Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 54


__ADS_3

Tidak perlu dijelaskan, sikap Dirga sudah bisa membuktikan kalau lelaki itu sudah pasti akan menerima  Gisela dan anak yang sedang dikandung wanita itu dengan ikhlas. 


"Kenapa kamu menangis?" tanya Dirga heran saat ia melihat air mata Gisela. Dengan cepat wanita itu segera menghapus cairan bening tersebut. "Apa aku menyakitimu?" tanyanya lagi. 


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang terharu saja." Gisela tidak berani menatap Dirga sama sekali. "Terima kasih banyak, Dir. Kamu sudah menerimaku dengan sangat tulus. Bahkan, kamu juga menerima janin yang sedang aku kandung padahal kamu tahu kalau bayi ini bukanlah darah dagingmu." 


Dirga menghela napas panjang. "Tidak usah dipikirkan hal seperti itu, Gis. Setiap janin yang sedang kamu kandung maka aku akan menerima dengan senang hati meskipun anak itu bukanlah darah dagingku." 


"Kenapa kamu bisa sebaik itu padaku, Dir?" 


"Aku hanya ingin menebus segala rasa sakit yang pernah aku torehkan dulu. Mulai saat ini aku berjanji akan menjagamu dengan sangat baik." Dirga berbicara sangat yakin. Gisela pun memeluk tubuh lelaki itu sangat erat. Menyalurkan segala rasa bahagia yang saat ini sedang ia rasakan. 


"Terima kasih, Dir." 


"Sama-sama. Lebih baik sekarang kamu tidur. Ingat, kamu harus banyak beristirahat." Dirga mencium kening Gisela lalu mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut. 


Aku akan berusaha membuat kamu bahagia dan semoga suatu saat tidak akan pernah ada kesalahpahaman di antara kita, Gis. Percayalah, setiap hal yang aku lakukan adalah demi kebaikanmu. 

__ADS_1


***


Jam sudah menunjuk pukul sebelas malam, Dirga terbangun saat tenggorokannya terasa sangat haus. Ia pun bergegas turun dari ranjang. Meninggalkan Gisela yang sedang tertidur lelap.


Suasana di rumah itu sangat sepi karena semua penghuni rumah sudah tertidur lelap. Setelah mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya sampai hampir habis, Dirga pun segera pergi dari dapur. Namun, ia tidak langsung kembali ke kamar melainkan pergi ke kamar belakang di mana kamar para pelayan berada. 


Dirga mengetuk pintu kamar yang terletak paling ujung, dan beberapa saat kemudian pintu itu pun terbuka. Belum juga di pemilik kamar mempersilakan, Dirga sudah memaksa untuk masuk.


"Dir, kenapa kamu bisa di sini. Kamu jangan gila! Kalau sampai ada orang yang melihat bagaimana?" Jeni tampak gelisah. Matanya beberapa kali melihat ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Meskipun Jeni tahu kalau semua orang sudah tertidur, tetapi hatinya tetap saja was-was. 


Jeni pun bersidekap dan menatap Dirga dengan malas. "Kalau begitu, katakan padaku ada perlu apa kamu masuk ke sini?" 


"Aku hanya ingin memberi perintah padamu." 


"Ya Tuhan, kamu bisa melakukannya lewat pesan atau telepon. Itu lebih aman daripada kita ketahuan dan semua bisa berabe." Jeni mendengkus kasar bahkan dalam hati ia mengumpati Dirga. 


"Cih! Kamu mana bisa diberi peringatan lewat ponsel. Ingat, kamu harus menjaga Gisela dengan sangat baik. Jangan sampai ceroboh seperti tadi. Sekali lagi kamu membiarkan lelaki brengsek itu menyentuh Gisela maka aku tidak akan segan-segan melanggar janjiku padamu," kata Dirga. 

__ADS_1


"Yaelah. Segitu bucinnya kamu kepada Nona Gisela," timpal Jeni. 


"Sudah jangan berisik. Pokoknya awas saja kalau sampai kejadian tadi kembali terulang. Ingat, aku selalu mengawasi kalian." 


"Baiklah. Aku belum pikun untuk sekadar mengingat perintahmu. Lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar." Jeni membalik tubuh Dirga dan mendorong lelaki itu agar segera keluar dari kamarnya karena jujur hati Jeni merasa tidak nyaman. Dirga pun hanya menurut saja. 


Namun, ketika hendak menutup pintu rapat, Jeni menatap Dirga sangat lekat sembari menghela napas panjangnya. Dirga yang hendak pergi dari sana pun, akhirnya mengurungkan niatnya saat melihat tatapan itu. 


"Kenapa wajahmu jelek seperti itu?" tanya Dirga heran. 


"Dir, aku tahu kamu sangat sayang kepada Nona Gisela. Tapi, kuharap kamu tidak melupakan janjimu," ucap Jeni lirih. 


"Kamu tenang saja. Selama kamu bisa menjaga Gisela dengan baik, maka aku tidak akan pernah melanggar janjiku. Lebih baik sekarang kamu tidur. Begadang tidak baik untuk anak gadis." Dirga terkekeh lalu pergi dari sana sebelum Jeni mengomel seperti Mak lampir. 


Jeni menggerutu kesal lalu menutup pintu lumayan kencang. Ia pun bersandar pintu sembari bersedekap. Lalu mengembuskan napas kasar untuk sekadar mengurangi kegelisahan hatinya. 


Semoga apa yang aku lakukan ini bukanlah sebuah kesalahan. Aku hanya ingin melihat orang yang aku sayang bahagia. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. 

__ADS_1


__ADS_2