Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 62


__ADS_3

..."Aku berusaha percaya kepadamu meskipun  aku tidak yakin ucapanmu itu adalah kebenaran atau bukan. Seandainya semua hanyalah sandiwara untuk menutupi pengkhianatanmu. Maka percayalah, aku akan pergi sejauh mungkin darimu." ...


...****************...


"Pergilah! Kamu tidak diharapkan di sini," usir Dirga kepada Abram ketika mereka baru saja masuk ke ruangan Jane. 


"Aku hanya ingin melihat kehancuranmu. Pengkhianat." Abram membalas disertai tatapan sengit.


"Pengkhianat? Seharusnya kalimat itu lebih cocok untukmu." Dirga tersenyum licik, sedangkan Abram yang merasa begitu kesal pun bergegas pergi. Namun, ia tidak akan melepaskan Gisela begitu saja.


Selepas kepergian Abram, Dirga pun segera mendekati brankar dan berdiri di samping Gisela. Bahkan, tanpa malu dan tidak sedikit pun peduli pada tatapan Jane yang tampak tidak rela, Dirga tetap merangkul pundak istrinya dengan mesra. 


"Jane, ini Gisela. Istriku." Dirga memperkenalkan. Hati Gisela pun merasa lega karena Dirga benar-benar memperkenalkan dirinya sebagai istri di depan wanita lain. 


Lelaki itu memang jujur. 

__ADS_1


"Hai, Nona Gisela. Nama saya Jane. Salam kenal. Maaf kalau selama ini aku sudah merepotkan suamimu." Jane tersenyum.


Gisela pun menanggapi ucapan wanita itu dengan senyuman meskipun merasa cemas ketika mendengar nada bicara Jane yang penuh penekanan. Terdengar tidak ikhlas. 


"Tidak apa. Aku berharap semoga kamu cepat sembuh," ujar Gisela dan langsung diamini oleh mereka. 


Setelah cukup lama mengobrol hal yang tidak tentu, Gisela pun berpamitan pulang. Namun, bukan Dirga yang mengantar karena lelaki itu masih mengawasi Jane yang sedang sedikit drop. 


Wanita hamil itu diantar oleh Jeni dan kebetulan sekali saat ini Gisela ingin mendengar penjelasan dari Jeni. 


Setibanya di rumah, Gisela langsung mengajak Jeni untuk menuju ke ruang keluarga. Meminta wanita itu untuk duduk bersama. Awalnya Jeni merasa ragu, tetapi melihat sorot mata Gisela yang tidak seperti biasa, membuat gadis itu dengan segera mendudukkan bokongnya. 


Hening. 


Suasana di sana hening sesaat sampai akhirnya Gisela berdeham cukup keras untuk memecah keheningan tersebut. 

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah tahu maksudku mengajak kamu berbicara di sini, Jen." Gisela bersandar sembari menghirup napas dalam. Ia harus bisa menahan emosi.  


"Maafkan saya kalau sudah menyakiti hati Anda, Nona. Tapi, kalau boleh saya memohon, biarkan Tuan Dirga menjaga adik saya. Hanya Jane yang saya miliki saat ini," tutur Jeni. 


"Aku kecewa dengan kalian. Kenapa tidak jujur sejak awal? Seandainya kalian mengatakan yang sebenarnya, mungkin hatiku tidak akan sesakit ini. Sebagai seorang wanita, aku yakin kamu pasti bisa merasakan apa yang kurasakan." Gisela berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh. 


Ia tidak boleh lemah. Ia harus bisa kuat dan mampu menghadapi semuanya. 


Sementara Jeni? Gadis itu merasa bimbang. Tidak tega melihat Gisela yang sebenarnya terluka. Akan tetapi, ia juga tidak ingin hidup adiknya menderita. Apa pun akan Jeni lakukan untuk kebahagiaan sang adik.


"Maaf, Nona. Saya benar-benar minta maaf." Jeni bersimpuh di depan Gisela. Menangkup kedua tangan di dada bahkan mata gadis itu tampak berkaca-kaca. 


"Bangunlah! Aku tidak suka ada orang yang bersimpuh di depanku!" Suara Gisela meninggi, tetapi Jeni tetap bergeming pada posisinya. 


"Nona, percayalah kalau Tuan Dirga sangat mencintai Anda. Bahkan, beliau mengancam saya jika sampai Anda terluka meskipun hanya sedikit luka. Adik saya yang sangat mencintai Tuan Dirga. Meskipun saya tahu kalau Tuan Dirga tidak mencintai Jane, tapi saya ingin melihat adik saya tersenyum bahagia," papar Jeni. Ia akan mengatakan semuanya agar hatinya merasa lega. 

__ADS_1


"Kamu egois, Jen!" protes Gisela. Merasa marah kepada gadis di depannya. 


__ADS_2