeham untuk menyadarkan Dirga. 


"Kamu masuk jam berapa, Dir?" tanya Hendarto berusaha mencairkan suasana.


"Jam empat, Om. Tapi sepertinya aku harus pulang sekarang untuk bersiap-siap." Dirga menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan. 


"Baiklah. Hati-hati di jalan dan terima kasih banyak sudah mau menjemput Gisel," ujar Hendarto. 


"Sama-sama, Om. Aku justru malah senang bisa dekat dengan Gisel lagi." Senyum Dirga yang mengembang sempurna tidak bisa membohongi kalau lelaki itu sedang merasa bahagia saat ini. 

__ADS_1


Dirga segera masuk ke mobil yang terparkir di halaman. Namun, sebelum ia melakukannya, terlebih dahulu Dirga menghubungi seseorang. Memberinya perintah dan barulah setelah itu mobil tersebut meninggalkan rumah mewah milik keluarga Gisela. 


***


"Kamu dari mana?" tanya Abram dengan nada ketus. 


"Main." Stevani menjawab santai. Duduk di samping Abram dan meletakkan tas di atas nakas. "Kamu baru pulang?" tanyanya lembut. 


"Sudah satu jam yang lalu. Seharusnya kamu itu ada di rumah dan menyambutku pulang. Bukan malah seperti ini. Aku heran kenapa kamu sekarang jadi senang sekali keluyuran?" Abram berbicara dengan nada sedikit tinggi. 


Melihat kekesalan di wajah suaminya, Stevani pun tidak kehabisan akal. Dengan berani ia duduk di atas pangkuan Abram dan langsung memegang tengkuk lelaki itu. Abram hendak menolak, tetapi Stevani dengan gesit sudah meraup bibir lelaki itu. Memberi lum*tan sangat lembut hingga membuat Abram menjadi terbuai. 

__ADS_1


"Sepertinya anakmu yang ingin jalan-jalan. Dia suntuk harus di rumah terus. Jadi, kalau mau marah maka omeli saja anakmu ini." Stevani sedikit memajukan perutnya. Senyumnya tersungging ketika Abram sudah menyentuh perutnya bahkan dengan susah menciumnya. 


"Maafkan aku. Mungkin kita harus jalan-jalan besok akhir pekan." Abram mulai berbicara lembut tidak seperti tadi. 


"Kamu yakin akan mengajakku jalan-jalan? Ah, maksudku, mengajak kami," ucap Stevani antusias. Abram pun mengangguk cepat sembari tersenyum ketika melihat Stevani yang sangat kegirangan. 


Dengan perlahan, Abram pun mulai menciumi wajah Stevani. Memberi pemanasan untuk melakukan  adegan intim. Awalnya Stevani menurut dan mengikuti permainan Abram. Akan tetapi, ketika hasrat Abram sudah sampai pada puncaknya, Stevani justru menolak dengan dalih perutnya sakit. 


Tidak ada yang bisa dilakukan Abram selain bermain solo karena tidak ingin menyakiti calon buah hatinya. Kehamilan Stevani yang masih sangat rawan membuat Abram benar-benar menjaga diri. 


"Gis ... ahh!" 

__ADS_1


Abram menumpahkan cairan kental di kamar mandi. Namun, ia terdiam saat baru saja tersadar jika nama mantan istrinya yang ia sebut ketika melakukan pelepasan tadi. Abram pun menghela napas panjang dan mengembuskan secara kasar. 


"Bagaimana aku bisa menyebut nama wanita itu," gumamnya lirih. Beruntung, Stevani tidak mendengarnya tadi kalau sampai wanita itu mendengar, Abram yakin pasti akan terjadi pertengkaran antara ia dengan wanita itu. 


__ADS_2