
"Aku tidak ingin dikasihani siapa pun. Aku juga tidak mau menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Aku lebih memilih untuk hidup sendiri asal hatiku merasa nyaman. Itu lebih baik daripada hidup bersama, tapi tak saling cinta. Aku sudah trauma. Namun, aku harus menyadari satu hal sebagai seorang manusia biasa seharusnya jangan sampai kita bersikap egois."
...****************...
Hendarto terus mendesak putrinya. Ia sadar tidak baik memanfaatkan orang lain apalagi kebaikan seperti apa yang Dirga tawarkan. Namun, Hendarto akan mempertimbangkan karena Dirga bersedia melakukan dengan ikhlas. Bahkan, lelaki itu bersedia menerima Gisela apa adanya, termasuk janin yang ada di rahim Gisela meskipun itu bukanlah darah dagingnya.
"Bagaimana, Gis?" tanya Hendarto. Entah ini sudah pertanyaan ke berapa kali yang dilontarkan oleh lelaki itu. Namun, bibir Gisela tetap terkatup rapat. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan sang papa sejak tadi.
"Aku tidak butuh belas kasihan siapa pun." Suara Gisela terdengar cukup berat. Jujur, ia belum bisa mengambil keputusan untuk saat ini. Hati wanita itu masih merasa sangat bimbang.
"Om, biarkan Gisel memikirkan semuanya. Tidak baik juga jika keputusan diambil dengan tergesa. Aku akan menanti dengan penuh kesabaran dan keputusan apa pun yang akan diambil Gisel, aku akan menerima," kata Dirga. Memungkasi semuanya. Ia sadar, tidak mungkin terus memaksa Gisel. Jika ia tetap memaksa, yang ada bukannya Gisela meminta pertimbangan, wanita itu sudah bisa dipastikan akan langsung menolaknya.
"Baiklah kalau begitu. Nanti biar om membicarakan hal ini lagi dengan Gisel," sahut Hendarto. Ikut menyudahi pembicaraan tersebut.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pamit dulu, Om, Tante." Dirga menyalami kedua orang tua Gisela. Lalu ia beralih menyalami Gisela cukup lama bahkan seakan tidak ingin melepaskannya.
"Kuharap kamu tidak hanya memikirkan dirimu sendiri, Gis. Pikirkan juga calon buah hatimu. Jangan sampai ia terlahir tanpa sosok seorang ayah karena itu pasti akan membuat hidupnya terasa berat," ucap Dirga lirih.
Baru saja Gisela hendak mendebat, Dirga sudah terlebih dahulu meninggalkan kamar itu hingga ucapan Gisela pun hanya tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa memandangi punggung Dirga yang perlahan menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu. Desah*n napas kasar Gisela terdengar cukup keras memecah keheningan di kamar itu.
Wanita itu merasa bimbang.
Gisela tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena fisiknya yang sedang sakit, tetapi pikirannya yang tidak karuan. Banyak hal yang ia pikirkan saat ini termasuk ucapan Dirga yang sangat mengusik pikirannya.
Bayangan ketika buah hatinya lahir dan menjadi bahan cemoohan karena terlahir tanpa seorang ayah, membuat Gisela mendadak galau. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Namun, ia juga tidak mungkin menikah dengan Dirga begitu saja. Ia takut pernikahannya akan kembali gagal. Meninggalkan rasa sakit teramat dalam. Selain itu, Gisela juga merasakan ketakutan yang teramat dalam akan kedua orang tua Dirga yang tidak menyetujui pernikahan itu.
Ia yakin, orang tua Dirga pasti akan menentang jika mengetahui kalau dirinya saat ini sedang hamil dan bukan benih Dirga yang dikandungnya. Kegagalan berumah tangga masih membuat wanita itu merasa trauma.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan." Gisela mengusap wajah kasar. Ia frustrasi. Tidak tahu lagi harus mengambil keputusan apa pun.
Bahkan, saking galaunya, Gisela sampai tidak menyadari kalau Hendarto sudah masuk ke kamarnya. Wanita itu tersentak tatkala mendengar dehaman sang papa yang cukup keras terdengar di kamar yang senyap tersebut.
"Papa sejak kapan di sini?" tanya Gisela gugup. Berusaha menetralkan debar jantungnya. Ia yakin kalau sang papa masuk ke kamar bukan tanpa alasan.
"Sejak kamu melamun." Hendarto duduk di tepi ranjang di samping putrinya. "Kamu sudah mengambil keputusan?"
Benar bukan apa kata batin Gisela. Ia tidak ingin membahas ini, tetapi jika tidak segera memberi keputusan maka sang papa akan terus mendesaknya.
"Aku—"
"Jangan bilang kamu akan menolak lelaki sebaik Dirga," tukas Hendarto, menyela Gisela yang baru saja hendak membuka suara.
__ADS_1