Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 71


__ADS_3

Prang! 


Abram membanting camgkir yang barusan sedang dipegang hingga membuat kopi di dalamnya tumpah. Wajah lelaki itu terlihat  memerah, sedangkan anak buahnya hanya berdiri menunduk tidak jauh darinya. 


"Jangan ngarang! Mana mungkin itu anakku! Aku tidak percaya!" bentak Abram. Suaranya begitu menggelegar memenuhi ruangan. 


"Maaf, Tuan. Dari informasi yang saya dapat seperti itu. Kemungkinan itu anak Anda karena usia pernikahan dan kehamilan Nona Gisela, selisih sekitar enam mingguan dan lebih dulu kehamilan Nona Gisela," terangnya berusaha menjelaskan. 


"Bisa saja itu anak dokter brengsek itu! Karena Gisela pun sudah dekat dengan dia ketika masih menjadi istriku," tuduh Abram. Lelaki itu benar-benar tidak terima. 


"Bagaimana kalau Anda menemui Tuan Dirga dan menanyakan semuanya. Aku yakin kalau Tuan Dirga pasti tahu lebih jelas kebenarannya," cetus anak buah Abram. 


Awalnya Abram hanya diam dan memikirkan. Namun, ia pun tidak menepis saran dari anak buahnya begitu saja. Dengan gerakan cepat ia mengambil jas yang tergeletak di kursi dan bergegas pergi meninggalkan ruangannya. 


Tujuan Abram saat ini adalah rumah sakit. Apa pun caranya ia harus bisa mendapatkan informasi sejelasnya tentang Gisela. Jangan sampai mendapat informasi yang salah. 


Tepat ketika Abram hendak menemui Dirga, ternyata lelaki itu baru saja selesai bekerja dan sedang bersiap hendak pulang. 


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Dirga memberi tatapan tidak suka kepada Abram. 

__ADS_1


"Aku ingin berbicara denganmu. Tapi jangan di sini karena ini pembicaraan penting," sahut Abram. 


"Memangnya apa yang akan kamu bicarakan? Sepenting apa?" 


"Jangan banyak bertanya. Lebih baik sekarang kita pergi ke kafe." 


Abram pun melangkah pergi meninggalkan Dirga. Merasa penasaran hal apa yang akan dibicarakan oleh Abram, dengan bermalasan Dirga menuruti keinginan lelaki itu untuk berbicara berdua. 


Di sinilah mereka sekarang, di dalam private room yang tersedia di kafe tersebut. Hanya ada mereka berdua. Baik Dirga maupun Abram sama-sama terdiam untuk beberapa saat. 


"Katakan hal apa yang akan kamu bahas. Jangan membuang waktuku hanya untuk hal yang tidak penting," kata Dirga ketus karena tidak sabar. 


Dirga terdiam beberapa saat karena merasa bimbang ketika hendak menjawabnya. "Untuk apa kamu bertanya hal seperti itu. Memangnya penting?"


"Brengsek! Jangan memancing emosiku. Aku hanya ingin tahu kenyataan yang sebenarnya." Abram mulai kehilangan kendali apalagi ketika melihat senyum sinis dari sebelah sudut bibir Dirga. 


"Tentu saja itu anakku. Memang anak siapa lagi? Ingat, kamu sudah bercerai dari Gisela." Dirga berusaha terlihat tenang meskipun dalam hati lelaki itu merasa khawatir Abram akan mengetahui semuanya. 


"Kamu yakin sudah menjawab jujur?" tanya Abram memastikan dan hanya ditanggapi anggukan oleh Dirga. "Kalau memang anakmu, bisakah kamu jelaskan kenapa usia pernikahanmu dengan kehamilan yang dialami Gisela selisih enam minggu. Apakah kamu sudah menghamili Gisela sebelum menikahinya?" 

__ADS_1


Untuk kali ini, Dirga hanya bisa diam dan tidak tahu harus menjawab apa. Ia benar-benar bingung bagaimana menjelaskannya. Melihat Dirga yang hanya diam dan wajahnya diselimuti kebimbangan, Abram pun menarik sebelah sudut bibirnya lalu mengambil benda pipih dari dalam saku celana. 


"Bunuh saja wanita bernama Jane karena lelaki ini tidak mau mengatakan ...." 


Ucapan Abram terhenti ketika Dirga sudah merebut ponsel miliknya dan bahkan mematikan panggilan tersebut dengan cepat. 


"Kamu jangan gila!" bentak Dirga geram. Namun, Abram tidak merasa takut sama sekali. 


"Aku hanya ingin kamu mengatakan yang sejujurnya. Kalau kamu tidak mau maka biarlah anak buahku membunuh pasien kesayanganmu itu," kata Abram tenang. 


"Jangan lakukan apa pun kepada Jane. Aku akan berbicara yang sebenarnya." Dirga pun memilih mengalah dan tidak memiliki pilihan lain lagi. 


"Katakan sekarang juga." Tatapan Abram begitu lekat ke arah Dirga. Lelaki itu sungguh tidak sabar ingin segera mendengar kenyataan yang sebenarnya. 


"Ya. Itu adalah anakmu. Aku menikah dengan Gisela ketika wanita itu sedang hamil enam minggu. Kuharap kamu tidak melupakan kejadian ketika kamu sedang mabuk di sebuah klub malam dan di saat itu kamu mengajak Gisela bercinta secara paksa." 


Jantung Abram berdetak sangat cepat ketika berusaha mengingat kejadian itu. 


"Ya Tuhan." Abram pun mengusap wajahnya secara kasar, sedangkan Dirga merasa tidak tenang setelah mengatakan yang sejujurnya. 

__ADS_1


__ADS_2