Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 53


__ADS_3

Gisela melihat jam dinding dan tersenyum senang karena sebentar lagi Dirga akan pulang bekerja. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera mendapat pelukan dari lelaki itu. Sebagai pengobat kegelisahan yang dirasakan Gisela setelah pertemuan tanpa sengaja dengan Abram tadi siang. 


Benar saja, ketika melihat pintu kamar terbuka, Gisela terheran saat melihat Dirga melangkah dengan tergesa, meletakkan tas secara sembarang lalu menarik tubuh Gisela dan membawanya masuk ke dalam dekapannya.


Lelaki itu memeluk Gisela erat. Bahkan sangat erat seolah takut kehilangan. 


"Kenapa, Dir?" tanya Gisela saat Dirga baru saja melepaskan pelukan itu. 


"Katanya kamu bertemu lelaki brengsek mantan suami kamu, apa dia melukaimu? Apa dia berbuat jahat padamu? Kalau iya, katakan padaku jangan ada yang ditutupi." Dirga memberondong Gisela dengan banyak pertanyaan. 


Senyum Gisela pun tampak mengembang hingga membuat Dirga terdiam karena terpikat dengan wanita itu. "Tidak. Aku hanya tidak sengaja bertemu. Tidak perlu khawatir karena ada Jeni yang selalu berjaga di sampingku." 


"Syukurlah." Dirga mengembuskan napas lega. "Kalau sampai Jeni tidak bisa menjagamu dengan baik maka aku akan memberikan dia hukuman agar lebih bisa waspada." 


"Dir,  Jeni sudah bekerja sangat baik. Kamu tenang saja. Aku akan selalu baik-baik saja." Gisela masih terus tersenyum hingga membuat Dirga gemas sendiri. "Jangan seperti itu, Gis. Kamu seperti sedang menggodaku. Kalau imanku tidak kuat dan mengajakmu bercinta bagaimana." Dengkusan kasar terdengar dari Dirga. 

__ADS_1


"Kalau kamu mau, lakukan saja. Kita sudah resmi menjadi suami-istri, bukan?" Gisela tersenyum menggoda. 


Ucapan Gisela sontak membuat Dirga terdiam seribu bahasa. Masih belum menyangka jika wanita itu akan berbicara seperti itu kepadanya. Memberi izin untuk menyentuhnya padahal ucapan Dirga tadi hanyalah main-main. Tidak memiliki maksud apa pun. 


"Ka-kamu serius, Gis?" tanya Dirga memastikan. 


Namun, bukannya menjawab, Gisela justru mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Senyum wanita itu masih terlihat sangat menggoda untuk Dirga hingga akhirnya lelaki itu berjongkok di depan Gisela dan menggenggam tangam wanita itu sangat erat. 


"Ucapan kamu tadi itu serius atau hanya main-main?" tanya Dirga memastikan. Ia sudah menatap lekat Gisela hingga membuat wanita itu salah tingkah sendiri. 


"Gisela Thania Ayudia, Cantik. Jangan menggodaku atau aku akan memberikan sesuatu yang luar biasa untukmu," kata Dirga ikut tersenyum senang. 


"Apa?" Gisela justru menantang. Namun, ia terdiam saat Dirga tiba-tiba mencium bibirnya sangat lembut. 


Gisela sedikit mendorong tubuh Dirga agar ciuman itu terlepas. Namun, Dirga justru memeluk Gisela erat dan memajukan tubuh Gisela hingga menempel rapat dengannya. Dirga pun makin membenamkan ciumannya. 

__ADS_1


Tangan Gisela meremas kemeja yang dikenakan Dirga ketika lelaki itu sudah memainkan lidah dan mengakses seluruh rongga mulutnya. Wanita itu terbuai dan tanpa terasa cukup lama mereka saling beradu bibir. Gisela yang awalnya hanya diam dan pasrah pun kini mulai ikut memainkan lidahnya. 


"Bolehkah aku meminta hakku sekarang?" tanya Dirga. Napasnya menderu karena hasratnya yang mulai naik. 


"Apakah tidak apa-apa kalau semisal kita melakukan itu sekarang. Apakah hal itu tidak akan menyakiti kandunganku?" tanya Gisela ragu. 


"Kamu tenang saja. Aku akan melakukan dengan perlahan dan tidak akan menyakitinya sama sekali," kaya Dirga yakin. Melihat sorot mata Dirga yang penuh kesungguhan, Gisela pun hanya bisa mengangguk cepat. 


"Baiklah."


Senyum Dirga mengembang sempurna. Ia pun melepas kemeja yang dikenakan. Lalu mulai melakukan pemanasan. Gisela pun hanya bisa menuruti dan mengikuti permainan Dirga yang benar-benar sangat lembut. Setiap sentuhan tangan Dirga di tubuhnya seolah memberi sensasi tersendiri. Menciptakan gelayar aneh hingga membuat Gisela terbuai dan mulai menyeimbangi permainan  lelaki itu. 


Dirga benar-benar membuktikan ucapannya. Melakukannya dengan perlahan dan lembut hingga akhirnya mereka berdua sampai puncak bersama. Setelah percintaan itu selesai, Dirga langsung menghujani wajah Gisela dengan banyak ciuman. 


"Sudah. Aku tidak mau kalau sampai kamu minta nambah." Gisela memalingkan wajah karena Dirga terus saja menciuminya. 

__ADS_1


"Terima kasih, Gis. Terima kasih dan baik-baik di dalam perut mama kamu, Sayang." Dirga mencium perut Gisela dan mengusapnya perlahan. Membuat Gisela tanpa sadar mengeluarkan air mata haru.


__ADS_2