Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 64


__ADS_3

Tiada hari tanpa kegelisahan yang dirasakan oleh Gisela. Meskipun Dirga masih tetap memperlakukan dirinya dengan baik dan penuh cinta, tetapi sebersit rasa khawatir tetap wanita itu rasakan. Apalagi jika Dirga berpamitan pulang terlambat karena menemani Jane di apartemen. 


Gisela terkadang sampai merasa memiliki suami yang beristri dua. Ingin sekali Gisela memprotesnya, tetapi ia tidak memiliki keberanian. Rasa tidak enak hati begitu mendominasi hingga akhirnya ia hanya bisa diam dan menerima. 


Menghilangkan rasa suntuk, Gisela pergi berjalan-jalan tanpa Jeni. Ia menyuruh wanita itu agar tetap di rumah dengan segala ancaman. Ya, meskipun ia yakin kalau wanita itu diam-diam mengikutinya. 


"Hai, Gis." 


Gisela terkejut ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia berbalik dan sedikit gugup ketika melihat Abram saat ini sudah berdiri di depannya sambil tersenyum miring. Bahkan, barang yang saat itu sedang dipegang  Gisela pun sampai terjatuh. 


Gisela ingin sekali mengambilnya, tetapi terhalang perutnya yang buncit. Membuatnya begitu kesusahan. Dengan cepat Abram pun membantu mengambilkan barang tersebut lalu menyerahkan kepada Gisela. 

__ADS_1


"Pergilah, Mas. Jangan dekat aku lagi." Gisela berbalik dan hendak pergi meninggalkan Abram, tetapi lelaki itu justru langsung mencekal tangan Gisela cukup kuat hingga membuatnya meringis. 


"Memangnya kenapa?  Apa salahnya kalau aku ingin memperbaiki hubungan denganmu?" tanya Abram penuh penekanan. 


"Tentu saja salah. Aku ini bukan lagi janda, tetapi wanita bersuami." Gisela menimpali dengan ketus. Berusaha keras melepaskan cekalan tangan Abram. 


"Loh, tapi suami kamu itu bukankan seorang lelaki yang beristri, tapi masih bisa dekat dengan wanita lain  bahkan tinggal satu atap dengannya. Memangnya kamu tidak curiga?" Abram berusaha memanasi.


Apa pun caranya, ia akan membuat rumah tangga Gisela dan Dirga hancur. 


Namun, ternyata lelaki itu tidak patah semangat. Terus mengejar Gisela ke mana pun kaki wanita itu melangkah.

__ADS_1


"Gis! Jangan pergi! Bukalah mata hatimu kalau suami kamu itu brengsek!" kata Abram. Menghentikan langkah kaki Gisela saat itu juga. 


Wanita hamil itu berbalik dan menatap Abram dengan sorot mata yang tajam. Ia merasa murka kepada lelaki itu. "Seharusnya kamu sadar, Mas. Kalau dirimu juga tidak berbeda jauh. Justru lebih parah. Apa kamu lupa ketika kita masih berstatus sebagai suami-istri dulu, kita seatap, tapi kamu justru tidur sekamar dengan wanita lain? Itu lebih menyakitkan, Mas!" 


Abram pun terdiam. Ia benar-benar menyesal soal itu. Namun, ia tidak mau disalahkan begitu saja. "Tapi dulu aku tidak melakukan itu ketika kamu hamil. Sementara sekarang? Lelaki brengsek itu hanya menanam benih saja, tetapi masih memberikan perhatian kepada wanita lain. Tidak peduli kepada istrinya yang sedang hamil. Bukankah itu brengsek namanya?" 


Gisela terdiam dan menahan air matanya agar tidak terjatuh. Batinnya terluka ketika mendengar ucapan Abram tersebut. Seandainya lelaki itu mengetahui kalau benih yang sedang dikandungnya adalah anaknya, mungkinkah lelaki itu tetap akan berbicara seperti itu. 


Sebelum air matanya tumpah, Gisela memilih pergi meninggalkan Abram. Ia tidak mau hatinya makin terluka karena kenangan bersama lelaki itu juga ucapannya yang begitu menyakitkan. 


"Gis!" Abram ternyata masih terus mengejar Gisela. Lelaki itu tidak menyerah sama sekali. 

__ADS_1


"Apa! Jangan kejar aku lagi, Mas! Aku harap kamu diam dan tidak berbicara apa pun lagi! Karena kelak suatu ketika jika kamu mengetahui kebenarannya maka kuharap kamu tidak akan pernah menyesal!" bentak Gisela. Air mata wanita itu sudah tumpah. Membuat Abram bergeming di tempatnya. Setelahnya, Gisela pun bergegas pergi meninggalkan Abram begitu saja. 


"Kebenaran apa? Kebenaran kalau itu adalah anakku?" Abram tersenyum sinis ke arah Gisela. 


__ADS_2