Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 73


__ADS_3

"A-aku harus pergi, Mas." Gisela hendak menjauh dari Abram. Tidak ingin berlama-lama di dekat lelaki itu. Namun, Abram langsung menahan cepat. 


"Jangan pergi, Gis. Biarkan aku menyentuh calon anakku," ucap Abram penuh memohon. Dengan cepat, Gisela menghempaskan tangan Abram lalu menyentuh perutnya sangat erat. Khawatir Abram benar-benar akan menyentuhnya lagi. 


"Dia bukan anakmu," sergah Gisela sembari menggeleng cepat. 


"Jangan berbohong, Gis. Dia itu anakku. Aku sudah tahu kebenarannya. Dirga sudah menceritakan semua," kata Abram membuat Gisela begitu tercengang. 


"Di-Dirga?" tanya Gisela tidak percaya.


"Ya. Dia bilang menikah denganmu karena tidak ingin kamu melahirkan bayi tanpa sosok ayah. Padahal kalau aku tahu itu anakku, aku tidak akan melepaskan begitu saja. Aku mau bertanggung jawab demi buah hatiku." Abram tampak memohon. Namun, Gisela menggeleng cepat. 

__ADS_1


Wanita itu begitu marah dan kesal terlebih kepada Dirga karena sudah mengatakan semuanya kepada Abram. Hal yang sudah seharusnya tidak dilakukan oleh lelaki itu. Namun, kini Gisela tidak akan bisa menutupi apalagi mengelak lagi. 


"Aku mohon, Gis. Aku tidak akan meminta kamu untuk kembali karena aku yakin kamu akan menolaknya mentah-mentah. Tapi aku mohon dengan sangat kepadamu. Kelak, jika bayi ini sudah lahir, jangan larang aku menemuinya. Aku juga ingin sekali bisa menyentuh anakku." 


Entah mengapa Abram merasa dirinya menjadi sangat cengeng. Sekuat tenaga ia menahan air mata agar tidak terjatuh. Ia tidak ingin menangis di depan Gisela. 


"Aku tidak yakin kamu bisa bertemu dengan anakmu atau tidak, Mas. Maaf. Aku mungkin akan membawanya pergi jauh, tapi aku berjanji akan menjaganya dengan sangat baik." Suara Gisela terdengar berat dan penuh penekanan. Ada emosi yang tertahan dari setiap kalimat yang diucapkannya. 


"Aku tidak bisa terus bertahan jika terus dilukai. Maaf aku harus pergi, Mas. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu dan mendapat anak yang berbakti dari wanita yang kamu cintai kelak. Jangan pernah kejar aku." 


Gisela bergegas pergi meninggalkan Abram begitu saja. Ia ingin menjauh dari lelaki itu. Menjauh sejauh mungkin karena Gisela kini menyadari kalau tidak seharusnya ia bersikap lemah seperti ini. Beberapa kali Gisela mengusap air mata yang terus membasahi wajahnya. 

__ADS_1


Setibanya di rumah, Gisela langsung masuk ke kamar. Menguncinya sangat rapat karena khawatir orang tuanya akan masuk ketika ia sedang meluapkan segala perasaan yang begitu menekan dada. 


Gisela menangis sejadi-jadinya. Membiarkan air matanya tumpah begitu saja. Untuk saat ini ia hanya ingin hatinya merasa lega meski beban di hatinya tidak mungkin menghilang. Setidaknya memudar secara perlahan. 


"Kamu harus kuat, Sayang. Maafkan mama, Nak." Gisela sedikit meringis saat merasakan perutnya nyeri. Mungkin karena sedang banyak pikiran membuat kehamilannya sedikit terganggu. 


Beberapa kali Gisela menghirup napas dalam dan mengembuskan dengan cepat untuk mengurangi rasa sesak itu. Lalu ia pun berusaha agar kembali tenang karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon buah hatinya. 


Ketika suasana di kamar mulai hening karena tangisan Gisela yang sudah mereda. Terdengarlah bunyi ponsel berdering tiada henti, Gisela pun merasa enggan untuk menerima panggilan dari Dirga tersebut. Bahkan ia hendak mematikan benda pipih itu. Namun, gerakannya terhenti ketika ada sebuah pesan masuk. 


Sebelum mematikan ponselnya, Gisela terlebih dahulu membuka pesan itu karena ia merasa begitu penasaran. Sebuah pesan dari Dirga yang membuatnya terdiam cukup lama. 

__ADS_1


__ADS_2