
"Jangan lakukan apa pun padaku, Mas. Aku mohon." Gisela tampak memelas. Takut Abram akan bertindak kasar. Bukan dirinya yang ia khawatirkan sekarang, tetapi calon buah hatinya.
Abram hanya diam dan melirik Gisela dari kaca kecil depan. Sudut bibirnya tertarik ketika menyadari kalau sejak tadi, Gisela terus saja menutupi perutnya. Seolah khawatir kalau ia akan mengetahui kehamilan wanita itu.
"Kamu mau ke mana biar aku mengantarmu?" tanya Abram. Suaranya tidak sekeras tadi bahkan terdengar lembut seperti sebuah rayuan. Membuat Gisela langsung merasa waspada.
Gisela menggeleng cepat. "Tidak, Mas. Aku akan pergi sendiri saja."
"Kamu yakin akan pergi sendiri? Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat kepadamu?" tanya Abram lagi disertai seringai licik.
Kalau memang ada maka orang itu adalah kamu, Mas.
Gisela hanya berani berbicara seperti itu di dalam hatinya.
"Ah, aku tahu. Apa kamu akan memergoki perselingkuhan suami kamu?" Abram tersenyum licik, sedangkan Gisela sedikit mendongak dan menatap Abram yang saat ini sudah berbalik menatap ke arahnya.
"Ma-maksud kamu apa, Mas?" Gisela begitu menuntut jawaban.
__ADS_1
"Hahaha. Aku yakin kalau kamu tidak tahu suami kamu itu berselingkuh dan sekarang selingkuhannya sedang dirawat di rumah sakit."
"Jangan bercanda, Mas!" Gisela menyela cepat. Seiring aliran darahnya yang berdesir hebat.
Mungkinkah ini yang membuat Dirga pulang sangat malam bahkan tadi lelaki itu pergi dengan terburu. Apakah juga wanita itu adalah Jeni, karena pas sekali Jeni sejak kemarin tidak bekerja dengan alasan sakit.
Gisela menggeleng, berusaha menepis rasa curiga dan khawatir yang ia rasakan. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau itu hanyalah akal-akalan Abram saja untuk merusak rumah tangganya. Namun, setengah hati merasa kalau ucapan Abram mungkin ada benarnya.
"Diamlah dan aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Abram pun mulai melajukan mobil Gisela, sedangkan mobilnya sendiri akan diurus anak buahnya.
Selama mobil melaju, hanya keheningan yang tercipta di antara dua orang itu. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya mobil berhenti di pelataran rumah sakit dan di saat itulah jantung Gisela mulai berdebar kencang.
"Aku mau pulang saja." Gisela menahan diri, tetapi Abram memaksa wanita itu untuk tetap turun dari mobil.
"Kamu tenang saja. Aku yakin pasti suami kamu terkejut melihat kedatanganmu ke sini." Abram menyeringai. Sudah tidak sabar ingin melihat pertengkaran antara Gisela dan Dirga.
"Tunggu dulu, Mas. Dari mana kamu tahu kalau aku sudah menikah?" Gisela menatap Abram curiga.
__ADS_1
"Itu tidak penting, karena yang terpenting sekarang adalah kamu menemui suamimu."
Dengan sedikit memaksa, Abram menarik tangan Gisela dan mengajak wanita untuk masuk. Awalnya Gisela menolak dan berusaha melepaskan tangan Abram, tetapi akhirnya ia hanya menurut.
Langkah Abram terhenti di depan sebuah ruangan kelas VIP. Sudut bibirnya tertarik sebelah, berbeda dengan Gisela yang sudah terlihat sangat gugup.
"Ma—"
Belum juga Gisela selesai berbicara, pintu ruangan sudah terbuka dan Abram mengajak masuk. Orang yang berada di dalam pun begitu terkejut melihat kedatangan kedua orang itu. Terutama kedatangan Gisela.
"Lihatlah."
Gisela mendongak dan terperanjat ketika melihat Dirga sedang duduk di tepi brankar sembari menyuapi seseorang yang sedang duduk bersandar kepala brankar dengan wajah pucat. Selain mereka, Gisela juga terkejut melihat Jeni yang sedang duduk di sofa.
"Gisel."
"Nona Muda."
__ADS_1
Panggil Dirga dan Jeni bersamaan.
"I-Ini apa maksudnya?" tanya Gisela terbata. Kedua mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.