
Tidak ada malam pertama yang panas, tidak ada percintaan yang dipenuhi dengan desah*n dan erangan apalagi kontak fisik. Gisela dan Dirga memang tidur dalam satu ranjang, tidak berbatas guling, tetapi Dirga benar-benar membuktikan ucapannya. Ia sama sekali tidak menyentuh Gisela meskipun hati dan hasratnya sangat menginginkan wanita itu.
Ia berusaha menghargai Gisela dan tidak ingin melakukan percintaan dengan paksaan. Yang ia inginkan mereka melakukan itu dengan ikhlas suatu saat nanti. Entah kapan, Dirga pun hanya bisa berdoa semoga bisa secepatnya.
Terbangun pukul lima pagi, senyum Dirga mengembang tatkala ia menatap wanita hamil yang masih terlelap di sampingnya. Bibir wanita itu sedikit terbuka dan dengkuran halus terdengar masuk pendengaran Dirga. Bukan merasa risih, Dirga justru menganggap Gisela tampak menggemaskan.
"Kamu cantik, tapi sayang ...." Embusan napas Dirga memecah keheningan di kamar itu. Lelaki itu pun memilih bangkit dan membersihkan diri sebelum larut pada keadaan dan bisa berpengaruh pada suasana hatinya. Selain itu, ia juga masuk sift pagi dan harus segera bersiap. Sebelum beranjak ke kamar mandi, Dirga terlebih dahulu mengecup kening Gisela sangat lembut agar tidak membangunkan wanita itu.
Seusai membersihkan diri dan berpenampilan rapi, Dirga berangkat ke tempat kerja tanpa membangunkan Gisela. Ia tidak mau mengganggu tidur wanita itu. Dirga hanya berpamitan kepada mertuanya dan memberikan beberapa pesan jika Gisela terbangun nanti. Dirga khawatir Gisela akan mencari dirinya meskipun hal itu belum tentu terjadi.
Ketika sinar matahari sudah mengintip dari balik tirai, dengan perlahan Gisela merentangkan kedua tangan. Melemaskan ototnya yang terasa kaku. Ia masih beberapa kali menguap padahal sudah cukup lama tertidur lelap. Entah mengapa, Gisela merasa semalam bisa tertidur sangat pulas dan nyaman.
__ADS_1
Baru saja membuka kedua mata, Gisela segera terduduk dan berlari ke kamar mandi ketika merasakan mual. Bahkan, ia memuntahkan makanan yang ditelannya semalam. Ia muntah sampai perutnya terasa kosong dan hanya cairan yang keluar. Gisela pun terduduk lemas di samping wastafel.
"Ya Tuhan. Tenggorokanku tidak enak sekali," gumam wanita itu. Memejamkan mata sebelum rasa pusing kian mendera.
Setelah merasa dirinya sudah terasa lebih baik, ia pun segera menggosok gigi dan membasuh muka. Tiba-tiba terlintas dalam bayangan Gisela kalau dirinya sangat ingin makan nasi uduk dan kerupuk udang. Air liurnya serasa menetes ketika membayangkan makanan tersebut masuk ke mulutnya.
"Apakah ini yang dinamakan ngidam?" Gisela tersenyum simpul sembari mengusap perutnya yang masih datar. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera bertemu buah hatinya. "Sehat selalu di perut mama, Sayang. Mama akan selalu menjagamu."
Gisela pun kembali ke kamar dan bersiap untuk mencari apa yang ia inginkan. Ia berganti baju, lalu bersiap hendak pergi. Namun, perhatian Gisela teralihkan pada termos kecil dan cangkir yang masih tertelungkup di atas nampan.
'Selamat pagi, Gisela ... istriku :)
__ADS_1
Maafkan aku harus pergi bahkan sebelum kamu terbangun. Hari ini aku masuk pagi dan tidak tega mengganggu tidurmu. Jadi, aku memutuskan untuk berangkat tanpa berpamitan langsung kepadamu.
Oh, iya. Kalau semisal kamu bangun dan merasakan mual, maka minumlah air jahe yang sudah aku sediakan untukmu. Itu bisa untuk mengurangi rasa mual. Sudah aku siapkan di dalam termos agar tetap hangat sampai kamu bangun nanti. Jangan lupa sarapan dan minum vitamin yang sudah aku sediakan di laci nakas.
Sudah itu saja. Aku akan pulang saat makan siang nanti. Jangan lupa selalu jaga diri.
Aku mencintaimu, Gisela Thania Ayudia.'
Gisela terdiam seusai membaca tulisan tersebut. Ada rasa haru yang ia rasakan ketika menyadari betapa Dirga sangat perhatian padanya. Bukan hanya dengan dirinya, tetapi juga dengan janin yang ada di perut Gisela.
Padahal, Gisela justru lupa kalau ia dan Dirga telah menikah. Status mereka saat ini adalah suami-istri. "Sayang, aku tidak menyangka kalau Dirga ternyata juga sangat memikirkanmu bahkan ia menerima kamu dengan sangat baik padahal kamu bukanlah darah dagingnya."
__ADS_1
Gisela mengusap perutnya secara lembut, sebelum akhirnya ia mengusap kedua sudut matanya karena ada cairan bening yang hendak memaksa keluar dari sana.
Tidak ingin terlalu larut pada perasaan, Gisela pun kembali bersiap untuk pergi dan mencari makanan yang ia inginkan saat ini. Jangan sampai anaknya ileran kalau tidak dituruti, begitulah katanya