
Sudah sejak tiga hari lalu, Gisela merasa tidak enak badan. Ia merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Ia selalu saja mual di pagi hari dan tidak bisa makan nasi. Setiap kali ada nasi masuk meskipun hanya sebutir, wanita itu akan langsung merasakan mual yang sangat hebat.
"Ya Tuhan, ini menyakitkan. Sepertinya aku harus ke dokter," gumam Gisela sangat lirih. Ia berjalan pelan kembali ke ranjang karena tubuhnya sudah sangat lemas.
"Gis, sudah waktunya kamu berangkat," panggil Vera.
Wanita paruh baya itu terheran ketika melihat Gisela sedang berbaring dan wajahnya terlihat lesu juga pucat. Bahkan, sangat terlihat jelas kalau Gisela tidak memiliki tenaga sama sekali. Sangat lemas.
"Kamu sakit?" Vera panik sendiri. Ia mengusap kepala putrinya dan makin merasa heran saat tidak merasakan panas di sana. Lantas, kenapa Gisela tampak sangat pucat. Itulah yang terbesit dalam benak Vera saat ini.
"Iya, Ma. Kayaknya aku masuk angin karena keseringan begadang, deh." Gisela menjawab lesu.
"Kalau begitu, lebih baik kamu jangan ke kantor dulu. Nanti biar mama panggilkan dokter untukmu." Vera mengecup kening Gisela.
Tidak ada yang dilakukan Gisela selain mengangguk dan masih dalam posisi rebahan di atas ranjang. Ia memejamkan mata ketika melihat Vera keluar dari kamarnya dan beberapa menit kemudian Hendarto masuk dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Kamu sakit, Gis." Hendarto mengusap puncak kepala putrinya. "Tapi badanmu tidak panas sama sekali."
"Entahlah, Pa. Aku mual sekali. Sepertinya aku masuk angin karena sering begadang akhir-akhir ini," sahut Gisela lirih karena masih lemas.
"Kalau begitu lebih baik sekarang kamu istirahat saja. Biar pekerjaan kamu nanti dihandel yang lain. Papa berangkat dulu. Biar setelah ini dokter memeriksamu," kata Hendarto. Mengecup kening Gisela sangat lama lalu berpamitan pergi.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Gisela pun segera memejamkan mata dan berusaha agar bisa tidur. Berharap setelah terbangun nanti, tubuhnya sudah lebih baik dan rasa mual itu sudah benar-benar hilang.
__ADS_1
Setengah jam lebih Gisela tertidur dan ia harus membuka mata ketika sang mama masuk ke kamar. Gisela awalnya merasa senang, tetapi ketika melihat Dirga berjalan di belakang Vera, seketika membuat Gisela merasa sangat kesal dan langsung memalingkan wajah.
Kenapa harus dia lagi. Hati Gisela menggeram sendiri.
"Hai, Gis. Kamu sakit?" tanya Dirga lembut. Berdiri di samping ranjang dan menatap wajah Gisela yang masih terlihat sedikit pucat.
"Bukankah kamu lihat sendiri. Lagian kenapa kamu yang datang ke sini? Yang aku tahu kalau dokter itu sibuk, tapi kenapa kamu seringkali muncul." Gisela tidak mau lagi berbasa-basi. Ia menunjukkan ketidaksukaan kepada Dirga.
Namun, Dirga justru tersenyum lebar ketika melihat Gisela yang bersikap ketus seperti itu. "Sesibuk apa pun aku, kalau ada orang sakit dan butuh pemeriksaan maka aku tidak bisa menolaknya."
"Ish!" Gisela berdecak cukup keras.
"Gis, jangan seperti itu. Tidak baik. Nak Dirga sudah jauh-jauh ke sini padahal dia baru saja pulang sift malam. Lagi pula, mama lebih sreg kalau Nak Dirga yang memeriksamu," ucap Vera.
Gisela pun tidak bisa mendebat lagi. Ia hanya diam dan membiarkan Dirga memeriksanya. Ketika telah selesai memeriksa, wajah Dirga menjadi sangat susah dijelaskan hingga membuat Gisela merasa was-was. Ia merasa takut jika ternyata dirinya mengidap penyakit berbahaya dan mematikan.
"Semua baik, Tante. Tidak ada penyakit yang serius," sahut Dirga sopan.
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu? Kamu tahu, aku khawatir mengidap penyakit berbahaya," kata Gisela jujur.
Dirga menatap Gisela sangat lekat sembari terus menghela napas panjangnya. "Gis, bolehkah aku bertanya padamu? Ini sedikit privasi dan menyangkut apa yang sedang kamu alami saat ini."
"Apa?" tanya Gisela tidak sabar.
__ADS_1
"Em ... apa kamu sudah terlambat datang bulan sekarang?" tanya Dirga hati-hati.
"Ya, seharusnya dua minggu lalu aku datang bulan." Gisela menjawab santai sebelum akhirnya wajahnya menegang. Ia mulai menerka banyak hal saat mengingat itu.
Gisela pun sedikit mendongak dan menatap Dirga yang sudah mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Sepertinya ia tahu apa yang sedang dialami saat ini. Memang bukan penyakit berbahaya, tetapi mampu membuat batin Gisela serasa tertekan dan jantungnya seakan meledak saat itu juga.
"Ja-Jangan bilang ...."
"Ya. Kemungkinan kamu hamil," sela Dirga.
Wajah Gisela pun memucat saat mendengar hal itu. Begitu juga dengan Vera yang langsung menghujami banyak pertanyaan karena masih belum percaya. Namun, ketika Gisela dipaksa melakukan tespack, suasana di kamar itu pun mendadak tegang saat alat itu menunjukkan garis dua.
🤪🤪
Ku menangis .....
Gisel! Gisel! Hamil 'kan, lu.
wkwkwk
Oe, Thor! Sinetron amat.
wkwkwk
__ADS_1
selamat menikmati cerita ini ya guys.
I love you all 😘