Aku Menyerah, Mas!

Aku Menyerah, Mas!
AMM 38


__ADS_3

"Kita mau ke mana memangnya, Mas?" tanya Stevani saat mereka sedang dalam perjalanan karena sebelumnya Abram tidak pernah mengatakan mereka akan pergi ke mana. 


"Rumah. Kita akan jenguk mama. Dia baru saja kecelakaan," sahut Abram tanpa mengalihkan perhatian dari setir kemudi. 


"Kecelakaan? Kapan? Kenapa aku tidak tahu." Stevani menatap suaminya yang masih begitu konsentrasi. 


"Kemarin." Abram menjawab singkat. 


Obrolan itu pun terhenti ketika mobil yang dikemudikan Abram sudah sampai di depan rumah. Abram pun mengajak Stevani agar segera turun. 


Wanita itu merasa ragu saat melangkah masuk ke rumah mewah tersebut. Ia masih sadar kalau kehadirannya tidak pernah diharapkan oleh mama mertuanya. Namun, Stevani juga tidak mungkin mundur. Ia akan mencoba mendekati Farah dan merebut perhatian wanita paruh baya tersebut. Entah apa pun caranya. 


Ketika baru saja masuk ke rumah, mereka langsung disambut Farah yang sedang duduk di depan televisi. Abram pun menyalami wanita paruh baya tersebut. Akan tetapi, ketika Stevani hendak menyalami, Farah justru membiarkan tangan Stevani menggantung di udara. Dengan hati yang kesal, Stevani pun menarik tangannya kembali. 

__ADS_1


"Duduk, Stev." Abram memberi perintah untuk mengurangi kecanggungan di sana. 


"Inggrid sedang sakit, Bram. Kamu tidak menjenguknya?" tanya Farah tanpa peduli pada Stevani. 


"Tidak. Untuk apa aku menjenguknya?" Abram bertanya balik dengan malas. Ia bahkan kesal dengan sang mama karena sudah menyebut nama wanita lain di depan istrinya. Ekor mata Abram melirik ke samping dan melihat Stevani yang berkali-kali mendengkus kasar. 


"Ingat, dia itu anak teman baik mama. Sudah seharusnya kamu juga memperhatikan dia. Lagi pula, kurang dia apa? Sudah cantik, baik, dari kalangan atas, dan ya ... sempurna dan sangat cocok—"


Abram pun mengajak Stevani agar segera pergi dari sana. Ia tidak mau kalau ucapan sang mama terus menyakiti hati istrinya. Farah sudah melarang, tetapi Abram tetap saja pergi. Membuat Farah merasa kesal kepada putranya apalagi tadi ia sempat melihat Stevani yang tersenyum penuh kemenangan. 


"Mas, aku tidak mau lagi datang ke rumah mama kamu. Aku tidak suka mama kamu berbicara seperti itu!" Stevani mengungkapkan kekesalannya ketika mereka baru saja sampai rumah.


Abram tidak menyahut karena ia tidak ingin memihak siapa pun. Kedua wanita itu sangat berharga untuknya. Jadi, Abram lebih memilih untuk dia agar tidak ada perselisihan. 

__ADS_1


"Mas, kenapa kamu diam saja? Kamu terima istrimu disakiti seperti ini?" Stevani mulai naik darah karena merasa Abram tidak peduli padanya, terutama pada perasaan wanita itu. 


"Aku diam karena aku peduli. Kalau aku tidak peduli padamu, untuk apa aku mengajak kamu untuk segera pulang." Abram mulai berbicara ketus. 


"Aku benci mama kamu! Dia sudah tahu kalau aku ini istrimu. Masih saja berbicara seperti itu. Melarang kita menikah secara resmi dan malah menyebut nama wanita lain di depan anak menantunya. Apakah Mama kamu tidak bisa berpikir dengan baik!" 


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Stevani. Wanita itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Bertahun-tahun menjalani hubungan dan baru kali ini Abram berani menamparnya. Rasanya memang sakit, tetapi hati Stevani lebih sakit. 


Menyadari apa yang sudah dilakukan, Abram pun segera mendekati Stevani dan memeluk wanita itu sangat erat. Walaupun Stevani terus meronta, tetapi Abram tetap memeluknya erat.


"Ma-maafkan aku sudah kelepasan." 

__ADS_1


__ADS_2